Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: 02/12/18

Senin, 12 Februari 2018

Keputusan



(Sudut pandang Maisah)
*tuutt… tuutt…* selalu saja bunyi seperti itu yang aku dengar, sudah berkali kali aku memanggilnya namun tidak ada jawaban. Ku hirup udara dengan pelan dan ku hembuskan pula secara perlahan, sungguh malam ini begitu dingin dan aku malah terjebak di pinggir jalan hendak menuju pulang. Dia bilang akan menjemputku tapi hingga waktu menunjukan pukul 8.42 menit tidak juga ia memperlihatkan batang hidungnya yang mancung itu.aah.. aku jadi teringat dengan ceramah Bang Roy di masjid tadi. Gara gara ini aku jadi pusing sendiri, aarrgghhh…
*tiinn.. tiinn…* aku tahu itu dia, tapi aku tak ingin melihat wajahnya karena dia benar benar membuatku sebal. *tiinn.. tiinn…* klakson itu berbunyi lagi membuatku berhenti melangkah namun aku membelakanginya.
Assalamu’alaykum…maaf… maaf yah, “ aku masih tidak ingin menoleh padanya,aku merasa lenganku ditarik dan terpaksa aku harus menghadap kearahnya. Aku melihatnya hanya sekilas tapi aku masih sempat melihat wajahnya yang memelas.
“wa’alaykumsalam…”
“please… maaf yah, maaf karena aku terlambat menjemputmu dan maaf aku tak menjawab telepon darimu.” Ia memohon padaku.
“terserahlah… sekarang aku mau pulang.” Aku tak ingin menanggapi omongannya dan langsung saja berjalan menghampiri motornya yang diparkir tidak jauh dari kami berdiri. Aku naik dan duduk di jok belakang, ia berjalan menghampiriku tapi tidak menyalakan mesin motornya, ia malah duduk membelakangiku.
“jalan.” Perintahku
“kau marah?” tanyanya, aish… apa aku harus menjelaskannya?!
“aku capek, jadi cepatlah antar aku pulang.” Kataku dengan sedikit nada tinggi. Syukurlah ia menurut dan mulai menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya kejalan.
15 menit kemudian, sampai dirumah, aku langsung turun dari motor dan tak lupa aku ucapkan terima kasih padanya karena telah menjemputku walau terlambat dan pulang dengan terlambat juga tentunya. Tanpa aku pinta ia ikut turun dari motor dan mendekatiku, aku menatapnya dengan malas.
“kau marah padaku? Aku minta maaf…” katanya, aku menatapnya lagi.
“sudah malam, kau pulang saja.”
“kalau marah bilang saja, aku minta maaf Maisah…”
“sudahlah, aku sudah ngantuk.”
“aku lebih suka kau mengomeliku dan membentakku habis habisan walau mengerikan, aku tidak suka kau mendiamiku seperti ini.” Terangnya, aku menatapnya lagi, lalu tersenyum kecil namun terlihat seperti dipaksakan, tapi yah memang begitulah.
“aku tidak perlu marah padamu, lagi pula tidak ada gunanya Rudi, pulang saja. kau pasti lelah juga kan?! Aku masuk dulu, assalamu’alaykum…” Aku beranjak meninggalkannya, aku benar benar lelah dan aku urungkan niatku tadi yang hendak membentaknya habis habisan karena toh itu tidak ada gunanya. Aku kan mengakhiri semuanya, bukan karena aku tidak mencintainya, tapi cinta seperti ini apa bisa disebut dengan cinta? Ini hanya nafsu yang memaksakan kami untuk bersama dan terus berada dijalan yang tidak seharusnya kami lewati.
(sudut pandang Rudi)
Aku segera bangun setelah mendengar kokok ayam jago yang berasal dari alarm ponselku. Ku langkahkan kaki menuju pintu kamar mandi dan segera masuk kedalam ruangan itu, 10 menit kemudian aku sudah berada lagi di tepi ranjang. Aku melihat pantulan diriku dicermin, aku berjalan  gontai menuju Lemari bajuku, mebuka pintu itu dan meraih sehelai kemeja putih bergaris vertikal berwarna biru, tak lupa pasangannya celana kain hitam polos dan segera ku kenakan lalu kembali metapan diriku dicermin. 5 menit kemudian, aku telah siap menuju kampus.
“Rud, tadi Maisah menelepon dia bilang tidak perlu menjemputnya, dia sudah ada dikampus.” Aku menoleh pada Ibu ku yang menyampaikan pesan dari Maisah, aku mengangguk lalu mendekatinya yang sedang duduk bersama ayahku. Aku mengulurkan tangan kananku kepada mereka dan mencium tangan mereka untuk pamitan pergi ke kampus.
“kau tidak sarapan dulu nak?” Tanya Ibu, aku menoleh dan tersenyum kecil kepada beliau.
“nanti di kampus saja bu, Rudi pergi dulu, assalamu’alaykum..
Di kampus, Aku berjalan menuju ruang 20, ku edarkan pandanganku kepenjuru ruangan namun tak kulihat maisah disana, kemudian aku berputar kebelakang dan disana ku dapati Maisah bersama seorang pria. Dia senior kami dan mereka terlihat sangat akrab. Aku mendelik sebal lalu segera ku hampiri mereka berdua.
“assalamu’alaykum…” sebelum aku mengucapkan salam, senior yang sedang bersama Maisah sudah mendahuluiku, aku tersenyum kecil lalu membalas salamnya tadi.
“kenapa pergi duluan?” tanyaku kepada Maisah, ia melirikku sekilas lalu kembali kepada senior kami.
“maaf… aku buru buru tadi.” Jawabnya tanpa menoleh kearahku, apakah dia masih marah padaku?
“Maisah, Rudi… abang permisi dulu yah. Oh iya Maisah, semoga berhasil yah.” Seru Senior kami berbalik meninggalkan kami berdua. Aku menatap Maisah meminta penjelasan darinya mengenai sikapnya sekarang.
“aku minta maaf, dan tolong jangan marah lagi.” Ia menetapku lalu tersenyum.
“sebaiknya kita putus saja, masih terlalu awal untuk hubungan seperti ini.” Jawabnya membuatku kaget, aku membulatkan kedua mataku, ini sungguh tak bisa ku percaya.
“maisah… apa maksudmu? Kenapa tiba tiba menjadi seperti ini?”
“tidak tiba tiba, tapi sudah waktunya, aku baru saja mendapat hidayah dari Allah.” Jawabnya lagi, aku semakin sulit memahami keadaan seperti ini, ada apa dengannya?
“apaan sih? Aku tidak mengerti. Apa kau habis terbentur dan terjadi kesalahan di kepalamu itu?” tanyaku lagi,ia malah tersenyum manis.
“maaf Rudi, aku baru sadar dan ini keputusan yang tepat. Hubungan yang istimewa itu setelah kita menikah, tetaplah jadi temanku. “
“apa kau tidak mencintaiku?”
“jangan bertanya seperti itu, jawaban itu akan melukai hatimu.”
“katakan saja Maisah!” aku sedikit membentaknya karena kesal. Dan lagi lagi ia tersenyum padaku.
“aku mencintaimu, dan aku akan menunggumu menyatakannya di depan kedua orang tuaku, selama ini hanya orang tuamu saja yang mengetahui hubungan seperti ini.”
“tapi Allah tahu, “
“benar, maka dari itu. karena Allah tahu dan Allah yang memberikan hidayah kepadaku,”
“aku masih tidak mengerti.”
“jangan mencintai seseorang yang belum menikah denganmu dan bagaimana kau bisa menganggapnya kekasih jika ia saja masih belum halal untukmu. Assalamu’alaykum..,” ujarnya pergi melewatiku yang mematung mendengar kalimatnya tadi. Apa selama ini kami salah? Apa hubungan seperti ini salah?
Dddrrtttt… sebuah pesan masuk di ponselku, segera ku buka dan ku baca.
From : maisah
Tidak ada yang salah, tapi ini sebuah kesalahpahaman dari kita berdua, tunggulah hingga saatnya tiba. Maaf aku harus mengambil keputusan ini.
Segera ku balas pesan darinya,
To : Maisah
Baiklah, semoga rencana kita ada dalam rencana Allah, Sang Khaliq. Aku akan berusaha, aku harap kau tidak berpindah dan aku sungguh sangat berharap kau selalu untukku.


Selesai






Winnie The Pooh Bear Shake