(Sudut pandang Maisah)
*tuutt… tuutt…* selalu saja bunyi
seperti itu yang aku dengar, sudah berkali kali aku memanggilnya namun tidak
ada jawaban. Ku hirup udara dengan pelan dan ku hembuskan pula secara perlahan,
sungguh malam ini begitu dingin dan aku malah terjebak di pinggir jalan hendak
menuju pulang. Dia bilang akan menjemputku tapi hingga waktu menunjukan pukul
8.42 menit tidak juga ia memperlihatkan batang hidungnya yang mancung itu.aah..
aku jadi teringat dengan ceramah Bang Roy di masjid tadi. Gara gara
ini aku jadi pusing sendiri, aarrgghhh…
*tiinn.. tiinn…* aku tahu itu dia, tapi
aku tak ingin melihat wajahnya karena dia benar benar membuatku sebal. *tiinn..
tiinn…* klakson itu berbunyi lagi membuatku berhenti melangkah namun aku membelakanginya.
“Assalamu’alaykum…maaf…
maaf yah, “ aku masih tidak ingin menoleh padanya,aku merasa lenganku ditarik
dan terpaksa aku harus menghadap kearahnya. Aku melihatnya hanya sekilas tapi
aku masih sempat melihat wajahnya yang memelas.
“wa’alaykumsalam…”
“please… maaf yah, maaf karena aku terlambat menjemputmu dan maaf aku tak
menjawab telepon darimu.” Ia memohon padaku.
“terserahlah… sekarang aku mau pulang.”
Aku tak ingin menanggapi omongannya dan langsung saja berjalan menghampiri
motornya yang diparkir tidak jauh dari kami berdiri. Aku naik dan duduk di jok
belakang, ia berjalan menghampiriku tapi tidak menyalakan mesin motornya, ia
malah duduk membelakangiku.
“jalan.” Perintahku
“kau marah?” tanyanya, aish… apa aku
harus menjelaskannya?!
“aku capek, jadi cepatlah antar aku
pulang.” Kataku dengan sedikit nada tinggi. Syukurlah ia menurut dan mulai
menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya kejalan.
15 menit kemudian, sampai dirumah, aku
langsung turun dari motor dan tak lupa aku ucapkan terima kasih padanya karena
telah menjemputku walau terlambat dan pulang dengan terlambat juga
tentunya. Tanpa aku pinta ia ikut turun dari motor dan mendekatiku, aku
menatapnya dengan malas.
“kau marah padaku? Aku minta maaf…”
katanya, aku menatapnya lagi.
“sudah malam, kau pulang saja.”
“kalau marah bilang saja, aku minta maaf
Maisah…”
“sudahlah, aku sudah ngantuk.”
“aku lebih suka kau mengomeliku dan
membentakku habis habisan walau mengerikan, aku tidak suka kau mendiamiku
seperti ini.” Terangnya, aku menatapnya lagi, lalu tersenyum kecil namun
terlihat seperti dipaksakan, tapi yah
memang begitulah.
“aku tidak perlu marah padamu, lagi pula
tidak ada gunanya Rudi, pulang saja. kau pasti lelah juga kan?! Aku masuk dulu,
assalamu’alaykum…” Aku beranjak
meninggalkannya, aku benar benar lelah dan aku urungkan niatku tadi yang hendak
membentaknya habis habisan karena toh
itu tidak ada gunanya. Aku kan mengakhiri semuanya, bukan karena aku tidak
mencintainya, tapi cinta seperti ini apa bisa disebut dengan cinta? Ini hanya
nafsu yang memaksakan kami untuk bersama dan terus berada dijalan yang tidak
seharusnya kami lewati.
(sudut pandang Rudi)
Aku segera bangun setelah mendengar
kokok ayam jago yang berasal dari alarm ponselku.
Ku langkahkan kaki menuju pintu kamar mandi dan segera masuk kedalam ruangan
itu, 10 menit kemudian aku sudah berada lagi di tepi ranjang. Aku melihat
pantulan diriku dicermin, aku berjalan
gontai menuju Lemari bajuku, mebuka pintu itu dan meraih sehelai kemeja
putih bergaris vertikal berwarna biru, tak lupa pasangannya celana kain hitam
polos dan segera ku kenakan lalu kembali metapan diriku dicermin. 5 menit
kemudian, aku telah siap menuju kampus.
“Rud, tadi Maisah menelepon dia bilang
tidak perlu menjemputnya, dia sudah ada dikampus.” Aku menoleh pada Ibu ku yang
menyampaikan pesan dari Maisah, aku mengangguk lalu mendekatinya yang sedang
duduk bersama ayahku. Aku mengulurkan tangan kananku kepada mereka dan mencium
tangan mereka untuk pamitan pergi ke kampus.
“kau tidak sarapan dulu nak?” Tanya Ibu,
aku menoleh dan tersenyum kecil kepada beliau.
“nanti di kampus saja bu, Rudi pergi
dulu, assalamu’alaykum..”
Di kampus, Aku
berjalan menuju ruang 20, ku edarkan pandanganku kepenjuru ruangan namun tak
kulihat maisah disana, kemudian aku berputar kebelakang dan disana ku dapati
Maisah bersama seorang pria. Dia senior kami dan mereka terlihat sangat akrab.
Aku mendelik sebal lalu segera ku hampiri mereka berdua.
“assalamu’alaykum…”
sebelum aku mengucapkan salam, senior yang sedang bersama Maisah sudah mendahuluiku,
aku tersenyum kecil lalu membalas salamnya tadi.
“kenapa pergi duluan?” tanyaku kepada
Maisah, ia melirikku sekilas lalu kembali kepada senior kami.
“maaf… aku buru buru tadi.” Jawabnya
tanpa menoleh kearahku, apakah dia masih marah padaku?
“Maisah, Rudi… abang permisi dulu yah.
Oh iya Maisah, semoga berhasil yah.” Seru Senior kami berbalik meninggalkan
kami berdua. Aku menatap Maisah meminta penjelasan darinya mengenai sikapnya
sekarang.
“aku minta maaf, dan tolong jangan marah
lagi.” Ia menetapku lalu tersenyum.
“sebaiknya kita putus saja, masih
terlalu awal untuk hubungan seperti ini.” Jawabnya membuatku kaget, aku
membulatkan kedua mataku, ini sungguh tak bisa ku percaya.
“maisah… apa maksudmu? Kenapa tiba tiba
menjadi seperti ini?”
“tidak tiba tiba, tapi sudah waktunya,
aku baru saja mendapat hidayah dari Allah.” Jawabnya lagi, aku semakin sulit
memahami keadaan seperti ini, ada apa dengannya?
“apaan sih? Aku tidak mengerti. Apa kau
habis terbentur dan terjadi kesalahan di kepalamu itu?” tanyaku lagi,ia malah
tersenyum manis.
“maaf Rudi, aku baru sadar dan ini
keputusan yang tepat. Hubungan yang istimewa itu setelah kita menikah, tetaplah
jadi temanku. “
“apa kau tidak mencintaiku?”
“jangan bertanya seperti itu, jawaban
itu akan melukai hatimu.”
“katakan saja Maisah!” aku sedikit
membentaknya karena kesal. Dan lagi lagi ia tersenyum padaku.
“aku mencintaimu, dan aku akan
menunggumu menyatakannya di depan kedua orang tuaku, selama ini hanya orang
tuamu saja yang mengetahui hubungan seperti ini.”
“tapi Allah tahu, “
“benar, maka dari itu. karena Allah tahu
dan Allah yang memberikan hidayah kepadaku,”
“aku masih tidak mengerti.”
“jangan mencintai seseorang yang belum
menikah denganmu dan bagaimana kau bisa menganggapnya kekasih jika ia saja masih
belum halal untukmu. Assalamu’alaykum..,”
ujarnya pergi melewatiku yang mematung mendengar kalimatnya tadi. Apa selama
ini kami salah? Apa hubungan seperti ini salah?
Dddrrtttt… sebuah pesan masuk di
ponselku, segera ku buka dan ku baca.
From : maisah
“Tidak ada yang salah, tapi ini sebuah kesalahpahaman
dari kita berdua, tunggulah hingga saatnya tiba. Maaf aku harus mengambil
keputusan ini.”
Segera ku balas pesan darinya,
To : Maisah
“Baiklah, semoga rencana kita ada dalam rencana
Allah, Sang Khaliq. Aku akan berusaha, aku harap
kau tidak berpindah dan aku sungguh sangat berharap kau selalu untukku.”



