Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: 11/10/14

Senin, 10 November 2014



ini si ijal, paling bungsu, nakal tapi insya Allah cerdas, pandai banget ngomongnya



ini ayah dan Ibuku

ini si Ijal




Sahabat Dismen










Dream or curse || part 1

Dream or curse
Summary : sebuah mimpi yang tak di inginkan selalu hadir dan akan menjadi nyata, bila mimpi itu indah, itu hal yang sangat menyenangkan dan akan selalu di nantikan kedatangannya. Namun bila mimpi ini jelek, mimpi yang buruk bahkan seperti sebuah kutukan yang selalu akan datang tanpa di harapkan,mimpi yang akan membuat kita seperti dineraka. Bagaimana caranya untuk  menghindari mimpi atau kutukan itu? Bisakah kita menghindarinya?

“aku pulaaaaaaaaaaaaaaaaang.” Teriakku  saat memasuki pintu  rumah, aku berjalan menuju ruang pribadiku yaitu kamarku  sendiri, aku  menatap sebuah tulisan hitam  diatas kertas yang menempel didepan pintu kamarku. Kemudian semuanya menjadi gelap, aku berbalik kebelakang. Sebuah tangan menggapai bahuku, aku terlonjak kaget saat melihat pemilik tangan  itu.
“siapa?” tanya seseorang di ujung sana yang aku  kenal, dia adalah sahabatku putri.
“aku? Harusnya aku bertanya itu padamu, kau putrikan? Sedang apa disana?” tanyaku heran.
“ifdo, kau kah disana? “ tanya putri lagi,
“iya, “
“tolong kembalikan tangan kananku.” Pintanya sembari meringis seperti kesakitan. Aku menoleh  ke kanan, dan benar saja sepotong tangan sedang mencengkram lengan kananku, aku semakin kaget melihat putri berada di dekatku sedangkan tadi kami seperti sangat jauh antara jarak 50m ,
“apa?! Kau kenapa putri?” aku berlari menghampiri putri  yang tiba- tiba saja jatuh terkapar. Darah mengalir begitu deras di lengan kanannya.
“siapa yang melakukan ini padamu? Apa yang terjadi padamu?” tanyaku  ketakutan kini putri menatapku  dengan  tajam dan penuh kemarahan terhadapku, aku tak tahu apa maksudnya.
“putri...” aku  memanggilnya
“ini semua karena dirimu! Kau yang menyakitiku!” teriak putri membuat aku shock. Aku menatapnya heran dan  benar benar bingung.
“apa maksudmu?” aku  mendekatinya, namun baru beberapa langkah, putri menghilang begitu saja, aku tertegun kaget, sungguh ini benar benar membingungkan, aku sungguh tak mengerti maksud kejadian saat ini. Aku berpikir sejenak namun aku  lagi lagi di kagetkan dengan sesuatu yang muncul dari belakang menyentuh bahu kiriku hingga membuat aku harus berbalik kebelakang untuk melihat sesuau tersebut.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“ Awh...” aku meringis  kesakitan, ternyata aku jatuh dari kasur. Aku langsung bangun dan duduk dipinggir kasurku, berpikir tentang mimpi buruk yang baru saja aku alami. Mimpi itu seperti nyata dan apa ini akan terjadi di kehidupn nyataku lagi?
sebelumnya aku pernah mengalami mimpi buruk ini dan hal itu sungguh terjadi di dunia nyataku, tapi aku yakin ini bukan salahku, aku tidak tahu apaapa tentang kejadian orang orang yang mengalami hal buruk yang ku ketahui lebih dulu.
baiklah, dari pada aku memikirkan  peristiwa yang bisa membuat aku gila, lebih baik aku berangkat kuliah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ah, syukurlah sejauh ini tidak ada tanda tanda yang bisa membuat mimpi itu menjadi nyata, semua stabil seperti biasa, aku bisa bernapas lega sekarang. Kini aku memasuki ruang kelas dan duduk di sebuah kursi di barisan kedua. Sekarang  pukul 6.30 Am, kelas di mulai pukul 8.00 Am. Seperti biasa aku memang suka datang lebih awal agar aku bisa mendownload lagu lagu korea, pastinya dong, kan aku pecinta korea. Kekekekekk.
sudah pukul 7.25 kenapa sahabat sahabatku yang lain belum datang?! Och tidah! Jangan bilang mereka membolos tanpa mengajak aku. Aish...! dasar!
“ifdo...” panggil seseorang memasuki ruang kelas mendekatiku, aku memandangnya smbari tersenyum.
“putri,mana yang lain?!” tanyaku kepada orang yang baru datang tadi yang tak lain adalah putri, gadis yang tadi malam aku mimpikan.ckckck
“mereka sedang di copy center” jawabnya mengambil posisi duduk di sebelahku. Aku mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian putri mengeluarkan notebook miliknya, aku tahu dia pasti hendak membuka facebooknya. Dia memang ratu online. Ckckck
“ya! Aku aku tau pikiranmu itu !” katanya menatapku sinis, aku nyengir gx jelas.
“ ternyata kita sehati yah, hehe” balasku bercanda, berhasil membuatnya tertawa kecil.
“do, aku bosan nih di rumah terus. Gimana kalau kita karaoke’an?” ajak nya antusias.
“ehm, boleh juga.” Aku mnyetujuinya.
“selepas kuliah yah.” Lanjut putri. Aku mengangguk.
“friends.... andri bilang, hari ini dosen gx masuk. Kita free hari ini. Horeeeeeee!” teriak seorang gadis memasuki ruangan,s seketika ruangan itu ribut.
“yes! Yes! Let’s go friends!” ajak putri.
“eh, tunggu. Memangnyakita mau kemana?” tanya siti bingung.
“karaoke. Hehe” jawab putri.
“oh. Ok “ jawab siti tanpa bantahan.
Di perjalanan
“jangan ngebut ngebut do!” teriak putri di belakangku.
“haha. Ini gx ngebut kali.” Jawabku sembari berteriak berusaha memfokuskan pandanganku kejalan.
“hati hati.!” Teriak Eva dari belakang.
“kita taruhan , yang sampai duluan bebas dri biaya apa pun selama disana.” Tantang ifdo kepada teman – temannya.
“ok,siapa takut?!” jawab putri menerima tantangan dariku, ia melajukan motornya dan berhasil mendahului aku.
“ya! Kau curang!” seru ku berusaha menyusul putri
“aish... mereka itu!” gumam  siti sebal kepada keduanya.
putri dan ifdo berusaha saling mendahului,tanpa sadar  sebuah mobil hendak menikung secara perlahan, putri tengah melaju  dengan cepat, ia melihat mobil itu dan berusaha menarik rem motornya namun  tak berhasil. Motor yang ia tumpangi menabrak bagian sebelah kanan mobil yg hendak menikung itu.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!” teriak teman temannya. Membuat ifdo seketika mengerem motornya, wajahnya pucat dan tubuhnya berget ar ketakutan. Siti dan teman temannya yang lain segera menepikan motor mereka dan berlari menghampiri putri.
disana mereka shock, melihat putri tergeletak dilantai dengan darah yang mengucur dari lengan kanannya membasahi jalanan, bau anyir darahnya mengalir menusuk hidung. Kepala putri berlumuran darah dan lengan kanannya putus .
“putriiiiiiiii....!” teriak siti memeluk tubuh putri yang tak bernyawa, ia menangis dan begitu merasa takut. Lia dan elek saling berpelukan, beberapa detik kemudian terdengar mobil polisi yang datang. Seketika jalanan menjadi ramai dan sebuah ambulance pun telah berada di lokasi itu. Aku masih terdiam di atas motorku, masih berusaha mencerna semua kejadian
ini. Benarkah?! Apa ini nyata?! Tanyaku dalam hati pada diriku sendiri. Aku masih shock dan tak mampu  melihat nya dari dekat.
“Eva...!” pekik seorang pria dari belakang, aku tau itu pasti Satrio, kekasih Eva. Dia pasti mengkhawatirkan Eva.
“Eva, kau tidak apa apa kan?!” tanya Satrio sedikit panik, ia meraih lengan Eva yang terliht sangat shock, seketika Eva memeluknya dan menangis di bahu Satrio.
“sudah, tenanglah.” Kata Satrio sembari mengelus bahu Eva untuk menenangkan kekasihnya itu.
“putri, diaaa...” kata Eva tak kuasa melanjutkan kata katanya dan menangis lagi.
kini putri di bawa oleh mobil itu bersama siti,liadan elek. Aku masih terdiam. Eva dan
Satrio menghampiriku.
“ifdo...” pangil Satrio menyadarkan aku
“eoh?! Ini nyata?! Benarkah?!” aku bertanya pada mereka berdua. Tanpa aku sadar air mataku mengalir, tubuhku masih bergetar dan aku  terkulai lemas di lantai. Ku putuskan untuk pergi dari sana dan mengikuti ambulance yang membawa putri.
“aku antar kau pulang.” Satrio mengajak Eva. Eva
hanya mengangguk, ia tak mampu lagi untuk bicara sekarang karena masih terkejut dengan kejadian yang tadi ia alami.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di rumah sakit, kamar jenazah.
terdengar isak tangis orang orang di dalam sana, aku tak berani masuk kesana, aku pastikan itu pasti suara tangisan keluarga putri. Sementara elek,siti dan lia menangis di depan ruangan itu. Aku menangis tanpa suara, berjalan mendekati sahabat sahabatku.
“ini hanya mimpi buruk.” Kataku pada mereka., membuat mereka memandangku tak mengerti.
“iya, mimpi buruk yang kau buat sendiri! Kenapa kau seperti ini ifdo?!” kata lia meninggikan suaranya, aku bingung mendengarnya.
“aku...”
“kau yang menyebabkan ini terjadi!  Jika kau ingin mati! Matilah sendiri! Jangan mengajak orang lain! Aish...! kau benar benar membuat aku hampir gila! Lihat
! gara gara dirimu putri meninggal!” lia berteriak padaku,membuat aku shock. Dia menyalahkan aku atas semua ini. Tapi ia benar ini memang salah ku.
“liaaa, kenapa kau bicara seperti itu?! Sudah. Jangan menyalahkan dia. Kita semua merasa takut dan ini bukan sepenuhnya kesalahan ifdo.” Elek menenangkan lia.
“tidak! Semua salahnya! Dia membuat putri pergi!” kata lia lagi, ia nampak benar benar emosi hingga dia tega melontarkan kata kata kasar padaku. Aku hanya diam, karena aku merasa itu memang salahku.

To be continue

cover aku vs kamu



My Soulmate part 2


Main cast :

è Kim jae joong : kang sang jae
è Kwon yuri : kwon yuri
è Lee joo yeon : park jooyeon
è Kim jong woon : kim yesung

Cast others : find by yourself

@ ruang rapat
Semua orang penting dalam perusahaan itu sudah duduk di kursi masing – masing, sang jae sebagai seorang direktur utama yang akan memimpin berjalannya rapat sekaligus mempresentasikan hasil kunjungannya ke pabrik milik perusahaan tsb.
“seperti yang kita ketahui, laba perusahaan semakin meningkat dengan adanya produk terbaru yang telah di produksi selama 3 bulan terakhir.” Terang sang jae yang tengah bediri di samping layar besar. Semua hadirin memperhatikannya dengan serious.
@ 90 menit kemudian.
Rapat pun berakhir,setelah semuanya meninggalkan rapat,yuri dan sang jae berada di paling akhir menuju pintu keluar. Sang jae memperhatikan yuri dari samping, yuri sadar bahwa ia sedang di perhatikan oleh atasannya hanya bisa diam dan tak mau memandang kearah sang jae.
“ada yang aneh denganku?” yuri memberanikan diri untuk bertanya namun tak berani untuk menoleh kan pandangannya pada sang jae.
“tidak,”
“benarkah? Kau kenapa memperhatikanku seperti itu.”
“aku? Memperhatikanmu?! Maksudmu begitu?!” sang aje tanya balik.
“ya! Iya, kau kenapa memperhatikanku?” yuri menatap sang jae
“hahah, tidak, aku rasa kau yang memperhatikan aku. Iya kan?” goda sanga jae
“oppa. Kau ini, jelas jelas kau yang memperhatikan aku!” sahut yuri sedikit sebal. Sang jae tersenyum kecil, kemudian berjalan meninggalkan yuri.
“tck! Dasar!” yuri mengikuti sang jae menuju ruang kerjanya.
@ di waktu yang sama di sebuah tempat yang tak jauh dari perusahaan itu, sebuah perusahaan saingan jyj group, pemiliknya adalah kim yesung, tunangan park jooyeon.
“oppa, temani aku shopping sekarang.” Rengek jooyeon sembari bergelanyut manja di bahu yesung.
“sebentar, oppa masih banyak kerjaan,kau tunggu saja di sofa itu, duduk lah yang manis.” Pinta yesung dengan lembut, jooyeon mengerucutkan bibirnya karena sebal.
“baiklah, 5 menit lagi, kalau oppa belum juga selesai dengn tugas itu. Aku akan pergi sendiri!” ancam jooyeon seraya menjauhi yesung, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari memalingkan wajahnya dari yesung. Yesung yang melihat tingkah kanak-kanak jooyeon hanya terkekeh geli.
“kau mau minum apa?” tanya yesung sembari membuka lembaran kertas ditangannya.
“tidak, sebaiknya kau cepat selesaikan tugasmu itu.” Jawab jooyeon ketus.
“ok ok chagi...” sahut yesung yang fokus ke pada pekerjaannya.
@ sebuah butik, jyj group
Jooyeon menggandeng tangan yesung dengan mesra, setiap orang yang melihat kemesraan mereka merasa iri, namun keduanya tidak peduli dengan orang orang di sekitar mereka.
“oppa, aku merasa mereka memperhatikan kita?” ujar  jooyeon.
“hahaha, iya kau benar. Mereka iri pada kita.” Sahut yesung.
“iri kenapa?”
“karena pria yang sedang bersamamu adalah pria yang begitu tampan, dan mereka heran kenapa gadis jelek sepertimu bisa menarik perhatianku.” Goda yesung, jooyeon menatapnya sebal.
“oyah? Salah! Mereka iri karena pria aneh ini bisa menjadi milik gadis cantik seperti aku,” kata jooyeon sembari menjulurkan lidahnya, mengejek yesung, membuat yesung terkekeh geli.
“hahaha, dasar narsis” yesung menarik hidung jooyeon, jooyeon meringis manja.
Tiba – tiba seseorang tak sengaja menyenggol bahu jooyeon, membuat jooyeon berbalik harus melihat orang yang menyenggolnya tadi.
“ach, mianhae... aku tak sengaja.” Ujar orang itu.
“ada apa ?” tanya seorang pria yang sedang bersama orang itu, jooyeon melihat pria itu, saat mata mereka bertemu keduanya tersentak kaget dan sempat terdiam beberapa detik. Hal itu membuat yuri dan yesung heran.
“oppa~ah, kau knpa?” tanya yuri heran
“ach, tidak. Ayo kita makan, aku lapar.” Ajak sang jae sembari menarik lengan yuri menjauh dari jooyeon dan yesung. Jooyeon menatap punggung sang jae yang semakin jauh.
“kau kenapa?” tanya yesung yg juga heran seperti yuri
“tidak, ayo oppa.” Ajak jooyeon pergi dari tempat itu.
@ pukul 6:30  pm
“kau cantik, sangat sangat cantik.” Puji sang jae begitu bertemu dengan yuri di depan rumah. Yuri hanya tersimpu malu dan tak menanggapi pujian sang jae.
“kita mau kemana” tanya yuri ketika ia duduk di jok mobil paling depan disamping sang jae.
“makan malam, makan malam spesial.” Jawab sang jae
“benarkah? Wah pasti menyenangkan.” Kata yuri antusias
@ resto’s lee
Yuri dan sang jae duduk di meja yang telah sang jae boking, hanya ada mereka berdua, karena sang jae akan menyatakan semua perasaannya, rasa suka dan sayangnya terhadap gadis cantik yang ada di hadapannya sekarang.
“yuri.”
“nde, oppa?!”
“aku ingin kau cukup mendengarkan aku dan jawab sesuai apa yang kau rasakan sekarang.”
“ne.”
“aku menyukaimu,aku ingin kau jadi pasanganku, maukah kau menjadi calon istriku?” tutur  sang jae dengan penuh harap, yuri tersentak kaget dann merasa sangat senang, sang jae meraih tangan yuri, menggenggamnya dengan lembut.
“oppa... aku...” yuri gugup. Sang jae tersenyum manis, membuat yuri semakin gugup dan sulit berkata apa apa.
“katakan saja.”
“...”
“kenapa? Aku tahu, kau pasti kaget.”
“oppa, boleh aku bertanya 1 hal?”
“boleh, “
“hal apa yang membuatmu menyukaiku?”
“kau wanita yang cantik.”
“eoh? Cantik? Hanya itu?”
“iya. Kau wanita yang sangat cantik.”
“ehm, baiklah. Kau menyukaiku karena aku cantik, perasaanku salah, maaf oppa. Aku tak mau kau meninggalkan aku saat aku menjadi jelek.”
“hehe, iya, aku memang akan meninggalkanmu saat kau berubah jadi wanita yang jelek.
“maaf oppa, aku tak...”
“aku mencintaimu karena kau baik, kau sabar,kau gadis yang polos,kau begitu berharga, kau jelek jika kau menolak aku karena ini.” Tutur sang sang jae sebelum yuri melanjutkan kalimatnya, yuri yang mendengarnya jadi bingung.
“aku tak mengerti maksud oppa, kau membuatku bingung.” Kata yuri polos
“haha, kau akan mengerti bila kau sudah jadi istriku.”  Balas sang jae
“oppa...”
“bagaimana? Aku menanti jawabanmu yuri, tak ada waktu lain selain malam ini saat ini juga.”
“aish... oppa, kau ini.” Yuri tertawa kecil. Sang jae mengecup punggung tangan yuri lalu menatap mata gadis yang ia cintai saat ini, yuri mengangguk kecil sembari tersenyum, sang jae pun ikut tersenyum menyadari keputusan yuri.
“baguslah, sebagai tanda kau milikku sekarang,” sang jae mengeluarkan sebuah kotak merah berisi sebuah kalung berlian yang memang sudah di pesan olehnya tadi sore, yuri hanya tersenyum ketika sang jae mengenkan kalung itu di leher indahnya.

“aku mencintaimu, aku tak akan memintamu menjaga kalung ini karena yang aku ingin kau bisa menjaga cintaku, karena sebuah kalung tidak ada harganya di bandingan dirimu.”

“terima kasih oppa,” kata yuri sembari memegang buah kalung yang ia kenakan.
Di rumah keluarga park,
Jooyeon duduk di sebuah sofa di ruang keluarga, ia memikirkan seorang pria yang pernah ditemuinya tadi siang di pusat perbelanjaan, jooyeon merasa pria itu tak asing lagi baginya.
“aish... siapa pria itu? Rasanya aku mengenal pria itu.” Gumam jooyeon penasaran.

flash back#
“kau yakin akan pergi?” tanya sang jae yang berharap jooyeon tak meninggalkannya. Jooyeon menunduk lesu, ia tak ingin membuat sang jae semakin sakit hati, ia hanya mmilih diam.
“baiklah, semuanya ada pada keputusanmu, tapi ingatlah cintaku tak akan hilang hingga kau kembali lagi untuk menemuiku dan memintaku kembali padamu.” Seru sang jae meninggalkan kediaman jooyeon yang mirip seperti istana.

“maaf sang jae, maafkan aku.” Gumam jooyeon
# flashback end

“Oppa, temani aku ke sauna.” Pinta jooyeon manja.
“sauna? Sekarang?”
“iya, tak mungkin tahun depankan?!” seru jooyeon meraih tasnya di atas meja. Yesung meraih jasnya.
“oppa, ke sauna tak perlu pake jas. Kenakan kemeja saja. Kau ini ...” omel jooyeon. Yesung meletakan kembali jasnya. Jooyeon mendekati yesung kemudian melepaskan dasi di kerah kemeja yesung.
“kenapa di lepas?”
“hari libur, bersantai lah, kau jangan seperti ini terus, aku bosan.” Ujar jooyeon berbalik meninggalkan yesung menuju pintu keluar. Yesung terkekeh mendengar omelan jooyeon yang begitu perhatian padanya.
@ sauna
“oppa, ku kira kau tak suka ketempat seperti ini.”kata yuri berjalan di samping sang jae, yang di ajak bicara hanya diam sembari melirik sekelilingnya.
“oppa, kau mencari siapa?”
“tidak, aku memang suka ke sauna sendiri, tapi kita akan lebih sering kemari, kau harus  menemaniku kemana  pun aku pergi.” Balas sang jae.

“auwh...” seru seorang gadis yang tak sengaja tersenggol bahunya dengan keras oleh sang jae, sang jae dan yuri menoleh ke arah gadis itu, begitu pula sang gadis dan pasangannya.
“kalian...?” kata yesung yang sadar bahwa ia pernah bertemu dengan sang jae dan yuri kemarin,
“maaf, aku tak sengaja.” Kata sang jae sembari tersenyum dingin.
“maaf yach.” Yuri ikut minta maaf sembari membungkuk beberapa kali.

“sillyehamnida. Dangsineun ireumi sang jae mueosimnikka?”

“eoh? Ne, gereojhi”.
“oppa, noneun yeoja hamke sogaemnikka?”
apa kita pernah kenal sebelumnya?” tanya sang jae
“ach, tidak. lupakan.” Seru jooyeon berbalik meninggalkan sang jae sembari menuntun tangan yesung. Sang jae dan yuri bingung sendiri.
“gadis itu kenapa? Aneh .”
“hhaha, sudahlah, ayo.” Ajak sang jae.
TO BE CONTINUE




Puisi,

Cinta Dalam Bayangan
Ku tulis kata indah untuk menyatakan cintaku padamu,
ku ukir senyuman manis kala ku melihatmu,
entah apa yang terjadi pada diriku, tapi kau sungguh membuat aku gila,
tutur mu selalu membuat aku ingin mendengar semua kata yang kau ucapkan,
kau bagai bintang yang bersinar terang,
bukan cinta yang ingin ku gapai namun kau membuat aku ingin memilikimu,
kau bagai angin yang tak bisa aku genggam,
namun selalu berhembus disetiap deru napasku,
Ku coba menyatakan semuanya,
ku coba membuatmu mengerti inginku padamu,
inginku padamu yang selalu terhalang oleh jarak,
jarak yang  terlalu sulit untuk ku lewati,

Aku mungkin insan yang begitu menyedihkan,
karena semua kasih yang aku rasakan padamu,
hanya menjadi bayang yang tx bisa dilihat setiap waktu,
bayangan yang selalu ada saat kau melangkah,
dan jika kau berhenti disana maka aku akan berada tepat di belakang,
sesuai dengan takdir sebuah bayangan yang memang tercipta di posisi itu,
cintaku hanya bayanganmu.
Written by : ifdo clouds

My Soulmate part 1


Main cast :
·         Kim jaejoong : kang sang jae
·         Lee jooyeon : park jooyeon
·         Kwon yuri    : kwon yuri
·         Kim jong woon : kim yesung

Cast others: find by your self



@ pagi...
“ yeonie.... ayo bangun...!” teriak seorang pria dari balik jendela. Menyadari suara yg ia dengar itu adalah suara pacarnya, gadis yang di panggil yeonie itu langsung bangun.
“aish... kenapa disitu?! “ kata gadis itu,ia enggan meningglkan tempat tidurnya. Pria itu hanya tersenyum manis, kemudian melempar kecupan selamat pagi dari jarak jauh yang masih dihalangi oleh kaca jendela.
“pergi sana!” usir gadis itu, kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
“aku tunggu di sekolah yah.” Sahut pria itu turun dari balkon lantai atas yang terdapat kamar pacarnya tsb.
@ Middle school
“ yeonie...” panggil seorang pria dari belakang, membuat gadis yang di panggil yeonie itu menoleh seketika kemudian tersenyum manis. Pria yang memanggilnya setengah berlari menghampiri gadis yang dimaksud.
“ ku kira kau sudah datang.” Kata gadis yang berstatus pacarnya.
“hahaha, aku memang sudah datang, aku menunggumu di depan gerbang, tapi kau masih di dalam mobil dan kau bersama ayahmu, aku tak berani memanggilmu.” Jelas  pria itu  dengan polos membuat gadis itu tersenyum manis.
“jae...seharusnya kau kirim pesan padaku.”
“hahah maaf, ponselku sudah ku jual, ibuku harus berobat.” Jawab pria yang di panggil jae, tampak dari wajahnya,ia  begitu sedih mengenai kondisi ibunya.
“maaf.” Sahut gadis itu.
“ tidak apa apa.” Kata jae sembari tersenyum tipis menutup rasa sedihnya. “ ayo... aku tunjukan sesuatu kepadamu” ajak jae sembari menarik tangan pacarnya.
@ taman belakang
Jae mengeluarkan sebuah buku persegi panjang yang sedikit lebar, kemudian jae membuka lembar pertama, yeonie tersenyum begitu melihat gambar sebuah bangunan berupa rumah sederhana.
“ ini yang ingin kau tunjukan padaku?” tanya yeonie
“hem.” Sahut jae sembari mengangguk
“ apa maksud ini semua?” tanya yeonie
“kelak aku akan membeli rumah ini, untuk kita berdua, kita akan menikah dan tinggal disini bersama keluarga kecil kita.” Jelas jae dengan penuh antusias. Yeonie tertawa kecil, jae menatapnya heran.
“kenapa tertawa ? apa ini lucu?” tanya jae sedikit sebal
“kau yakin? Jae kita ini masih 12  tahun, butuh waktu berapa lama?” kata yeonie
“secepatnya, lulus SMA aku akan mencari pekerjaan dan akan melamarmu.” Jawab jae dengan penuh keyakinan.
“begitukah? kau yakin kita bisa bersama?” tanya yeonie membuat jae menatapnya dalam – dalam.
“kau tak yakin ? kau tak percaya padaku?! Och.... baiklah, aku mengerti. Mungkin karena anak orang miskin sedangkan kau adalah seorang yang kaya raya, jadi.. iya, aku tahu itu.” Kata jae, ia berdiri kemudian berbalik pergi meningglkan yeonie yang mematung mendengar ucapan jae tadi.
“jae.....!!!” panggil yeonie setelah jae tak tampak lagi. Ia menunduk lesu.
“maaf jae.”
@ esok harinya
“jae.. maafkan aku.” Ujar yeonie berdiri didepan jae yang sedang menulis di bukunya, jae mendongak kemudian tersenyum manis.
“iya, aku sudah memaafkanmu, kau kan pacar ku, aku tak bisa jauh darimu yeonie..” sahut jae di sertai senyum mautnya,membuat yeonie tersimpu malu.
@Seminggu kemudian,
“jae, aku ingin bicara denganmu. “ pinta yeonie berjalan mendekati jae yang sedang mengemasi meja kantin, jae tersenyum.
“bicara saja.”
“tidak disini jae.”
“baiklah, ayo..” jae menuntun tangan yeonie menuju taman belaka ng sekolahnya
“jae...” kata yeonie, tamaak dari wajahnya bahwa ia sedang gelisah.
“katakan saja yeonie, aku akan mendengarkanmu.” Sahut  jae
“sore ini aku akan pindah ke london.” Kata yeonie membuat jae terperanjat kaget
“london?!”
“ia, aku akan menetap disana, aku akan pindah sekolah dan melanjutkan pendidikanku disana jae.” Terang yeonie yang membuat jae semakin tak kaget.
“kenapa?!” tanya jae kebingungan di tengah rasa kagetnya.
“ayahku. dia yang memintaku.maafkan aku jae,” kata yeonie, air matanya mengalir begitu saja, jae memalingkan wajahnya karena ia juga menangis dan ia tak mau lemah di depan pacarnya itu.
“baiklah, aku juga tak bisa mencegahmu, karena aku tahu tak ada sedikitpun pengaruhnya terhadapmu.” Kata jae berbalik meninggalkan yeonie.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
12 tahun kemudian
“yuri. Tolong bawakan berkas laporan rapat kemarin yah.” Perintah seorang pria kepada sekretarisnya lewat telpon ruangan.
“permisi pak.” Kata seorang gadis di balik pintu masuk
“masuk lah,” sahut sang pemilik ruangan. Gadis itu berjalan menuju meja atasannya. Kemudian meletakan berkas-berkas dengan amplop berwarna merah di atas meja.
“ yuri...” panggil pria yang sedang duduk di kursi bos, membuat yuri memandangnya.
“ia pak jae.” Sahut yuri
“jangan panggil aku pak jae, panggil aku sang jae saja.” Kata pria yang menyebut dirinya sang jae itu. Yuri tersenyum manis.
“baiklah. Pak sang jae.”
“20 menit lagi istirahat makan siang. Bersiaplah dan temani kau kekantin.” Kata sang jae. Yuri mengangguk mengerti.
@ kantin
“pak sang jae mau pesan apa?” tanya yuri sembari membaca menu di tangan nya.
“kalau di luar  jangan panggil aku pak, panggil aku sang jae oppa.”
“apa?!” yuri kaget
“haha, biasa saja, aku lebih suka orang yang dekat denganku memanggilku oppa.”
“ehm... tapi...”
“kenapa? Kau tak suka?”
“bukan begitu, hanya saja itu terlalu tak sopan, anda adalah boss saya,jadi...”
“tapi kau dekat denganku, jadi... itu tak masalah.”
“tapi pak,” sang jae sedikit melotot padanya.” Eh, maaf oppa. Ini terasa janggal” lanjut yuri dengan polosnya.
“hahaha, kau lucu sekali. Aku menyukaimu yuri, jadi kau tak perlu sungkan tuk memanggilku oppa.” Jawab sang jae yang berhasil membuat gadis di hadapannya itu tersimpu malu.
“sudah, kau mau aku terus mengoceh dan tak jadi makan, huh?!”
“maaf oppa, kalau begitu, oppa mau pesan apa?” tanya yuri lagi
“seperti biasa, aku rasa kau yang dekat denganku pasti tahu apa yang aku suka.” Jawab sang jae, lagi – lagi membuat yuri tersimpu malu, sang jae hanya bisa tertawa kecil melihat yuri salah tingkah di depannya.
“oppa.... kembalikan!!!” rengek seorang gadis sembari melompat- lompat berusaha meraih ponselnya dari genggaman seorang pria, sementara sang pria tertawa geli melihat gadis yang tengah ia kerjai.
“ambil joo, kau pasti bisa.” Kata pria itu setengah mengejek.
“oppa!”
“hahah, ayo.”
“sudahlah, aku mau pulang.” Seru gadis itu berbalik meningglkan sang pria, dengan cepat pria itu meraih lengan gadis itu.
“baiklah, aku kembalikan, jangan ngambek yah.” Bujuk sang pria, membuat sang gadis tersenyum puas.
“haha, baiklah.”
“hey! Park jooyeon! Kau mengerjaiku!”
“hahaha” gadis bernama park jooyeon itu tertawa puas melihat sang pria yang tampak begitu kesal padanya.
“oppa, ini sudah sore antar aku pulang.” Pinta jooyeon dengan manja.
“tidak mau!” tolak pria itu yang giliran ngambek padanya.
“aigoo. Kim yesung, pria yang lucu dan menggemaskan, ayo antar aku pulang.” Bujuk jooyeon sembari menggandeng tangan pria yang di panggil kim yesung itu.
“sampai sekarang pun kau tidak mau mengakuiku sebagai kekasihmu, huh? Bahkan kita ini sudah bertunangan joo.” Seru yesung sedikit emosi, jooyeon terdiam.
“ehm, maaf. Baiklah yesung, my soulmate. Ayo antar aku pulang. “ bujuk jooyeon yesung tersenyum seketika sembari menatapnya lekat lekat membuat jooyeon mengerutkan keningnya.
“ada yang salah lagi?” tanya jooyeon bingung.yesung menggeleng.
“kalau begitu?”
“baiklah, my soulmate, aku akn mengantarmu pulang.” Sahut yesung yang saat ini merasa sangat bahagia hanya karena di rayu oleh jooyeon dengan sebutan ‘my soulmate’. Itu sungguh luar biasa bagi yesung.
“yuri...” panggil sang jae ketika melihat yuri berdiri di mading kantor, yuri langsung menoleh kebelakang dan kini berhadapan dengan sang jae yang tiba- tiba ia sudah ada di belakang yuri.
“oppa...”
“malam ini kau ada acara ?” tanya sang jae. Yuri menelan ludahnya karena wajahnya sangat dekat dengan wajah sang jae.
“oh, tidak. Kenapa oppa?” yuri tanya balik.
“baguslah, kalau begitu aku akan menjemputmu dirumah. Pukul 6.30 kau harus sudah siap.” Kata sang jae, yuri tersenyum kecil. Sang jae mendorong tubuh yuri hingga terdesak ke dinding. Yuri menundukan pandangannya.
“ kau harus tampil cantik, cantikmu harus melebihi hari hari biasanya.” Kata  sang jae melirik bibir yuri.
“ekheem.” Seseorang mengagetkan mereka, sang jae langsung menjauh dan berbalik membelakangi yuri, betapa kagetnya mereka saat melihat seseorang yang menegur nya tadi secara tidak langsung.
“pak sang jae, hari ini anda di tunggu di ruang rapat bersama sekretarismu, yuri.” Seru seorang pria yang berstatus sebagai presiden direktur di perusahaan itu, sang jae dan yuri membungkuk.
“ia presdir,kami akan segera kesana.” Jawab sang jae. Kemudian orang tadi berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
“maaf pak.” Kata yuri membungkuk di hadapan sang jae.
“eoh? Bukan salahmu dan jangan panggil aku pak lagi.” Kata sang jae seraya berbalik, berjalan menuju ruang rapat di ikuti yuri dari belakang.


TO BE CONTINUE


Ifdo Antum Crew: my FF

Ifdo Antum Crew: my FF: WHO IS BETTER?! # Apartement siwon # Seorang gadis tersenyum manis menatap sebuah ...

SENYUMMU DUNIAKU


Author : Ifdo Hidayah
Genre : Romance

Joni Pov
Selamat malam,selamat sore,selamat pagi? Yang mana yang benar nih? Dasar cewek cewek aneh, gak bosan bosan juga gangguin aku. Tapi... ya sudahlah,mungkin hidup aku memang harus menerima penderitaan ini,dikejar kejar para gadis karena aku keren.hehe PD banget yah aku. Baiklah ku letakan kembali ponselku di atas meja belajar.
“Joni... kemari nak, ada tamu untukmu,” terdengar suara ibu memanggilku, aku segera bergegas keluar dari kamar menuju ruang tamu. Aku kaget karena tamu yang dimaksud adalah Ulfi, gadis yang selalu menjadi bidadari disetiap mimpiku. Ia tersenyum saat aku berjalan mendekati ibu.
“dia teman kuliahmu Joni?” tanya ibu senang, aku hanya mengangguk kecil lalu tersenyum padanya.
“baiklah, ibu tinggal yah, oh ya kamu mau minum apa nak?” tanya ibu ramah kepada Ulfi
“biar aku yang buatkan minum untuknya bu, ibu istirahat saja.” Kataku, ibu tersenyum mengerti lalu beranjak meninggalkan kami berdua. Setelah ibu pergi aku mempersilahkannya duduk.
“baiklah Ulfi, kau mau minum apa?” tanyaku mengulang pertanyaan ibu tadi padanya, bukan segera menjawab ia malah tersenyum manis padaku, aduh jadi salah tingkah nih.
“karena diluar sangat dingin, teh hangat saja.” Jawab Ulfi, setelah mendengar jawabannya aku segera kedapur dan membuatkannya teh hangat, kebetulan ada air yang baru dimasak tadi, kebetulan sekali.
3 menit kemudian, aku kembali dengan segelas teh hangat dan kuletakan diatas meja dekat dengan sang tamu yang dimaksud. Ia melihatku sembari tersenyum lagi, aduh...senyumnya ...
“apa kedatanganku mengganggu?” tanya Ulfi, ku jawab dengan gelengan kepala. Tentu saja tidak aku malah senang dengan kedatangannya ini.
“terima kasih,” katanya lagi.
“ada apa fi?” tanyaku penasaran.
“maaf sebelumnya, tapi aku tak tahu harus minta bantuan kepada siapa lagi, jadi aku datang kemari,” ia mulai berbasa basi, tapi tak masalah semakin lama ia dirumahku, aku semakin suka,hehe
“terus?”
“besok lusa aku harus menghadiri pernikahan kakak sepupuku, tapi aku tak punya couple, jadi bisakah kau menemaniku kesana?” tanyanya membuatku agak kaget, ini seperti mimpi indah.
“benarkah?”tanyaku meyakinkan diri sendiri
“benar Jon, mau kan? Tapi kalaupun kau tidak mau aku mengerti kok, aku tidak memaksa.”katanya dengan sedikit memelas padaku.
“ehm... boleh, tapi aku harus memberitahu Micha dulu.” Jawabku dengan sedikit menurunkan nada suaraku saat aku menyebut nama Micha, dan sepertinya ia tidak suka saat aku menyebut nama kekasihku.
“baiklah aku mengerti, tapi bagaimana kalau dia tidak menyukai itu?”
“tenanglah, Micha ku gadis yang baik.” Kataku meyakinkannya.
“minumlah teh itu,bukankah kau memintaku membuatkannya tadi?!” kataku lagi sembari tersenyum, ia mengangguk lalu meraih gelas dan meminum teh itu. Setelah itu kami berbincang bincang tentang hal lain.
“selamat sore...” sapa seseorang dari luar pintu, aku dan Ulfi menoleh secara bersamaan, meilhat orang yang datang itu Micha, aku langsung berdiri dan tersenyum padanya.

“Micha~ masuklah.” Kataku sembari berjalan mendekati pintu masuk, ya Tuhan dia terlihat sangat marah padaku, ia bukannya masuk malah diam menatap aku dan Ulfi secara bergantian dengan tatapan sinis.
“Joni... aku pulang dulu yah, udah sore nih. Salam untuk Ibumu. Micha.. aku pulang dulu yah.” Seru Ulfi berjalan mendekati Pintu keluar, saat Ulfi lewat Micha masih saja menatapnya dengan sinis,Ulfi malah membalasnya dengan senyuman manis. Setelah Ulfi pergi Micha dan aku masuk bersama berjalan menuju ruang tamu.
“duduklah Micha,” Micha pun duduk, namun ia tidak tersenyum seperti biasanya padaku, mungkin ia sebal karena Ulfi datang kerumahku.
“mau minum apa?” tanyaku
“tidak usah, tapi aku mau nanya, ada perlu apa Ulfi datang kemari?” tanya Micha penasaran dan terlihat sangat tidak suka
“och, dia meminta bantuanku.”
“bantuan? Apa?”
“besok lusa ia minta ditemani ke acara pernikahan kakak sepupunya.” Jawabku tanpa basa basi, karena memang tak ingin basa basi. Aku tahu watak Micha seperti apa, jadi dari pada makin panjang lebih baik langsung saja.
“och... lalu apa jawabmu?”
“belum ku jawab,aku masih ingin merundingkan ini padamu.”
“kalau kau bersedia pergilah, aku tidak melarangmu.” Katanya enteng
“benarkah?” tanyaku meyakinkan dirinya dan juga aku sendiri.tumben sekali dia bersikap cuek padaku, biasanya mengomel kalau aku berjalan atau berdekatan dengan gadis manapun
“iya, tentu. Toh kau juga pasti akan pergi walau aku tak menyukainya. Dan lagi pula kau tau hubunganku dengan Ulfi, jadi... pergilah, tak perlu memberitahuku lagi. Aku pulang.” Seru Micha berjalan meninggalkanku, sebelum ia mencapai Mulut pintu aku menarik lengannya dari belakang.
“tunggu, apa maksudnya dengan pergilah, tak perlu memberitahumu? Ada apa denganmu?” tanyaku benar benar heran
“jangan tanyakan hal yang sudah kau mengerti, jangan terlalu berbelit belit Joni, aku tahu gadis seperti Ulfi lah yang selalu ada dalam benakmu.” Jawabnya, ‘DEG’ dia tahu semuanya.bagaimana bisa?!
“kenapa? Kau kaget huh?! Sudahlah jangan mengelak,”

“darimana kau tahu itu?”
“ternyata benar, sudahlah itu tidak penting. Kita memang pacaran, tapi hatimu hanya untuk Ulfi.” Kata Micha, aku terdiam mendengarnya.

“aku pulang.” Ku lepaskan tangan Micha,kemudian ia berbalik, kulihat ia menghapus air matanya walau tak terlihat jelas olehku. Ya Tuhan... jadi dia tahu semuanya, apa aku jahat? Apa aku melukai hatinya?

# Esok Lusa
“kau tetap pergi dengan Ulfi?” tanya Ridwan padaku, aku mengangguk pelan, #plak! Dia memukul bahuku dengan cukup keras menggunakan buku, aku meringis kesakitan sembari mengusap bahu kananku.
“kau ini kenapa,huh?!sebenarnya pacarmu itu Micha atau Ulfi?! Kau tega sekali Jon!” ridwan tampak sangat kesal padaku
“aku tahu, tapi kau juga tahu kan bahwa gadis yang selalu aku inginkan itu Ulfi, aku mengaguminya, aku mencintainya” jawabku tak mau kalah dengan ridwan
“bodoh! Itu bukan cinta! Kau hanya terobsesi dengannya Jon, pacarmu itu Micha!” marah ridwan setelah aku betitahu bahwa aku mencintai Ulfi.
“aku yang merasakannya Wan, aku tahu bahwa aku mencintainya. Tapi aku juga menyayangi Micha,” jawabku lagi
“Joni!” bentak ridwan padaku
“aku tidak tahu, apa aku benar benar menyayangi Micha sebagai pacarku atau hanya sahabatku yang selalu ada saat aku butuhkan.” kataku dengan nada menurun, aku menunduk dan aku tak tahu apa yang aku katakan ini benar atau tidak. Aku bingung!
“terserahlah, aku pusing degan hubungan kalian, tapi ingatlah Jon, Micha itu gadis yang baik.dia setia dan sangat menyayangimu, ia mencintaimu.”
“iya, aku tahu dia gadis yang sangat baik.”
“bagus kalau kau tahu itu, dan satu hal lagi, orang yang baik pasti dengan orang yang baik pula. Aku harap Micha bisa menemukan orang baik itu dan aku harap itu bukan kau, karena kau tidak baik untuk gadis seperti Micha.” Seru Ridwan berjalan meninggalkanku begitu saja.aku terdiam sejenak untuk berpikir dan memang benar yang dikatakan Ridwan, aku tidak baik untuk Micha.
#Di Kelas
Aku berjalan menuju bangku kosong paling belakang, aku duduk tepat disamping Micha, Ia seperti tak sadar dengan kehadiranku, ia malah fokus dengan laptopnya. Sementara ia sibuk, ingin sekali aku menyapanya dan melihat wajah manisnya disetiap pertemuanku dengannya.
“Micha.” Ku panggil namanya dengan perlahan,ku harap dia mau menjawab
“iya, kenapa?” jawabnya disertai pertanyaa,namun ia tidak melihatku, ia masih sibuk dengan laptopnya itu.
“bisa kita bicara berdua?”
“ehm... sekarangkah? Maaf aku sedang sibuk.” Katanya tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptopnya.
“ini penting, “
“ehm... baiklah, tapi jangan bicara disini,” katanya sembari berdiri aku mengikutinya.
“Desi, aku titip laptopku yah.” Seru Micha kepada teman kami yang bernama desi, kemudian ia berjalan mendahuluiku, aku tak tahu ia ingin kemana, namun aku terus saja mengikutinya dari belakang.
Tiba disebuah tempat yang lumayan sepi, ia berhenti berjalan dan masih saja tidak melihatku, ia malah membelakangiku. Aku berdiri di sampingnya berharap ia mau melihat wajahku.
“katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan?”
“aku ingin minta maaf, aku tak mendengarkanmu, maafkan aku.” Kataku penuh sesal,
“hanya itukah?”
“kau mau memaafkanku?apa kau masih marah padaku??”
“kenapa kau bertanya seperti itu?”
“jawab saja Micha.”
“apa, jika aku katakan aku marah padamu, kau akan berhenti berbuat seenaknya?”
“maaf...”
“jangan selalu minta maaf jon, karena kau selalu mengulang kesalahan yang sama. Aku sudah sering memaklumimu, tapi ya sudahlah.. mungkin watakmu yang memang seperti itu.”
“ya, aku tahu aku salah, dan benar yang dikatakan Ridwan, kau terlalu baik....”
aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, kan ku akhiri sekarang juga semoga kau bahagia bersama yang lain,mungkin ini hal bodoh ,tapi walau begitu kau tetap yang terindah dan aku berharap suatu saat kau tahu bahwa akulah yang selalu bersamamu dalam keadaan apapun.” Katanya panjang lebar memotong kalimatku dan Setelah mengatakan itu Micha berbalik meninggalkanku sendiri, aku tak mampu berkata apa apa lagi. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatiku, ya Tuhan aku melukai Hati gadis itu, gadis yang mencintaiku dengan tulus.
3 hari berlalu, sepi... ya sepi itu yang aku rasakan,aku kehilangan sosok yang selalu mengisi hari hariku semenjak 3 hari kemarin. Micha, apa dia baik baik saja? Apa dia menikmati hari harinya tanpa aku? Ah entahlah yang jelas aku ingin dia kembali, karena bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku bukan Ulfi lagi, melainkan Micha.
“Joni... bisa kau mengantar ibu ke pasar nak?” teriak ibu dari kamarnya, aku segera berdiri dan melangkah menuju kamar untuk emnganbil kunci motor dan jaketku.
“iya bu, mari ku antar.” Kataku sembari berjalan menuju garasi rumah, aku mengeluarkan motor sembari menunggu ibu keluar dari rumah.
#Di pasar Swalayan
“bu, aku keliling sebentar yah, aku juga mau belanja.hehe” kataku sembari nyengir gaje, ibu tersenyum sembari mengangguk, aku pun pergi meninggalkan ibu.
Aku perhatikan sebuah lemari kaca yang besar dan didalamnya terdapat perhiasan yang sepertinya tampak mahal dan sangat bagus. Ku lihat sebuah gelang perak dengan sangat lama membawaku mengingat kembali suatu peristiwa.

FlashBack On
“Jon, aku butuh kau sekarang,cepat datang.” Kata Micha dari seberang telpon, aku segera menutup telpon itu dan segera pergi ke tempat dimana Micha berada sekarang.
“ya ampun... aku kan tidak tahu dimana dia sekarang, aduh jon...” aku meruntuki diri sendiri atas kebodohanku ini. Tx lama ponselku berdering kembali,segera saja aku jawab telpon yg ternyata dari Micha.
“Kau dimana sekarang?aku sudah menunggu lama, cepat jon!” kata Micha yang terlihat panik
“iya iya, sabar dong, aku lagi di Jalan nih, posisi kamu dimana sekarang?!”
“di Taman yang tak jauh dari bank BRI, cepat Jon.” Mendengar itu aku segera melaju ke tempat yang sekarang aku tahu letak posisi Micha. Sesampainya aku disana, tidak aku temukan Micha, lah? Kemana dia? Aduh... ni anak menghilang segala lagi!
“Micha...!Micha!! kamu dimana? Gx usah main main deh, aku udah disini,Micha!” aku berteriak sembari memanggil namanya, namun yang dipanggil tidak juga menampakan dirinya. Aku berlari kesana kemari mencari kekasihku itu.
Tiba tiba saja pandanganku gelap, seseorang menutup mataku dengan sebuah kain tebal sepertinya hingga aku tx bisa melihat apapun, aku tidak tahu ya ng berbuat seperti ini siapa dan apa maunya,aku berusaha memberontak namun tenaganya ini mengalahkan aku dan sepertinya ia tidak sendiri ada 2 pasang tangan yang menahan tubuhku agar tidak bisa memberontak. Aduh jangan jangan penculik, aku mau diculik, bagaimana ini?!
“Micha! Tolong aku!!Micha....Tolong aku mau diculik nih!” kataku berteriak histeris,namun aku tidak mendengar suara siapapun. Mereka menarik tubuhku agar mengikuti langkah mereka yang tidak tahu mau dibawa kemana aku ini.
Sudah 20 menit mataku ditutup,semuanya gelap dan yang lebih parah lagi aku tidak tahu dimana Micha sekarang, apa mungkin mereka lebih dulu menculik Micha?! Ya ampun... bagaimana ini?
“Joni...!!!”pekik seseorang tepat ditelinga kiriku, suaranya aku kenal itu suara Micha,ya Dia Micha. Aduh... suaranya keras banget sih, bisa Tuli nih! Gerutuku dalam hati
“Joni...buka ikatan yang menutupi matamu itu, sekarang.” Perintah Micha, aku yang masih bingung mengikuti saja perintahnya itu. Dan... Tada... sebuah kejutan,  2 buah lilin merangkai angka 21 berdiri tegak diatas sebuah Kue Tart indah yang berhiaskan sebuah tulisan “Happy Birthday Joni” melihat itu aku malah semakin bingung,segera aku edarkan pandanganku ke segala arah dan melihat teman temanku berada disana,mereka menyanyikan sebuah lagu Happy Birthday untukku. Aku tersenyum senang dan ku lihat Micha tersenyum manis sungguh manis, ia sangat cantik.
“Joni... selamat Ulang Tahun sayang. Aku mencintaimu.” Kata Micha dengan senyuman manisnya, aku merebut kue yang ada ditangannya dan ku berikan kepada Ridwan yang juga ada disebelahku,segera ku tarik tubuh Micha dan ku peluk erat,tx terasa air mataku mengalir.
“kenapa Jon?”tanya Micha,namun aku masih saja memeluknya tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.
“aku takut kau diculik tadi,” kataku setelah ku lepaskan pelukan ini, Micha hanya nyengir Gaje mendengar kekhawatiranku itu, aish... dasar!
“Maaf, itu hanya sandiwara.haha” aku sebal mendengarnya tertawa seperti itu, beraninya dia meledekku.ish!
#Flashback end
“Mas, mau beli yang mana?” Tanya seorang penjaga membuatku sadar dari lamunanku tadi.
“ehm... iya Mbak, saya mau beli Gelang Perak itu,” jawabku seraya menunjuk sebuah gelang Perak yang tadi aku pandangi cukup lama, penjaga itu segera mengambil Gelang tersebut dan segera aku bayar saja, kemudian aku kembali untuk melihat ibuku. Tiba disana, aku melihat ibu yang sedang duduk disebuah kursi tampaknya ia sedang menungguku, kulangkahkan kakiku menghampiri ibu, ia tersenyum memandangiku.
“maaf membuat ibu menunggu lama.” Kataku dengan sesopan mungkin,ia hanya mengangguk. Lalu berdiri dari duduknya, kami pun segera pergi dari tempat itu.
Aku pergi ke taman yang dulu pernah digunakan untuk membuatku seperti terasa diculik, aku duduk di kursi panjang tepat dibawah sebuah Pohon yang rindang, aku berharap Micha berada disini, menemaniku dan mau memaafkan kebodohanku itu.
“Micha~maafkan aku.” Gumamku pelan sembari menatap tempat kosong disampingku. Tak lama kemudian ponselku berdering, tanpa ku tahu siapa yang menelpon langsung saja ku jawab panggilan telpon itu.
“Joni, kau dimana sekarang?” Kata seorang gadis diseberang telpon, aku diam tak percaya karena yang menelponku adalah Micha.
“Jon... kau dimana sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.”
“ya, aku ditaman,”
 ‘Tuuuttt.’ Lah, telponnya dimatiin, ada apa dengan Micha? Aku melihat sekelilingku dan disana ada Gadis yang aku rindukan, Micha. Dia berada diseberang Jalan hendak menuju ketaman. Aku tersenyum kecil dan berdiri dari dudukku.
Saat ini Micha sudah berada didepanku,aku tak percaya itu. Ia terlihat begitu manis dan aku benar benar merindukannya. aku melangkah semakin mendekatinya dan ku peluk tubuhnya,ia membalas pelukanku. Aku sangat senang bisa melihatnya lagi, aku bisa memeluknya lagi. Aku sungguh merindukannya.
“aku...aku merindukanmu Jon.” Ku dengar kata kata itu dari Bibirnya,aku masih memeluknya dengan erat.
“aku tak bisa jauh darimu, aku salah karena aku membiarkanmu memilih orang lain.maafkan aku jon.” Kata Micha lagi, kemudian aku melepaskan pelukanku dan ku tatap matanya yang penuh dengan air mata,disana terdapat ketulusan yang sungguh aku rindukan. Aku tersenyum dan membelai rambutnya yang terurai panjang.
“Jon...” ku letakan jari telunjukku diatas bibirnya agar ia berhenti bicara karena saatnya akulah yang harus berbicara.
“hust... cukup, sekarang dengarkan aku.” Ia terdiam menatapku dengan wajah polosnya
“aku merindukanmu, aku sangat sangat merindukanmu, aku baru sadar bahwa yang aku cintai adalah kau Micha, bukan Ulfi, karena dia hanya menghiasi Mimpiku saja, tapi kau adalah gadis nyata yang menghiasi Duniaku. Maafkan aku Micha.” Kataku dengan Jujur,ia tersenyum haru mendengarnya,lalu giliran dia yang memelukku, haha
“aku mencintaimu Micha,aku rindu senyummu,aku rindu kau dengan semua tingkah dan ketulusanmu. Aku rindu duniaku,” kata ku sembari terus memeluk Micha. Perlahan Micha melepaskan pelukan itu membuatku menatapnya.
“aku ingin kau memilikinya,” aku mengeluarkan dompet dan menunjukan gelang yang tadi aku beli, ia tersenyum senang dan segera mengulurkan tangan kanannya. Ku kenakan dengan hati hati dilengannya,sangat serasi dengan kulitnya yang putih.
“kau terlihat sempurna bagiku,” aku sedikit menggodanya,rona merah muncul dikedua pipinya membuatku gemas ingin mencubitya. Tapi malah aku yang mendapat cubitan kecil di pipiku,haha
Dan pada akhirnya aku kembali bersama Micha, aku menjalani hari hari indah bersamanya dan aku mulai mengurangi sikap genitku terhadap gadis manapun karena aku tak ingin jauh lagi dari kekasihku itu aku tak mau membuat senyum manisnya hilang karena semua tingkah konyolku, cukup 3 hari hidupku tanpa dia dan itu sangat menyiksa.


The End


Winnie The Pooh Bear Shake