Sesampainya dirumah
waktu sudah menunjukan pukul 10.30, Ifdo dibiarkan beristirahat di kamarnya
sedangkan sahabat sahabatnya tengah berkumpul diruang tamu tanpa Ridwan dan Andri
yang memang sudah pamit pulang karena besok dia harus bekerja.
“Put, kawankan aku buat
teh iox?” ajak Siti
“ok.” Putri dan siti
pergi ke dapur bersama.
“menurut kalian kenape
ifdo sampe minta pulang?” Tanya Narto yang dari tadi menahan rasa penasarannya.
“heeem Ifdo memang tak
suke rumah sakit, die paling anti yang namenye dibedah.” jawab Eva
“tapi kan die age sakit
va.” sahut Narto
“bise jadi ade hal
lain, mungkin ifdo lihat sesuatu yang endak die suke.” timpal Hendra
“rumah sakit la dah,
ape agi?!” jawab eva yang tidak mau terpengaruh dengan pikiran kedua pria ini,
ia tahu pasti yang ada dalam pikiran kedua pria itu adalah hal mistis.
Ifdo merasa ada yang
mencengkrang kaki kirinya, seperti kuku kuku tajam yang menusuk kedalam daging
pada kakinya tersebut. Ifdo mencoba membuka matanya perlahan untuk melihat
keadaan kakinya. Ifdo kaget karena tidak ada siapa siapa selain dirinya sendiri
didalam kamar namun kakinya terasa sangat sakit dan darah mengalir dari luka
luka bekas cengkraman pada kakinya.
“AAAAKKKHHHHHH….” ifdo
menjerit kesakitan dan berhasil membuat teman temannya berhamburan masuk
kekamarnya. Siti dan Putri kaget melihat keadaan kaki ifdo yang terluka.
“do, kenape nih?” Tanya
siti panik.
“endak tau hyung,
bangon tidok dah macam ini, saket hyung.” rengek ifdo, membuat teman temannya
bingung.
“kok bise?” Tanya
hendra heran.
“mane tau.” jawab ifdo
“put, ambilkan betadin,
kapas same plaster di kamar aku.” perintah siti, putri segera pergi ke kamar
siti.
“bagos kite perikse
sekitar rumah ini, mungkin pelakunye tak jaoh dari rumah.” ajak Narto yang
langsung disetujui oleh hendra, mereka kemudridwan pergi keluar untuk memeriksa
keadaan sekitar rumah.
“nah sit.” putri menyerahkan
barang barang tersebut kepada siti kemudridwan siti mengobati kaki ifdo yang
terluka.
“pelan pelan la hyung.”
protes ifdo
“ini udah pelan do,
name gak luka, saket laa.”
“aog hyung nih,”
“do, benar kau tak
lihat siape orangnye?”
“mane tau hyung, aku
bangon tidok dah cam ini kaki tuh.” jawab Ifdo. Siti menatap ifdo dengan penuh
rasa penasaran begitu pula dengan putri. Sementara itu Narto dan Hendra masih
mencari siapa pelaku yang melukai ifdo namun tidak ada hasilnya.
“aneh gak. kok bise
langsung ilang orangnye.” kata Narto sembari mengedarkan pandangan matanya.
“ dah la kite masok ke
dalam jak.” ajak Hendra mendahului Narto masuk kerumah, ia melangkah cepat
masuk ke kamar ifdo. Hendra duduk ditepi ranjang disebelah kiri ifdo.
“lukanye parah tak?” Tanya
Hendra khawatir.
“tak tau hen, tapi
mungkin agak dalam. kite bawa kedokter jak.” usul eva
“endak! ifdo endak mao
ke rumah sakit. nanti dijahit.” bantah ifdo dengan nada tinggi
“daripade tenganga kaki
kau do, bagos dijahit. cepat semboh.” jawab siti
“endak, ifdo ndak mao
kena pisau bedah age!” bentak ifdo membuat siti menatapnya dengan kesal.
“udah la, jangan pake
bentak bentak!” balas Siti sebal, ifdo balas menatapnya dengan kesal. Putri,
Eva, Narto dan Hendra merasa ada yang aneh dengan kedua gadis itu.
“udah la… endak usah ribut.
bagos siti kawankan abang nonton yok…?” ajak Narto sembari meraih tangan siti.
“kau nih, udah bagos
aku obatkan, malah marah marah pula!” kata siti dengan sinisnya
“makaseh la!” jawab
ifdo tak kalah sinisnya, Narto langsung menarik siti keluar dari kamar ifdo.
“kok ifdo gitu? kan
niat siti baek.” seru Hendra membuat Ifdo menatapnya kesal.
“dah la, kalian keluar
dari kamar ini, aku nak tidok!” usir ifdo, ia membaringkan tubuhnya
membelakangi putrid an Hendra yang merasa heran. Putri mengajak Hendra
meninggalkan sendiri.
“Hen… kayak ade yang
aneh dengan siti.” bisik Eva
“aog, tapi ifdo endak
pernah kan marah macam gitu same kalian?” tanya hendra
“endak sih, paling
gurau dan siti tuh endak pernah marah juga.” jawab putri, hal itu membuat
keduanya merasa aneh sendiri.
diruang tengah, putri
dan hendra menghampiri Narto dan siti.
“sit… kau ngape marah
same ifdo?”
“aku????” Tanya siti
bingung.
“iyeee. kau ngape marah
same die?” Tanya putri
“die buat aku kesal.
dah tak usah dibahas.” jawab siti dingin
“abang pulang dulu yeh.
udah malam.” kata Narto sembari berdiri.
“eeeh jangan pulang
laaa,” rengek siti
“udah malam dek, endak
enak same tetangga.” jawab Narto sembari tersenyum
“iye, besok kite balek
age kesini bah.” sahut Hendra, Siti tersenyum kecut mendapat jawaban itu.
“hahah besok pagi abang
kesini age, ok… abang pulang daaah.” pamit Narto melangkah keluar rumah diikuti
oleh Hendra.
“dah la aku nak tidok,
ngantok woy.” seru siti meninggalkan putri dan eva
“heeem lalu lah kite
ditinggalkannye.” kata putri
“dah laa kite tidok
jak, ngantok juga put.” ajak eva mendahului putri menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Siti
dan eva tengah menyiapkan sarapan pagi sementara putri masih asyik di kamar
mandi dan ifdo masih berada dikamarnya.
“va… garamnye kurang
tuh. tolong kasi kan ke sayur tuh.” pinta siti, eva meraih tempat garam dan
menaburkan garam kedalam panic yang berisi sayur.
“siti… cobe gak kau
bangonkan ifdo. die kan harus minum obat.” kata eva yang melihat siti selesai
menaruh piring diatas meja.
“ok va.” jawab siti
yang langsung melangkah menuju kamar ifdo, sebelum sampai kamar ifdo, ia
melewati kamarnya sendiri yang tadi pintunya tertutup namun sekarang malah
terbuka.
“eoh? siape nih yang
didalam?” gumam siti, ia masuk kekamarnya. ketika diambang pintu ia melihat
seorang gadis bergaun merah berada didepan jendela dengan tirai merah yang
sudah berada disamping. gadis itu membelakangi pintu dan otomatis siti tak bisa
melihat wajah gadis itu. siti masuk ke kamar dan kini berada 3 langkah
dibelakang gadis tersebut.
“kau siape?” Tanya siti
“…”
“hello… kau siape?
masok ke kamar aku tanpa izin age tuh.” omel siti. gadis itu tetap diam membuat
siti geram dan semakin mendekati gadis itu, siti memegang bahu gadis tadi dan
membalikan gadis itu agar menghadap padanya. alangkah kagetnya ia saat melihat
bahwa gadis itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan futri namun tak
memiliki mata dengan wajah berlumuran darah, gadis itu menyeringai dan bersuara
sangat mengerikan.
“aaaarrrggghhhh….”
pekik siti sembari berlar keluar menghindari gadis itu namun saat melewati
tempat tidurnya, kakinya dililit sesuatu. siti semakin berteriak ketakutan
karena yang melilit kakinya itu adalah tirai jendelaya yang berwarna merah.
“toloooooong!” pekik
siti sembari melepaskan lilitan dikakinya. tirai itu semakin menjerat dan
menarik kaki siti hingga kepala siti membentur kaki ranjang dan pingsan
ditempat.
sementara itu…
“mane budak nih, lama
benar.” omel eva, futri dan ifdo datang.
“mane siti?” Tanya eva
“siti? laaah ka die
masak same angah.” jawab futri.
“memang, tapi eva suruh
die manggil ifdo di kamar, memangnye siti tak kesana ke?” tanay eva
“tak ade ngah, aku
kesini same uput nah.” jawab ifdo, mendengar jawaban itu eva jadi heran.
“laaaah. trus kemane
anak itu?? ckck…”
“biar aku yang panggil,
mungkin die ke toilet.” seru putri yang langsung beranjak dari ruang makan
menuju toilet.
“kalian udah baikan
kan?” Tanya eva
“baikan??? siape?” Tanya
Ifdo bingung, eva menatap ifdo.
“eiiih siti sama ifdo
la.” jawab eva yang dipenuhi kebingungan begitu pula dengan ifdo yang tidak
mengerti arah pembicaraan eva.
“apekeh angah nih. kite
bah baik baik je. hahha” jawab ifdo
“hoooo bagus lah.” kata
eva, ia tak ingin melanjutkan pembicaraan lagi karena akan semakin bingung dan
ia merasa ada kejanggalan dirumah ini.
“sitiiii. kau di toilet
ke??” Teriak futri didepan toilet, ia membuka pintu dan tidak ada siapa siapa
didalam sana. futri berjalan menuju kamar siti yang terbuka lebar. ia masuk dan
melihat siti tergeletak dilantai dengan luka dikepalanya.
“sitiiiii!~”teriak
futri menghampiri tubuh siti, ia memeluk siti dan memanggil kedua sahabatnya.
“hyuuuung… angaaaah.
siti pingsaaaaaaaaaaaaan!” pekik futri, eva datang sembari memapah tubuh ifdo,
ia membuat ifdo duduk dikursi belajar siti kemudridwan membantu futri
mengangkat tubuh siti keatas ranjang.
“kok bise jatuh? luka
age tuh.” kata eva
“endak tau ngah, kamek
kesini die udah dibawah.” jawa futri gemetaran karena pani.”
“ifdo telpon bang narto
yeh.”
“halloo… ngape dek?” Tanya
narto diseberang telepon.
“bang, cepat datamg
kerumah. hyung luka. cepat laaa.”
“iye dek, abang kesana.”
ifdo memutuskan sambungan telepon dan meletakan ponselya diatas meja.
“hyuuung, gimane nih?” Tanya
futri
“obatkan lah lukanye di
kepala die tuh.” kata ifdo, futri dengan sikap meraih kotak obat di lemari
siti.
“angah yang obatkan
lah, kamek tak sanggop lihat darahnye.”
“eeehm kau nih put put.”
eva mengobati kepala siti yang berdarah. tak lama kemudridwan terdengar pintu
yang diketuk. futri segera beranjak menuju pintu rumah dan membukanya, ketika
dibuka narto berlari menuju kamar siti diikuti hendra dan andri dibelakang
meninggalkan futri bersama ridwan.
“kak siti kenape kak?” Tanya
ridwan sembari berjalan bersama futri masuk ke dalam rumah.
“kamek pon tak tau,
siti tuh udah teluka pas kamek masuk kekamarnye.” jawab futri.
“deeek… kenape nih?” Tanya
narto panik, ia duduk disamping siti yang tengah terbaring.
“vaa. kok siti bise
luka?” Tanya narto khawatir.
“eva pon endak tau.”
“perlu dibawa ke dokter
tak?” Tanya hendra
“endak, dia bah Cuma
terbentur jak.” jawab eva
“benar kalian endak
tau?” Tanya narto curiga, ia melihat kearah ifdo.
“kamek endak tau bang.”
jawab ifdo
“mungkin die terpeleset
dan kepalanye terbentur kayu ditepi kasurnye.” kata andri.
“bise jadi tuh, tau
laaah ifdo jak luka. nak berjalan jak susah.” sambung hendra.
“siti… bangon laaah.”
kata narto sembari menepuk nepuk pipi siti dengan pelan. siti mengerjapkan
matanya dan melihat narto berada disampingya, ia langsung memeluk tubuh narto
dengan gemetaran. ia ketakutan dan menangis.
“bang… aku takot, tadi…”
narto membelai rambut siti, ia merasakan tubuh siti yang gemetaran ketakutan.
“iye dek, ade ape nih?
cerite pelan pelan yeh.” kata narto dengan lembut.
“tadi… aku lihat putri,
muke die tuh banyak darah dan die ketawa seram sekali. aku takot.” jawab siti,
narto melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis yang ada didepannya ini.
“deeek… futri baek baek
jak tuh, adek mimpi buruk kali.” kata narto
“endak bang, aku lihat
sendiri. sumpah.” kata siti mencoba meyakinkan kekasihnya juga teman temannya.
“tapi tadi kami tuh ade
didapur hyung, “ kata ifdo
“tapi ini serius do.”
kata siti lagi
“daaah. sekarang kite
sarapan dulu, nanti kite bahas age. adek pasti belom sarapan kaaan.” ajak
narto.
“endak, aku tak selera
makan.”
“deek, abang belom
makan juga, yok lah kite makan same same.” ajak Narto sembari tersenyum.
“ifdo pon lapar. hehe”
seru ifdo mencoba berdiri yang dibantu oleh hendra.
“eva duluan yeh, nak
nambah piring lok, yok yang…” eva pergi keluar bersama andri, diikuti oleh
hendra dan ifdo.
“masih sakit ke?” Tanya
Narto penuh perhatridwan sembari meraba kepala siti, siti tersenyum malu.
“sedikit pusing bang.
dah laa yok kite ke ruang makan, kesridwan abang nanti kan nak latihan kan.”
kata siti sembari berdiri dibantu oleh narto, mereka keluar dari kamar.
sore hari….
“hyung… kalau mau ape
ape bilang jak same abang. haha” ifdo mengejek siti
“abang age latihan
laaa. mane bise dipanggel.” jawab siti
“kan hyung age sakit
tuh, seharusnye die libor lok latihannye.” kata ifdo lagi
“eeeh ngade ngade, kana
de kau disini.” balas siti.
“sit… hyung… kamek
pergi lok yeeeh.” seru futri melewati ruang tengah dimana ifdo dan siti
berbincang sekarang.
“aog, hati hati put.”
pekik ifdo.
“aku nak ke toilet lok.”
siti berdiri dan beranjak meninggalkan ifdo bersama eva disana.
“angah tak kerje ke?” Tanya
ifdo.
“endak, eva udah izin
same bos, mau jage kalian.” jawab eva
“weeeei angah baeknyee.”
tiba tiba…..
“evaaaaaaa!” teriak
siti dari yang terdengar kencang, eva segera berlari menghampiri siti.
“ape sit? teriak teriak
macam dihutan jak. ngape?” Tanya eva yang kini sedang dibelakang siti, eva
semakin mendekati siti, ketika siti berbalik siti langsung menacapkan pisau
yang ada ditangannya kepundak eva.
“aaarrkkkhhhh siti…
ngape siti nih…” kata eva menjauh dari siti.
“hahahahha….” siti
tertawa puas, ia menarik lengan eva hingga tubuh eva menabrak tubuh siti,
anehnya tubuh siti tidak goyang sedikitpun, eva berusaha melepaskan diri dari
siti namun siti dengan cepat menancapkan pisaunya diatas punggung eva. eva
menggenggam bahu siti dengan kuat, ia menahan rasa sakit yang menghujam punggungnya.
“siiiitiiiiii… ini
eevvvaaa siiit.” kata eva terbata bata, siti medorong tubuh eva dan melangkah
meninggalkan eva yang kesakitan dilantai. siti berjalan tertatih menuju ruang
tengah, ia hendak menghampiri ifdo.
“ifdooooo lari
sekaraaang!” pekik eva, mendengar itu ifdo mencoba berdiri, ketika berdiri ia
melihat siti tengah menggenggam sebuah pisau ditangan kirinya yang berlumuran
darah, ifdo menatap siti dengan takut.
“hyuuung… kauuu ngape
bawa pisau tuuh?” ifdo mencoba melangkah mundur, ia melihat kornea mata siti
berwarna hitam pekat. siti semakin mendekat dan mengacungkan pisau didepan
wajah ifdo.
“hyuuuung… sadar hyung.
ini ifdo.” ifdo mencoba menyadarkan siti.
“hyuuuuuuuuuuuuuunnngg….”
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar