Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Jerat Tirai Merat part 3

Sabtu, 09 Januari 2016

Jerat Tirai Merat part 3


Sesampainya dirumah waktu sudah menunjukan pukul 10.30, Ifdo dibiarkan beristirahat di kamarnya sedangkan sahabat sahabatnya tengah berkumpul diruang tamu tanpa Ridwan dan Andri yang memang sudah pamit pulang karena besok dia harus bekerja.
“Put, kawankan aku buat teh iox?” ajak Siti
“ok.” Putri dan siti pergi ke dapur bersama.
“menurut kalian kenape ifdo sampe minta pulang?” Tanya Narto yang dari tadi menahan rasa penasarannya.
“heeem Ifdo memang tak suke rumah sakit, die paling anti yang namenye dibedah.” jawab Eva
“tapi kan die age sakit va.” sahut Narto
“bise jadi ade hal lain, mungkin ifdo lihat sesuatu yang endak die suke.” timpal Hendra
“rumah sakit la dah, ape agi?!” jawab eva yang tidak mau terpengaruh dengan pikiran kedua pria ini, ia tahu pasti yang ada dalam pikiran kedua pria itu adalah hal mistis.
@Dikamar
Ifdo merasa ada yang mencengkrang kaki kirinya, seperti kuku kuku tajam yang menusuk kedalam daging pada kakinya tersebut. Ifdo mencoba membuka matanya perlahan untuk melihat keadaan kakinya. Ifdo kaget karena tidak ada siapa siapa selain dirinya sendiri didalam kamar namun kakinya terasa sangat sakit dan darah mengalir dari luka luka bekas cengkraman pada kakinya.
“AAAAKKKHHHHHH….” ifdo menjerit kesakitan dan berhasil membuat teman temannya berhamburan masuk kekamarnya. Siti dan Putri kaget melihat keadaan kaki ifdo yang terluka.
“do, kenape nih?” Tanya siti panik.
“endak tau hyung, bangon tidok dah macam ini, saket hyung.” rengek ifdo, membuat teman temannya bingung.
“kok bise?” Tanya hendra heran.
“mane tau.” jawab ifdo
“put, ambilkan betadin, kapas same plaster di kamar aku.” perintah siti, putri segera pergi ke kamar siti.
“bagos kite perikse sekitar rumah ini, mungkin pelakunye tak jaoh dari rumah.” ajak Narto yang langsung disetujui oleh hendra, mereka kemudridwan pergi keluar untuk memeriksa keadaan sekitar rumah.
“nah sit.” putri menyerahkan barang barang tersebut kepada siti kemudridwan siti mengobati kaki ifdo yang terluka.
“pelan pelan la hyung.” protes ifdo
“ini udah pelan do, name gak luka, saket laa.”
“aog hyung nih,”
“do, benar kau tak lihat siape orangnye?”
“mane tau hyung, aku bangon tidok dah cam ini kaki tuh.” jawab Ifdo. Siti menatap ifdo dengan penuh rasa penasaran begitu pula dengan putri. Sementara itu Narto dan Hendra masih mencari siapa pelaku yang melukai ifdo namun tidak ada hasilnya.
“aneh gak. kok bise langsung ilang orangnye.” kata Narto sembari mengedarkan pandangan matanya.
“ dah la kite masok ke dalam jak.” ajak Hendra mendahului Narto masuk kerumah, ia melangkah cepat masuk ke kamar ifdo. Hendra duduk ditepi ranjang disebelah kiri ifdo.
“lukanye parah tak?” Tanya Hendra khawatir.
“tak tau hen, tapi mungkin agak dalam. kite bawa kedokter jak.” usul eva
“endak! ifdo endak mao ke rumah sakit. nanti dijahit.” bantah ifdo dengan nada tinggi
“daripade tenganga kaki kau do, bagos dijahit. cepat semboh.” jawab siti
“endak, ifdo ndak mao kena pisau bedah age!” bentak ifdo membuat siti menatapnya dengan kesal.
“udah la, jangan pake bentak bentak!” balas Siti sebal, ifdo balas menatapnya dengan kesal. Putri, Eva, Narto dan Hendra merasa ada yang aneh dengan kedua gadis itu.
“udah la… endak usah ribut. bagos siti kawankan abang nonton yok…?” ajak Narto sembari meraih tangan siti.
“kau nih, udah bagos aku obatkan, malah marah marah pula!” kata siti dengan sinisnya
“makaseh la!” jawab ifdo tak kalah sinisnya, Narto langsung menarik siti keluar dari kamar ifdo.
“kok ifdo gitu? kan niat siti baek.” seru Hendra membuat Ifdo menatapnya kesal.
“dah la, kalian keluar dari kamar ini, aku nak tidok!” usir ifdo, ia membaringkan tubuhnya membelakangi putrid an Hendra yang merasa heran. Putri mengajak Hendra meninggalkan sendiri.
“Hen… kayak ade yang aneh dengan siti.” bisik Eva
“aog, tapi ifdo endak pernah kan marah macam gitu same kalian?” tanya hendra
“endak sih, paling gurau dan siti tuh endak pernah marah juga.” jawab putri, hal itu membuat keduanya merasa aneh sendiri.
diruang tengah, putri dan hendra menghampiri Narto dan siti.
“sit… kau ngape marah same ifdo?”
“aku????” Tanya siti bingung.
“iyeee. kau ngape marah same die?” Tanya putri
“die buat aku kesal. dah tak usah dibahas.” jawab siti dingin
“abang pulang dulu yeh. udah malam.” kata Narto sembari berdiri.
“eeeh jangan pulang laaa,” rengek siti
“udah malam dek, endak enak same tetangga.” jawab Narto sembari tersenyum
“iye, besok kite balek age kesini bah.” sahut Hendra, Siti tersenyum kecut mendapat jawaban itu.
“hahah besok pagi abang kesini age, ok… abang pulang daaah.” pamit Narto melangkah keluar rumah diikuti oleh Hendra.
“dah la aku nak tidok, ngantok woy.” seru siti meninggalkan putri dan eva
“heeem lalu lah kite ditinggalkannye.” kata putri
“dah laa kite tidok jak, ngantok juga put.” ajak eva mendahului putri menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Siti dan eva tengah menyiapkan sarapan pagi sementara putri masih asyik di kamar mandi dan ifdo masih berada dikamarnya.
“va… garamnye kurang tuh. tolong kasi kan ke sayur tuh.” pinta siti, eva meraih tempat garam dan menaburkan garam kedalam panic yang berisi sayur.
“siti… cobe gak kau bangonkan ifdo. die kan harus minum obat.” kata eva yang melihat siti selesai menaruh piring diatas meja.
“ok va.” jawab siti yang langsung melangkah menuju kamar ifdo, sebelum sampai kamar ifdo, ia melewati kamarnya sendiri yang tadi pintunya tertutup namun sekarang malah terbuka.
“eoh? siape nih yang didalam?” gumam siti, ia masuk kekamarnya. ketika diambang pintu ia melihat seorang gadis bergaun merah berada didepan jendela dengan tirai merah yang sudah berada disamping. gadis itu membelakangi pintu dan otomatis siti tak bisa melihat wajah gadis itu. siti masuk ke kamar dan kini berada 3 langkah dibelakang gadis tersebut.
“kau siape?” Tanya siti
“…”
“hello… kau siape? masok ke kamar aku tanpa izin age tuh.” omel siti. gadis itu tetap diam membuat siti geram dan semakin mendekati gadis itu, siti memegang bahu gadis tadi dan membalikan gadis itu agar menghadap padanya. alangkah kagetnya ia saat melihat bahwa gadis itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan futri namun tak memiliki mata dengan wajah berlumuran darah, gadis itu menyeringai dan bersuara sangat mengerikan.
“aaaarrrggghhhh….” pekik siti sembari berlar keluar menghindari gadis itu namun saat melewati tempat tidurnya, kakinya dililit sesuatu. siti semakin berteriak ketakutan karena yang melilit kakinya itu adalah tirai jendelaya yang berwarna merah.
“toloooooong!” pekik siti sembari melepaskan lilitan dikakinya. tirai itu semakin menjerat dan menarik kaki siti hingga kepala siti membentur kaki ranjang dan pingsan ditempat.
sementara itu…
“mane budak nih, lama benar.” omel eva, futri dan ifdo datang.
“mane siti?” Tanya eva
“siti? laaah ka die masak same angah.” jawab futri.
“memang, tapi eva suruh die manggil ifdo di kamar, memangnye siti tak kesana ke?” tanay eva
“tak ade ngah, aku kesini same uput nah.” jawab ifdo, mendengar jawaban itu eva jadi heran.
“laaaah. trus kemane anak itu?? ckck…”
“biar aku yang panggil, mungkin die ke toilet.” seru putri yang langsung beranjak dari ruang makan menuju toilet.
“kalian udah baikan kan?” Tanya eva
“baikan??? siape?” Tanya Ifdo bingung, eva menatap ifdo.
“eiiih siti sama ifdo la.” jawab eva yang dipenuhi kebingungan begitu pula dengan ifdo yang tidak mengerti arah pembicaraan eva.
“apekeh angah nih. kite bah baik baik je. hahha” jawab ifdo
“hoooo bagus lah.” kata eva, ia tak ingin melanjutkan pembicaraan lagi karena akan semakin bingung dan ia merasa ada kejanggalan dirumah ini.
“sitiiii. kau di toilet ke??” Teriak futri didepan toilet, ia membuka pintu dan tidak ada siapa siapa didalam sana. futri berjalan menuju kamar siti yang terbuka lebar. ia masuk dan melihat siti tergeletak dilantai dengan luka dikepalanya.
“sitiiiii!~”teriak futri menghampiri tubuh siti, ia memeluk siti dan memanggil kedua sahabatnya.
“hyuuuung… angaaaah. siti pingsaaaaaaaaaaaaan!” pekik futri, eva datang sembari memapah tubuh ifdo, ia membuat ifdo duduk dikursi belajar siti kemudridwan membantu futri mengangkat tubuh siti keatas ranjang.
“kok bise jatuh? luka age tuh.” kata eva
“endak tau ngah, kamek kesini die udah dibawah.” jawa futri gemetaran karena pani.”
“ifdo telpon bang narto yeh.”
“halloo… ngape dek?” Tanya narto diseberang telepon.
“bang, cepat datamg kerumah. hyung luka. cepat laaa.”
“iye dek, abang kesana.” ifdo memutuskan sambungan telepon dan meletakan ponselya diatas meja.
“hyuuung, gimane nih?” Tanya futri
“obatkan lah lukanye di kepala die tuh.” kata ifdo, futri dengan sikap meraih kotak obat di lemari siti.
“angah yang obatkan lah, kamek tak sanggop lihat darahnye.”
“eeehm kau nih put put.” eva mengobati kepala siti yang berdarah. tak lama kemudridwan terdengar pintu yang diketuk. futri segera beranjak menuju pintu rumah dan membukanya, ketika dibuka narto berlari menuju kamar siti diikuti hendra dan andri dibelakang meninggalkan futri bersama ridwan.
“kak siti kenape kak?” Tanya ridwan sembari berjalan bersama futri masuk ke dalam rumah.
“kamek pon tak tau, siti tuh udah teluka pas kamek masuk kekamarnye.” jawab futri.
“deeek… kenape nih?” Tanya narto panik, ia duduk disamping siti yang tengah terbaring.
“vaa. kok siti bise luka?” Tanya narto khawatir.
“eva pon endak tau.”
“perlu dibawa ke dokter tak?” Tanya hendra
“endak, dia bah Cuma terbentur jak.” jawab eva
“benar kalian endak tau?” Tanya narto curiga, ia melihat kearah ifdo.
“kamek endak tau bang.” jawab ifdo
“mungkin die terpeleset dan kepalanye terbentur kayu ditepi kasurnye.” kata andri.
“bise jadi tuh, tau laaah ifdo jak luka. nak berjalan jak susah.” sambung hendra.
“siti… bangon laaah.” kata narto sembari menepuk nepuk pipi siti dengan pelan. siti mengerjapkan matanya dan melihat narto berada disampingya, ia langsung memeluk tubuh narto dengan gemetaran. ia ketakutan dan menangis.
“bang… aku takot, tadi…” narto membelai rambut siti, ia merasakan tubuh siti yang gemetaran ketakutan.
“iye dek, ade ape nih? cerite pelan pelan yeh.” kata narto dengan lembut.
“tadi… aku lihat putri, muke die tuh banyak darah dan die ketawa seram sekali. aku takot.” jawab siti, narto melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis yang ada didepannya ini.
“deeek… futri baek baek jak tuh, adek mimpi buruk kali.” kata narto
“endak bang, aku lihat sendiri. sumpah.” kata siti mencoba meyakinkan kekasihnya juga teman temannya.
“tapi tadi kami tuh ade didapur hyung, “ kata ifdo
“tapi ini serius do.” kata siti lagi
“daaah. sekarang kite sarapan dulu, nanti kite bahas age. adek pasti belom sarapan kaaan.” ajak narto.
“endak, aku tak selera makan.”
“deek, abang belom makan juga, yok lah kite makan same same.” ajak Narto sembari tersenyum.
“ifdo pon lapar. hehe” seru ifdo mencoba berdiri yang dibantu oleh hendra.
“eva duluan yeh, nak nambah piring lok, yok yang…” eva pergi keluar bersama andri, diikuti oleh hendra dan ifdo.
“masih sakit ke?” Tanya Narto penuh perhatridwan sembari meraba kepala siti, siti tersenyum malu.
“sedikit pusing bang. dah laa yok kite ke ruang makan, kesridwan abang nanti kan nak latihan kan.” kata siti sembari berdiri dibantu oleh narto, mereka keluar dari kamar.
sore hari….
“hyung… kalau mau ape ape bilang jak same abang. haha” ifdo mengejek siti
“abang age latihan laaa. mane bise dipanggel.” jawab siti
“kan hyung age sakit tuh, seharusnye die libor lok latihannye.” kata ifdo lagi
“eeeh ngade ngade, kana de kau disini.” balas siti.
“sit… hyung… kamek pergi lok yeeeh.” seru futri melewati ruang tengah dimana ifdo dan siti berbincang sekarang.
“aog, hati hati put.” pekik ifdo.
“aku nak ke toilet lok.” siti berdiri dan beranjak meninggalkan ifdo bersama eva disana.
“angah tak kerje ke?” Tanya ifdo.
“endak, eva udah izin same bos, mau jage kalian.” jawab eva
“weeeei angah baeknyee.”
tiba tiba…..
“evaaaaaaa!” teriak siti dari yang terdengar kencang, eva segera berlari menghampiri siti.
“ape sit? teriak teriak macam dihutan jak. ngape?” Tanya eva yang kini sedang dibelakang siti, eva semakin mendekati siti, ketika siti berbalik siti langsung menacapkan pisau yang ada ditangannya kepundak eva.
“aaarrkkkhhhh siti… ngape siti nih…” kata eva menjauh dari siti.
“hahahahha….” siti tertawa puas, ia menarik lengan eva hingga tubuh eva menabrak tubuh siti, anehnya tubuh siti tidak goyang sedikitpun, eva berusaha melepaskan diri dari siti namun siti dengan cepat menancapkan pisaunya diatas punggung eva. eva menggenggam bahu siti dengan kuat, ia menahan rasa sakit yang menghujam punggungnya.
“siiiitiiiiii… ini eevvvaaa siiit.” kata eva terbata bata, siti medorong tubuh eva dan melangkah meninggalkan eva yang kesakitan dilantai. siti berjalan tertatih menuju ruang tengah, ia hendak menghampiri ifdo.
“ifdooooo lari sekaraaang!” pekik eva, mendengar itu ifdo mencoba berdiri, ketika berdiri ia melihat siti tengah menggenggam sebuah pisau ditangan kirinya yang berlumuran darah, ifdo menatap siti dengan takut.
“hyuuung… kauuu ngape bawa pisau tuuh?” ifdo mencoba melangkah mundur, ia melihat kornea mata siti berwarna hitam pekat. siti semakin mendekat dan mengacungkan pisau didepan wajah ifdo.
“hyuuuung… sadar hyung. ini ifdo.” ifdo mencoba menyadarkan siti.
“hyuuuuuuuuuuuuuunnngg….”

To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake