Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Cinta Tanpa Batas

Senin, 10 November 2014

Cinta Tanpa Batas

Cintaku Tanpa Batas


Jeje… itu nama panggilanku dirumah, di kampus  dan dimanapun oleh siapapun dan  nama lengkapku Muhammad jefri. Aku mahasiswa di salah satu Universitas terfavorit dan masih semester 3, umurku sudah memasuki 19 tahun.  Saat ini aku sedang mengagumi ehm… bisa di bilang menyukai lah, dia seorang gadis manis berkeRikung, sayangnya dia tidak satu universitas denganku bahkan aku tidak tahu dia kuliah di universitas mana tapi aku bertemu dengannya saat aku sedang makan bareng dengan si Riko, teman karibku yang paling setia.  Dan hingga sekarang aku belum mengetahui siapa namanya, kenapa??! Karena ketika aku bertanya dan mengajaknya berkenalan, ia malah diam seperti mengacuhkan diriku ini dan meskipun begitu, aku tak pernah menyerah. Aku semakin penasaran dengan  gadis itu karena belum pernah ada gadis yang mengacuhkan aku begitu saja, ini Jeje loh… cowok yang lumayan Populer dan aktif disetiap organisasi maupun setiap event.
“Je… cewek itu udah datang, samperin yuk?” ajak Riko antusian, ini yang suka sama tu cewek aku atau dia sih? Hem…
“Je… Jeje… buset dah, Muhammad Jefri!” aku menggosok telinga kananku akibat pekikan si Riko tepat ditelingaku ini, aish… apaan sih ni anak.
“enggak usah pake teriak kali, budeg nanti ni!” balasku sengit padanya, ia hanya terkekeh gelid an menarikku berjalan menghampiri sebuah Warung Soto yang hampir setiap hari kami singgahi, hehe salah… maksudnya yang setiap hari itu Cuma buat aku saja, kalau si Riko mah buat apa dia kemari segala. Sesampainya disana kami duduk di meja yang kosong, Alhamdulillah masih banyak yang kosong, eh… maksudku aku kebagian meja dan kursi sama seperti biasanya, karena warung ini selalu ramai.
“Neng… Soto Ayamnya 2 yah.” Seru Riko yang sepertinya sudah tidak sabaran, orang yang di panggil neng menoleh lalu tersenyum kecil. Ya ampuuun… itu senyumnya buat aku maki suka aja, hehe. Tak lama kemudian pesanan kami datang tapi yang mengantarnya bukan gadis itu melainkan temannya yang lain.
“neng… “ panggil Riko kepada pelayan yang mengantar pesanan kami ini, ini si Riko mau ngapain lagi??
“iya mas, mau pesan apa lagi?”
“bukan neng, tapi mau nanya nih.”
“nanya apa mas?” kata pelayan itu disertai tanyanya lagi. Riko melirik padaku, aku hanya menatapnya tak mengerti.
“neng, nama cewek yang pake  keRudung Coklat itu siapa?” Tanya Riko membuatku hampir menyemburkan teh yang aku minum  tapi segera aku tutupi dengan telapak tanganku.
“apaan sih Rik, enggak usah malu maluin deh.” Ujarku mencegah ulah konyol Riko, gara gara ini bisa jatuh pamorku nanti. Sementara gadis pelayan yang sedang bersama kami ini malah tersenyum kecil namun belum menjawab pertanyaan Riko tadi.
“siapa Neng?” Tanya Riko lagi.
“Nisa… kesini bentar…” panggil gadis pelayan itu, gadis yang di panggil tadi menoleh dan sekarang tengah berjalan menghampiri meja kami, duuuh kenapa jantungku jadi Dag dig Dug gini sih, aahh… jadi keringet dinginkan. Gadis yang di panggil ini berdiri tepat di depan mejaku dan tersenyum kearah kami.
“mas ini mau kenalan sama kamu.” Seru gadis yang bersama kami tadi, aduuuh… kacau nih kacau…
“mas, kenalin dia ini Nisa, Annisa Ubadriah nama lengkapnya.” Kata pelayan tadi, aku tersenyum kecil.
“kenalin diri sendiri dong,” pintaku agak kikuk.
“eh, kamu suka banget ngerepotin orang Je!” hardik Riko sembari menyenggolku dengan sikutnya, aku tak memperdulikan Riko dan masih fokus ke gadis berkeRikung yang ada di hadapanku ini.
“aku Muhammad Jefri, tapi kamu bisa panggil aku Jeje.”  Ujarku seraya mengulurkan tangan kananku kepada gadis ini, ia hanya tersenyum lalu menuliskan sesuatu di sebuah kertas kecil dan menunjukannya padaku.
“saya Annisa Ubadriah, panggil saja Nisa.” Aku membaca tulisan itu, lalu mengerutkan dahiku sembari melihat wajah manisnya.
“kenapa pakai kertas? Aku pengen dengar suaramu.” Pintaku lagi, Si Riko ngedumel sendiri tanpa aku pedulikan karena aku tidak mau melewati kesempatan ini begitu saja, terserahlah si Riko mau ngatai aku apa yang penting aku bisa denger suara Nisa yang sama sekali belum pernah ku dengar.
“Mas… sini …” gadis pelayan yang ada disebelah Nisa ingin mengatakan sesuatu lewat bisikan, aku mendekatkan kepalaku kearahnya dan… betapa kagetnya bahwa gadis manis berkeRikung ini tidak memiliki suara, eh… tidak bisa berbicara alias bisu. Aduuuuh  padahal ini gadis manis banget, kok bisa bisu sih.
“kamu sudah tahu kan, jadi saya permisi dulu  karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Aku membaca catatan itu darinya sebelum ia berbalik pergi bersama temannya tadi. Aku mematung memandangi Nisa yang tengah melayani pegunjung yang datang silih berganti, aku masih berusaha mencerna keadaan saat ini, si Riko malah asik ngabisin Sotonya.
“udah jangan bengong, makan aja.  Kan sekarang udah tau namanya Nisa.” Kata Riko sembari terus menyantap Sotonya, aku masih diam dan menatap gadis itu lagi.
“Je… jangan sampai aku yang ngabisin tu soto.”
“Rik, sayang banget yah… aku enggak bisa dengar suaranya.”
“udah takdir, tapi kamu bisa lihat wajah manisnya kan?” kata Riko mengejekku
“Rik, aku serius nih.”
@  seminggu kemudian,
Sudah seminggu aku membuntuti kemana pun dia pergi, hingga aku bisa tahu siapa orang tuanya, dimana ia kuliah dan penyebab dia tidak bisa bicara. Entah apa yang membuatku bisa seperti ini hanya saja aku ingin sekali ditemani senyuman manis darinya disetiap hari hariku, atau mungkin ini cinta. Saat ini aku sedang berada di depan  gang tempat tinggalnya, kemungkinan 5 menit lagi dia akan sampai disini. Ah… itu dia orangnya, gadis berkeRikung abu abu, sebelum jauh aku mendekatinya dulu.
“assalamu’alaykum…” sapaku, ia menoleh lalu tersenyum, tidak usah dijelasan lagi jika dia tidak menjawab salamku, dia pasti menjawabnya di daam hati.
“mau kerja neng?” tanyaku, ia mengangguk…
“ boleh aku yang antar?” aku menawari jasa pribadi padanya, ia tampak sedang menulis sesuatu di buku kecilnya lalu memperlihatkannya padaku.
‘tidak usah, terima kasih… ‘
“tidak merepotkan kok, dari pada naik angkot. Kan bisa menghemat uang juga.” Tawarku lagi, ia menulis lagi
‘tidak terima kasih.’
“ehm… ya sudah, aku ikuti dari belakang aja deh.” Kataku membuatnya mengerutkan dahi  yang sedikit terlihat olehku, kemudian ia menyetopkan angkot yang lewat di depan kami, sementara ia naik angkot aku mengikutinya dengan motorku.
Sudah 2 minggu aku melakukan kegiatan ini hanya untuk mendapat perhatian darinya dan itu tidak sia sia… ia meresponku dan kami mulai dekat, Alhamdulillah… dan hingga saatnya tiba, aku mulai berani menyatakan perasaanku ini padanya,
“aku menyukaimu, bahkan ini lebih dari sekedar suka. Aku mencintaimu Annisa.” Pernyataanku ini berhasil membuatnya berdiri dari duduknya dan terlihat dari pancaran matanya ia seperti memendam kesedihan.
“kenapa? Apa aku salah ? apa kau tidak menyukaiku?”
‘bukan itu, tapi.. aku gadis yang memiliki keterbatasan,’
“setiap orang memiliki keterbatasan dan merkea juga punya kelebihan yang lain begitu juga denganmu Nis.”
‘aku tidak bisa berkomunikasi dengan baik’
“aku tidak peduli”
‘kau harus peduli dan aku tidak mau kamu diledek oleh teman temanmu yang lain.’
“aku tidak peduli, yang penting aku bisa bersamamu.”
‘cinta itu tidak hanya untuk bersama, butuh saling memahami, dan bagaimana bisa memahami jika aku saja tidak bisa bicara.’
“cukup nis, sekarang aku Tanya, apa kamu suak sama aku? Apa kamu juga cinta sama aku?”
‘aku juga memiliki perasaan yang sama, tapi … sudahlah, kamu anterin aku pulang saja.’ ia berbalik meninggalkanku, tapi segera ku kejar dan aku berdiri tepat didepannya sembari merentangkan kedua tanganku, ia menatapku dengan heran.
“kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama, jadi kamu mau jadi pacarku?” ia memutar kedua bola matanya, lalu menatapku lagi kemudian mengangguk pelan sembari tersenyum.

The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake