Cintaku
Tanpa Batas
Jeje… itu nama
panggilanku dirumah, di kampus dan
dimanapun oleh siapapun dan nama
lengkapku Muhammad jefri. Aku mahasiswa di salah satu Universitas terfavorit
dan masih semester 3, umurku sudah memasuki 19 tahun. Saat ini aku sedang mengagumi ehm… bisa di
bilang menyukai lah, dia seorang gadis manis berkeRikung, sayangnya dia tidak
satu universitas denganku bahkan aku tidak tahu dia kuliah di universitas mana
tapi aku bertemu dengannya saat aku sedang makan bareng dengan si Riko, teman
karibku yang paling setia. Dan hingga
sekarang aku belum mengetahui siapa namanya, kenapa??! Karena ketika aku
bertanya dan mengajaknya berkenalan, ia malah diam seperti mengacuhkan diriku
ini dan meskipun begitu, aku tak pernah menyerah. Aku semakin penasaran
dengan gadis itu karena belum pernah ada
gadis yang mengacuhkan aku begitu saja, ini Jeje loh… cowok yang lumayan
Populer dan aktif disetiap organisasi maupun setiap event.
“Je… cewek itu udah datang,
samperin yuk?” ajak Riko antusian, ini yang suka sama tu cewek aku atau dia
sih? Hem…
“Je… Jeje… buset dah, Muhammad
Jefri!” aku menggosok telinga kananku akibat pekikan si Riko tepat ditelingaku
ini, aish… apaan sih ni anak.
“enggak usah pake teriak kali,
budeg nanti ni!” balasku sengit padanya, ia hanya terkekeh gelid an menarikku
berjalan menghampiri sebuah Warung Soto yang hampir setiap hari kami singgahi,
hehe salah… maksudnya yang setiap hari itu Cuma buat aku saja, kalau si Riko
mah buat apa dia kemari segala. Sesampainya disana kami duduk di meja yang
kosong, Alhamdulillah masih banyak yang kosong, eh… maksudku aku kebagian meja
dan kursi sama seperti biasanya, karena warung ini selalu ramai.
“Neng… Soto Ayamnya 2 yah.” Seru Riko
yang sepertinya sudah tidak sabaran, orang yang di panggil neng menoleh lalu
tersenyum kecil. Ya ampuuun… itu senyumnya buat aku maki suka aja, hehe. Tak
lama kemudian pesanan kami datang tapi yang mengantarnya bukan gadis itu
melainkan temannya yang lain.
“neng… “ panggil Riko kepada
pelayan yang mengantar pesanan kami ini, ini si Riko mau ngapain lagi??
“iya mas, mau pesan apa lagi?”
“bukan neng, tapi mau nanya nih.”
“nanya apa mas?” kata pelayan itu
disertai tanyanya lagi. Riko melirik padaku, aku hanya menatapnya tak mengerti.
“neng, nama cewek yang pake keRudung Coklat itu siapa?” Tanya Riko
membuatku hampir menyemburkan teh yang aku minum tapi segera aku tutupi dengan telapak
tanganku.
“apaan sih Rik, enggak usah malu
maluin deh.” Ujarku mencegah ulah konyol Riko, gara gara ini bisa jatuh pamorku
nanti. Sementara gadis pelayan yang sedang bersama kami ini malah tersenyum
kecil namun belum menjawab pertanyaan Riko tadi.
“siapa Neng?” Tanya Riko lagi.
“Nisa… kesini bentar…” panggil
gadis pelayan itu, gadis yang di panggil tadi menoleh dan sekarang tengah
berjalan menghampiri meja kami, duuuh kenapa jantungku jadi Dag dig Dug gini
sih, aahh… jadi keringet dinginkan. Gadis yang di panggil ini berdiri tepat di
depan mejaku dan tersenyum kearah kami.
“mas ini mau kenalan sama kamu.”
Seru gadis yang bersama kami tadi, aduuuh… kacau nih kacau…
“mas, kenalin dia ini Nisa,
Annisa Ubadriah nama lengkapnya.” Kata pelayan tadi, aku tersenyum kecil.
“kenalin diri sendiri dong,”
pintaku agak kikuk.
“eh, kamu suka banget ngerepotin
orang Je!” hardik Riko sembari menyenggolku dengan sikutnya, aku tak
memperdulikan Riko dan masih fokus ke gadis berkeRikung yang ada di hadapanku
ini.
“aku Muhammad Jefri, tapi kamu
bisa panggil aku Jeje.” Ujarku seraya
mengulurkan tangan kananku kepada gadis ini, ia hanya tersenyum lalu menuliskan
sesuatu di sebuah kertas kecil dan menunjukannya padaku.
“saya Annisa Ubadriah, panggil
saja Nisa.” Aku membaca tulisan itu, lalu mengerutkan dahiku sembari melihat
wajah manisnya.
“kenapa pakai kertas? Aku pengen
dengar suaramu.” Pintaku lagi, Si Riko ngedumel sendiri tanpa aku pedulikan
karena aku tidak mau melewati kesempatan ini begitu saja, terserahlah si Riko
mau ngatai aku apa yang penting aku bisa denger suara Nisa yang sama sekali
belum pernah ku dengar.
“Mas… sini …” gadis pelayan yang
ada disebelah Nisa ingin mengatakan sesuatu lewat bisikan, aku mendekatkan
kepalaku kearahnya dan… betapa kagetnya bahwa gadis manis berkeRikung ini tidak
memiliki suara, eh… tidak bisa berbicara alias bisu. Aduuuuh padahal ini gadis manis banget, kok bisa bisu
sih.
“kamu sudah tahu kan, jadi saya
permisi dulu karena masih banyak
pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Aku membaca catatan itu darinya sebelum ia
berbalik pergi bersama temannya tadi. Aku mematung memandangi Nisa yang tengah
melayani pegunjung yang datang silih berganti, aku masih berusaha mencerna
keadaan saat ini, si Riko malah asik ngabisin Sotonya.
“udah jangan bengong, makan
aja. Kan sekarang udah tau namanya
Nisa.” Kata Riko sembari terus menyantap Sotonya, aku masih diam dan menatap
gadis itu lagi.
“Je… jangan sampai aku yang
ngabisin tu soto.”
“Rik, sayang banget yah… aku
enggak bisa dengar suaranya.”
“udah takdir, tapi kamu bisa
lihat wajah manisnya kan?” kata Riko mengejekku
“Rik, aku serius nih.”
@
seminggu kemudian,
Sudah seminggu aku membuntuti
kemana pun dia pergi, hingga aku bisa tahu siapa orang tuanya, dimana ia kuliah
dan penyebab dia tidak bisa bicara. Entah apa yang membuatku bisa seperti ini
hanya saja aku ingin sekali ditemani senyuman manis darinya disetiap hari
hariku, atau mungkin ini cinta. Saat ini aku sedang berada di depan gang tempat tinggalnya, kemungkinan 5 menit
lagi dia akan sampai disini. Ah… itu dia orangnya, gadis berkeRikung abu abu,
sebelum jauh aku mendekatinya dulu.
“assalamu’alaykum…” sapaku, ia
menoleh lalu tersenyum, tidak usah dijelasan lagi jika dia tidak menjawab
salamku, dia pasti menjawabnya di daam hati.
“mau kerja neng?” tanyaku, ia
mengangguk…
“ boleh aku yang antar?” aku
menawari jasa pribadi padanya, ia tampak sedang menulis sesuatu di buku
kecilnya lalu memperlihatkannya padaku.
‘tidak usah, terima kasih… ‘
“tidak merepotkan kok, dari pada
naik angkot. Kan bisa menghemat uang juga.” Tawarku lagi, ia menulis lagi
‘tidak terima kasih.’
“ehm… ya sudah, aku ikuti dari
belakang aja deh.” Kataku membuatnya mengerutkan dahi yang sedikit terlihat olehku, kemudian ia
menyetopkan angkot yang lewat di depan kami, sementara ia naik angkot aku
mengikutinya dengan motorku.
Sudah 2 minggu aku melakukan
kegiatan ini hanya untuk mendapat perhatian darinya dan itu tidak sia sia… ia
meresponku dan kami mulai dekat, Alhamdulillah… dan hingga saatnya tiba, aku
mulai berani menyatakan perasaanku ini padanya,
“aku menyukaimu, bahkan ini lebih
dari sekedar suka. Aku mencintaimu Annisa.” Pernyataanku ini berhasil
membuatnya berdiri dari duduknya dan terlihat dari pancaran matanya ia seperti
memendam kesedihan.
“kenapa? Apa aku salah ? apa kau
tidak menyukaiku?”
‘bukan itu, tapi.. aku gadis yang
memiliki keterbatasan,’
“setiap orang memiliki
keterbatasan dan merkea juga punya kelebihan yang lain begitu juga denganmu
Nis.”
‘aku tidak bisa berkomunikasi
dengan baik’
“aku tidak peduli”
‘kau harus peduli dan aku tidak
mau kamu diledek oleh teman temanmu yang lain.’
“aku tidak peduli, yang penting
aku bisa bersamamu.”
‘cinta itu tidak hanya untuk
bersama, butuh saling memahami, dan bagaimana bisa memahami jika aku saja tidak
bisa bicara.’
“cukup nis, sekarang aku Tanya,
apa kamu suak sama aku? Apa kamu juga cinta sama aku?”
‘aku juga memiliki perasaan yang
sama, tapi … sudahlah, kamu anterin aku pulang saja.’ ia berbalik
meninggalkanku, tapi segera ku kejar dan aku berdiri tepat didepannya sembari
merentangkan kedua tanganku, ia menatapku dengan heran.
“kalau kamu juga memiliki
perasaan yang sama, jadi kamu mau jadi pacarku?” ia memutar kedua bola matanya,
lalu menatapku lagi kemudian mengangguk pelan sembari tersenyum.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar