Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Kisah Aliando dan Felicya

Senin, 10 November 2014

Kisah Aliando dan Felicya

AKU CEMBURU
Author : Ifdo clouds
genre : romance, friendship

@kampus
Hai... namaku Felicya, teman teman memanggilku Fely. Aku seorang gadis berusia 18 tahun, kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa disebuah universitas negeri, saat ini aku sedang duduk disebuah kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir. Aku menunggu seseorang disini,kalian tahu... aku menunggunya sudah sangat lama, sejak pukul 9.05 dan sekarang sudah pukul 11.12 siang,tck... dasar orang yag tidak disiplin waktu.
“kau sedang apa?!” pekik seseorang membuyarkan pikiranku, aku menoleh padanya sedangkan orang itu berjalan lurus menghampiriku dengan wajah manisnya. Apa dia tidak tahu bahwa aku sudah menunggunya selama 2 jam lebih? Dasar! Umpatku kesal dalam hati.
“kau kemana saja? Aku menunggumu dari tadi!” jawabku dengan kesal, ia tersenyum kecil padaku,ehm... apa dia kira senyumannya itu bisa meluluhkan hatiku,huh?!
“hehe... maaf yah, tadi aku mampir ke perpus dulu,tapi sebelumnya aku sudah mengirim pesan padamu.”jawabnya, apa? Pesan? Segera aku raih ponselku dalam saku dan ternyata dia benar.aduuuuuh ini sih aku tidak jadi marah padanya.ckck...
“maaf yah,” katanya lagi dengan senyuman khasnya, aku mengangguk kecil namun aku masih saja sebal padanya.
“sudahlah... mari kita pulang,ini sudah lewat jam pulangku tahu.” Ujarku beranjak menuju parkiran dia mengikutiku di belakang.
“Fely...” ia memanggilku seketika aku menoleh kebelakang.
“ehmmm”
“boleh aku minta sesuatu?” tanyanya membuatku mengangkat sebelah alisku tak mengerti dengan maksud pertanyaannya tiba tiba.
“apa Bil? Katakan saja.” Jawabku disertai senyuman.
“aku ingin minta izin, bolehkah aku sering mengirim pesan dengan Aliando?” tanyanya membuatku tertawa kecil namun wajahnya tampak serius hingga membuatku ikut serius.
“boleh, kenapa tidak? Aku lebih suka jika sahabatku ikut mengenal pacarku, jadi kita bisa mengawasinya sama sama.” Jawabku lalu berjalan menuju tempat dimana motorku berada.
“terima kasih ...” pekiknya membuat aku mengangguk.

@beberapa hari kemudian,
aku sedang duduk bersama kekasihku Aliando dalam sebuah kantin, kami diam tanpa bicara apa pun,aku merasa ada yang aneh dengan kekasihku ini. Tidak biasanya dia cuek padaku dan malah terlihat mengabaikan keberadaanku. Dia lebih fokus pada ponselnya yang setiap saat bergetar karena sebuah pesan yang masuk.
“Ali....” panggilku berusaha memecah suasana hening antara kami,ia menoleh padaku lalu tersenyum manis. Senyuman yang selalu membuatku betah untuk melihatnya.
“siapa yang sedang kau ladeni? Kenapa begitu sibuk?” tanyaku penuh selidik, ia terlihat gugup dan segera meletakan ponselnya di saku celana.
“tidak... bukan siapa - siapa.” Jawabnya dengan nada yang aneh.
“benarkah?”tanyaku curiga, astaga.... sejak kapan aku jadi tidak percaya padanya? Namun kali ini aku menangkap keanehan dari seorang Aliando. Ia terlihat mengedarkan pandangannya di sekitar kantin.
“kenapa? Apa yang kau cari?” tanyaku penasaran.
“tidak. Aku ke toilet dulu yah,tapi... jika ada dosen kau duluan saja ke kelas aku akan segera menyusul.” Ujarnya lalu berjalan menuju arah toilet dekat ruang kelas prodi biologi. Kenapa biologi? Kan di dekat ruang ekonomi ada toilet dan tidak terlalu jauh dari kantin. Benarkah dia ke toilet?! Aku putusan untuk mengikutinya diam diam.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“kau sendirian saja? Apa Fely tidak mengikutimu ataupun curiga padamu?” tanya seseorang yang aku sangat kenal suaranya, suara itu suara Billa. Tapi... kenapa Aliando menemui Bil
la diam diam? Apa mereka merahasiakan sesuatu sehingga pertemuan mereka ini dirahasiakan dariku? Ada apa ini? Banyak sekali pertanyaaan dalam benakku namun siapa yang akan menjawabnya?! Sudahlah sekarang aku harus fokus pada mereka berdua.
“tidak. Mungkin sekarang dia sedang di kantin. Bagaimana? Bisa kita pergi sekarang?” ajak seorang Aliando  kekasihku yang tadi izin ke toilet.
“ok, aku tidak mau Fely sampai tahu, dia pasti tidak akan terima dan pasti marah besar padaku.” Jawaban yuna semakin membuatku penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan di belakangku. Apa mereka selingkuh dibelakangku? Benarkah begitu?! Ini tidak bisa dibiarkan, Billa tidak mungkin tega seperti ini.
“sudahlah... ayo pergi, aku tak ingin orang lain curiga dan tahu tentang ini. Ayo...” aliando memegang lengan kanan Billa menuntunnya pergi dari kampus. Apa apaan ini? Ada apa dengan mereka sebenarnya?

@next day
aku masuk ke kelas dengan perasaan yang gelisah karena Billa dan Alia
ndo akhir akhir ini selalu terlihat berdua, mereka bahkan tak pernah ada waktu untukku, ini membuatku semakin curiga. Beberapa menit kemudian Billa dan Aliando datang, aku melihat mereka tertawa bersama saat masuk kekelas. Baiklah... aku hanya diam dan tak ingin mengganggu kesenangan mereka saat ini tapi lihat saja nanti aku kan menangkap basah mereka jika mereka terus terusan seperti ini. Ini benar benar menyebalkan!
“ekhem!” mereka menoleh kearahku,aku memasang wajah dinginku.
“Felicya.. siang ini kau bisa temani aku dirumah?” ajaknya padaku, aku hanya diam tanpa menjawab.
“Felicya.... kau sakit?” tanya Aliando perhatian padaku, ia meletakan punggung tangannya di keningku, segera aku tepis dengan kasar. Ia menatapku bingung begitu pula dengan Billa. Mereka terlihat bodoh namun aku tahu ini pasti sandiwara mereka berdua saja agar aku tak tahu dengan hubungan mereka. Dasar!
“kenapa mengajakku? Harusnya kau mengajak Billa bukan aku.” Jawabku menyindir, Billa mantapku tak mengerti, sekarang aku benar benar cemburu.
“apa maksudmu?” tanya Billa
“kenapa kau bertanya padaku?!” jawabku ketus.
“Fely... ada apa denganmu? Kau kenapa?” tanya Aliando dengan penuh perhatian.
“sudahlah, aku malas berdebat dengan kalian,” jawabku  lalu berbalik menjauhi Aliando.
“kau marah padaku?” tanya yuna menghampiriku,aku hanya diam masih dengan tampang dinginku. Kali ini aku benar benar kesal dan marah pada sahabat dan kekasihku yang tega menghianatiku.
“Fely... aku salah apa? Katakan saja. Apa tugas itu mendapat respon negative dari dosen? Atau aku terlambat mengembalikan novelmu lagi? Maaf yah.” Dia bertanya yang sama sekali tidak mengenai sasaran.
“boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku
“apa?” jawab Billa dengan pertanyaan lagi.
“kalian jujur saja, apa hubungan kalian melebihi dari seorang teman?” tanyaku yang berhasil membuat mereka terpojok. Ekspresi mereka pun terlihat aneh, Aliando terlihat panik.
“Fely... kenapa kau berpikir seperti itu? “ tanya Aliando
“jawab saja.” Kataku memaksa
“pertanyaan konyol sebaiknya tidak perlu dijawab.” Kata Aliando nyelonong melewatiku,aku menatapnya sebal.
“Ali
...! kalau tidak ada apa- apa  kau tinggal jawab tidak. Tak perlu menghindar!”  Pekikku membuatnya berbalik menatapku dengan tajam. Aliando berjalan menghampiriku lalu menarik lenganku, menuntunku dengan paksa untuk keluar dari ruangan.
“Ali... lepaskan!” aku meronta mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.
“bisakah kau mengecilkan suaramu? Kau berisik sekali Fel.” Kata Aliando melembutkan nada suaranya,aku menatapnya tajam.
“ok, tapi setelah kau mengatakan semuanya padaku tentang hubungan kalian, jujur Al. Kau harus jujur padaku. Aku ini pacarmu dan dia... dia yuna sahabatku.”  Kataku mendesaknya, namun sepertinya tidak berhasil. Ia malah mengacuhkanku dan berjalan meninggalkanku sendirian didepan pintu kelas.
“ish! Awas kalian!” umpatku kesal lalu masuk ke kelas, aku melihat yuna terkekeh pelan. Aku meliriknya memberikan tatapan maut untuknya seketika ia terdiam dan memalingkan wajah dariku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
next day...
aku berlari menuju sebuah ruang yang tampak gelap dari jauh. Saat ini aku panik dan tidak bisa berpikir apa - apa selain memikirkan Aliando, tadi aku mendapat  telpon dari temanku yang mengabarkan bahwa joni berkelahi dengan senior angkatanku gara gara membela Aliando. Astaga... ada apa dengan mereka? Kenapa joni bisa senekad itu?!
“Ali...!!” pekikku begitu sampai di depan ruangan dengan pintu yang terbuka lebar. Teriakanku itu membuat semua orang yang berada didalamnya melihat kearahku.
“Ali?! “ kata seorang dosen, aku terdiam mematung menyadari kebodohanku ini. aga... ada apa ini sebenarnya? Sebenarnya joni dimana?
“maaf pak, maaf saya salah ruangan.” Kataku menahan malu, aku menuduk dan segera berbalik meninggalkan tempat berdiriku sekarang.
“aaaaaaah.... dasar!” aku berlari menuju area parkir yang gelap karena sekarang sudah pukul 7 malam. Ku langkahkan kakiku menuju sebuah kursi, disana terdapat beberapa orang pria dan penjaga parkir.
“Fely... kenapa pulangnya malam? “ tanya seorang pria penjaga parkir. Aku menoleh lalu mengambil posisi duduk disebelahnya.
“tadi ada keperluan sebentar.” Jawabku singkat, ia hanya mengangguk kecil.
“oh ya bang, tadi ketemu dengan Aliando tidak?” kini aku bertanya balik padanya,ia menggeleng dan aku menghela napas berat.
“abang lihat kok, tadi dia pergi bersama Billa.” Jawab pria yang lainnya. Aku membulatkan mataku berusaha mencerna jawaban dari abang parkir ini. Sudah aku duga, mereka pasti main belakang. Ini benar benar membuat aku kesal dan marah besar padanya.
“apa abang tidak salah lihat?” tanyaku memastikan.
“abang tidak salah lihat yuri, wajah Aliando terdapat memar dan abang dengar dia bertengkar dengan senior kalian. Sebenarnya ada apa?” abang ini malah bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa? Ya ampun...
“terima kasih bang, maaf saya harus segera pergi.” Seruku berlari menuju lapangan tempat motorku parkir. Aku segera menaiki motorku dan pergi dari kampus. Di perjalanan aku mencoba menelpon Aliando namun tidak ada jawaban, berkali kali aku mencoba menghubunginya hasilnya tetap sama, aku pun menghubungi Billa namun nomornya tidak aktif. Astaga.... kemana mereka? Apa mereka janjian? Jangan jangan...
aku melajukan motorku k arah jalan menuju rumah Aliando.

@rumah Aliando
aku turun dari motorku dan bergegas mendekati rumah Aliando, disana tampak sepi Seperti tidak ada penghuninya. Sekarang aku berdiri tepat didepan pintu masuk yang masih tertutup rapat.
“permisi... Ali...” ku ketuk pintu beberapa kali sembari memanggil nama pemilik rumah ini. Tapi... apa mungkin rumah ini kosong? Sudah beberapa kali aku mengetuk tidak ada jawaban sama sekali
“Ali...Aliando... ini aku Felicya, apa kau sudah tidur?” panggilku lagi,
#cklek...
“ Fely? Sedang apa?” tanya Aliando kaget melihatku, aku tersenyum kecil lalu memaksa masuk dan berhasil. Ia berjalan mengikutiku dari belakang dan duduk di sebuah sofa.
“mana Billa? Nyalakan lampunya” perintahku padanya sembari mengedarkan pandanganku kesegala ruangan rumah ini, Aliando tersenyum padaku lalu menuntunku untuk duduk.
“Billa ada di kamar tamu, kenapa?” jawabnya dengan enteng. Mendengar itu aku sedikit melotot padanya, sementara ia hanya memasang gaya coolnya.
“ Ali!” bentakku kesal, sekarang aku benar benar tidak bisa menahan emosiku. Mereka sudah keterlaluan. Aku melangkah menuju sebuah ruangan, menurutku itu pasti kamar tamu dan disana pasti ada Billa.
“sebenarnya apa yang kalian lakukan,huh?!” bentakku sembari terus berjalan mendekati kamar itu. Namun tiba tiba langkahku terhenti karena sebuah tarikan kuat dari Aliando, ia menarik tubuhku agar tidak sampai disana.
“sabar, kami akan segera menjelaskan semua. Duduklah Fely...” bujuknya menuntunku menuju sebuah sofa.
“tidak! Tingkah kalian akhir - akhir ini memuakan! Kalian selingkuh,huh?!” tuduhku pada mereka, ia menatapku kaget.
“kau tahu?” katanya membuatku tercengang kaget, apa maksud perkataannya itu? Apa benar mereka selingkuh dibelakangku? Menyebalkan!
“jadi... benar?” tanyaku memastikan, ia terdiam. Mataku terasa perih dan wajahku sepertinya memanas. Air mataku jatuh begitu saja tanpa bisa ku tahan.
“Ali... benarkah?” Aliando masih diam.
tiba tiba lampu menyala dan sekumpulan orang menyanyikan lagu ‘happy birthday’ mengisi ruangan ini. Aku menatap mereka panik dan tak mengerti dengan ini semua. Ku lihat yuna berjalan ke arahku dengan sebuah nampan dengan kue tart dihiasi 2 buah lilin menyala berbentuk angka 18. Aku berpikir sejenak dan melihat kearah Aliando, ia tersenyum manis padaku, ia mendekapku sebentar.
“happy birthday Felicya ...semoga kau semakin dewasa dan semakin pintar.haha.” katanya sembari tertawa puas, jadi..? mereka mengerjaiku? Aku menatapnya tajam lalu ku pukul bahunya dengan keras.Ia meringis kesakitan sembari tertawa kecil.
“kau mengerjaiku huh?! “ kataku kesal sembari terus memukulnya.
“Fely... selamat ulang tahun, aku menyayangimu.” Seru Billa tersenyum padaku,  ia menghadapkanku kue yang ada di tanganngya lalu mengisyaratkan sesuatu agar aku  meniup lilin itu. Aku menoleh ke Aliando, ia menangguk lalu aku pun meniup lilinnya. Terdengar sorakan dari semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
“jadi...?” aku menggantungkan sebuah kata, mereka yang ku tuduh mengangguk bersamaan. Itu membuatku kesal dan ku genggam kue dengan tangan kananku kemudian ku oleskan wajah mereka dengan kue yang ada ditanganku ini. Haha... mereka terlihat seperti badut.
“Fely...!”pekik Billa, aku berlari karena dia pasti akan membalasku, sebelum yuna berhasil membalasku, Aliando menarikku dan membawa ku pergi menjauhi Billa
@teras belakang rumah
Aliando menuntunku duduk lesehan, ia memperhatikan wajahku dari samping membuatku malu dan hanya bisa menundukan wajahku darinya. Ia menggenggam tanganku lembut.
“maaf beberapa hari ini aku cuek padamu, sebenarnya aku tak ingin seperti itu, namun demi rencana ini berjalan dengan lancar jadi...” aku mengangguk pelan lalu tersenyum padanya,
“iya aku paham, tapi kalian membuatku tak nyaman dengan merasa kalian telah menghianatiku.” Kataku jujur dengan semua perasaanku selama ini terhadap mereka.
“haha... mana mungkin aku selingkuh dengannya, aku tahu kalian bersahabat dan aku tak mau merusak persahabatan kalian, perlu kau tahu juga Fely... aku hanya menyayangimu.hanya kamu dan tidak ada yang lain.” Katanya membuatku tersimpu malu dan dapat ku pastikan wajahku pasti sudah memerah seperi udang rebus.
“kena kaliaaaaan...” seru seseorang dari belakang lalu menumpahkan kue diatas kepalaku juga Aliando. Astaga... ini pasti si Billa. Aliando berdiri menatap Billa dengan tatapan mautnya sedetik kemudian terjadi kejar kejaran antara Aliando dan Billa, aku hanya diam melihat tingkah mereka yang seperti anak TK.
“maaf Billa, maaf karena aku menuduhmu sebagai penghianat. Semua perasaanku ternyata salah. Kau tetap sahabatku yang terbaik walau akhir akhir ini kau menyebalkan dan berhasil membuatku kesal setengah mati padamu. Aku menyayangimu Billa.” Gumamku pelan.



The End...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake