Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: SENYUMMU DUNIAKU

Senin, 10 November 2014

SENYUMMU DUNIAKU


Author : Ifdo Hidayah
Genre : Romance

Joni Pov
Selamat malam,selamat sore,selamat pagi? Yang mana yang benar nih? Dasar cewek cewek aneh, gak bosan bosan juga gangguin aku. Tapi... ya sudahlah,mungkin hidup aku memang harus menerima penderitaan ini,dikejar kejar para gadis karena aku keren.hehe PD banget yah aku. Baiklah ku letakan kembali ponselku di atas meja belajar.
“Joni... kemari nak, ada tamu untukmu,” terdengar suara ibu memanggilku, aku segera bergegas keluar dari kamar menuju ruang tamu. Aku kaget karena tamu yang dimaksud adalah Ulfi, gadis yang selalu menjadi bidadari disetiap mimpiku. Ia tersenyum saat aku berjalan mendekati ibu.
“dia teman kuliahmu Joni?” tanya ibu senang, aku hanya mengangguk kecil lalu tersenyum padanya.
“baiklah, ibu tinggal yah, oh ya kamu mau minum apa nak?” tanya ibu ramah kepada Ulfi
“biar aku yang buatkan minum untuknya bu, ibu istirahat saja.” Kataku, ibu tersenyum mengerti lalu beranjak meninggalkan kami berdua. Setelah ibu pergi aku mempersilahkannya duduk.
“baiklah Ulfi, kau mau minum apa?” tanyaku mengulang pertanyaan ibu tadi padanya, bukan segera menjawab ia malah tersenyum manis padaku, aduh jadi salah tingkah nih.
“karena diluar sangat dingin, teh hangat saja.” Jawab Ulfi, setelah mendengar jawabannya aku segera kedapur dan membuatkannya teh hangat, kebetulan ada air yang baru dimasak tadi, kebetulan sekali.
3 menit kemudian, aku kembali dengan segelas teh hangat dan kuletakan diatas meja dekat dengan sang tamu yang dimaksud. Ia melihatku sembari tersenyum lagi, aduh...senyumnya ...
“apa kedatanganku mengganggu?” tanya Ulfi, ku jawab dengan gelengan kepala. Tentu saja tidak aku malah senang dengan kedatangannya ini.
“terima kasih,” katanya lagi.
“ada apa fi?” tanyaku penasaran.
“maaf sebelumnya, tapi aku tak tahu harus minta bantuan kepada siapa lagi, jadi aku datang kemari,” ia mulai berbasa basi, tapi tak masalah semakin lama ia dirumahku, aku semakin suka,hehe
“terus?”
“besok lusa aku harus menghadiri pernikahan kakak sepupuku, tapi aku tak punya couple, jadi bisakah kau menemaniku kesana?” tanyanya membuatku agak kaget, ini seperti mimpi indah.
“benarkah?”tanyaku meyakinkan diri sendiri
“benar Jon, mau kan? Tapi kalaupun kau tidak mau aku mengerti kok, aku tidak memaksa.”katanya dengan sedikit memelas padaku.
“ehm... boleh, tapi aku harus memberitahu Micha dulu.” Jawabku dengan sedikit menurunkan nada suaraku saat aku menyebut nama Micha, dan sepertinya ia tidak suka saat aku menyebut nama kekasihku.
“baiklah aku mengerti, tapi bagaimana kalau dia tidak menyukai itu?”
“tenanglah, Micha ku gadis yang baik.” Kataku meyakinkannya.
“minumlah teh itu,bukankah kau memintaku membuatkannya tadi?!” kataku lagi sembari tersenyum, ia mengangguk lalu meraih gelas dan meminum teh itu. Setelah itu kami berbincang bincang tentang hal lain.
“selamat sore...” sapa seseorang dari luar pintu, aku dan Ulfi menoleh secara bersamaan, meilhat orang yang datang itu Micha, aku langsung berdiri dan tersenyum padanya.

“Micha~ masuklah.” Kataku sembari berjalan mendekati pintu masuk, ya Tuhan dia terlihat sangat marah padaku, ia bukannya masuk malah diam menatap aku dan Ulfi secara bergantian dengan tatapan sinis.
“Joni... aku pulang dulu yah, udah sore nih. Salam untuk Ibumu. Micha.. aku pulang dulu yah.” Seru Ulfi berjalan mendekati Pintu keluar, saat Ulfi lewat Micha masih saja menatapnya dengan sinis,Ulfi malah membalasnya dengan senyuman manis. Setelah Ulfi pergi Micha dan aku masuk bersama berjalan menuju ruang tamu.
“duduklah Micha,” Micha pun duduk, namun ia tidak tersenyum seperti biasanya padaku, mungkin ia sebal karena Ulfi datang kerumahku.
“mau minum apa?” tanyaku
“tidak usah, tapi aku mau nanya, ada perlu apa Ulfi datang kemari?” tanya Micha penasaran dan terlihat sangat tidak suka
“och, dia meminta bantuanku.”
“bantuan? Apa?”
“besok lusa ia minta ditemani ke acara pernikahan kakak sepupunya.” Jawabku tanpa basa basi, karena memang tak ingin basa basi. Aku tahu watak Micha seperti apa, jadi dari pada makin panjang lebih baik langsung saja.
“och... lalu apa jawabmu?”
“belum ku jawab,aku masih ingin merundingkan ini padamu.”
“kalau kau bersedia pergilah, aku tidak melarangmu.” Katanya enteng
“benarkah?” tanyaku meyakinkan dirinya dan juga aku sendiri.tumben sekali dia bersikap cuek padaku, biasanya mengomel kalau aku berjalan atau berdekatan dengan gadis manapun
“iya, tentu. Toh kau juga pasti akan pergi walau aku tak menyukainya. Dan lagi pula kau tau hubunganku dengan Ulfi, jadi... pergilah, tak perlu memberitahuku lagi. Aku pulang.” Seru Micha berjalan meninggalkanku, sebelum ia mencapai Mulut pintu aku menarik lengannya dari belakang.
“tunggu, apa maksudnya dengan pergilah, tak perlu memberitahumu? Ada apa denganmu?” tanyaku benar benar heran
“jangan tanyakan hal yang sudah kau mengerti, jangan terlalu berbelit belit Joni, aku tahu gadis seperti Ulfi lah yang selalu ada dalam benakmu.” Jawabnya, ‘DEG’ dia tahu semuanya.bagaimana bisa?!
“kenapa? Kau kaget huh?! Sudahlah jangan mengelak,”

“darimana kau tahu itu?”
“ternyata benar, sudahlah itu tidak penting. Kita memang pacaran, tapi hatimu hanya untuk Ulfi.” Kata Micha, aku terdiam mendengarnya.

“aku pulang.” Ku lepaskan tangan Micha,kemudian ia berbalik, kulihat ia menghapus air matanya walau tak terlihat jelas olehku. Ya Tuhan... jadi dia tahu semuanya, apa aku jahat? Apa aku melukai hatinya?

# Esok Lusa
“kau tetap pergi dengan Ulfi?” tanya Ridwan padaku, aku mengangguk pelan, #plak! Dia memukul bahuku dengan cukup keras menggunakan buku, aku meringis kesakitan sembari mengusap bahu kananku.
“kau ini kenapa,huh?!sebenarnya pacarmu itu Micha atau Ulfi?! Kau tega sekali Jon!” ridwan tampak sangat kesal padaku
“aku tahu, tapi kau juga tahu kan bahwa gadis yang selalu aku inginkan itu Ulfi, aku mengaguminya, aku mencintainya” jawabku tak mau kalah dengan ridwan
“bodoh! Itu bukan cinta! Kau hanya terobsesi dengannya Jon, pacarmu itu Micha!” marah ridwan setelah aku betitahu bahwa aku mencintai Ulfi.
“aku yang merasakannya Wan, aku tahu bahwa aku mencintainya. Tapi aku juga menyayangi Micha,” jawabku lagi
“Joni!” bentak ridwan padaku
“aku tidak tahu, apa aku benar benar menyayangi Micha sebagai pacarku atau hanya sahabatku yang selalu ada saat aku butuhkan.” kataku dengan nada menurun, aku menunduk dan aku tak tahu apa yang aku katakan ini benar atau tidak. Aku bingung!
“terserahlah, aku pusing degan hubungan kalian, tapi ingatlah Jon, Micha itu gadis yang baik.dia setia dan sangat menyayangimu, ia mencintaimu.”
“iya, aku tahu dia gadis yang sangat baik.”
“bagus kalau kau tahu itu, dan satu hal lagi, orang yang baik pasti dengan orang yang baik pula. Aku harap Micha bisa menemukan orang baik itu dan aku harap itu bukan kau, karena kau tidak baik untuk gadis seperti Micha.” Seru Ridwan berjalan meninggalkanku begitu saja.aku terdiam sejenak untuk berpikir dan memang benar yang dikatakan Ridwan, aku tidak baik untuk Micha.
#Di Kelas
Aku berjalan menuju bangku kosong paling belakang, aku duduk tepat disamping Micha, Ia seperti tak sadar dengan kehadiranku, ia malah fokus dengan laptopnya. Sementara ia sibuk, ingin sekali aku menyapanya dan melihat wajah manisnya disetiap pertemuanku dengannya.
“Micha.” Ku panggil namanya dengan perlahan,ku harap dia mau menjawab
“iya, kenapa?” jawabnya disertai pertanyaa,namun ia tidak melihatku, ia masih sibuk dengan laptopnya itu.
“bisa kita bicara berdua?”
“ehm... sekarangkah? Maaf aku sedang sibuk.” Katanya tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptopnya.
“ini penting, “
“ehm... baiklah, tapi jangan bicara disini,” katanya sembari berdiri aku mengikutinya.
“Desi, aku titip laptopku yah.” Seru Micha kepada teman kami yang bernama desi, kemudian ia berjalan mendahuluiku, aku tak tahu ia ingin kemana, namun aku terus saja mengikutinya dari belakang.
Tiba disebuah tempat yang lumayan sepi, ia berhenti berjalan dan masih saja tidak melihatku, ia malah membelakangiku. Aku berdiri di sampingnya berharap ia mau melihat wajahku.
“katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan?”
“aku ingin minta maaf, aku tak mendengarkanmu, maafkan aku.” Kataku penuh sesal,
“hanya itukah?”
“kau mau memaafkanku?apa kau masih marah padaku??”
“kenapa kau bertanya seperti itu?”
“jawab saja Micha.”
“apa, jika aku katakan aku marah padamu, kau akan berhenti berbuat seenaknya?”
“maaf...”
“jangan selalu minta maaf jon, karena kau selalu mengulang kesalahan yang sama. Aku sudah sering memaklumimu, tapi ya sudahlah.. mungkin watakmu yang memang seperti itu.”
“ya, aku tahu aku salah, dan benar yang dikatakan Ridwan, kau terlalu baik....”
aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, kan ku akhiri sekarang juga semoga kau bahagia bersama yang lain,mungkin ini hal bodoh ,tapi walau begitu kau tetap yang terindah dan aku berharap suatu saat kau tahu bahwa akulah yang selalu bersamamu dalam keadaan apapun.” Katanya panjang lebar memotong kalimatku dan Setelah mengatakan itu Micha berbalik meninggalkanku sendiri, aku tak mampu berkata apa apa lagi. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatiku, ya Tuhan aku melukai Hati gadis itu, gadis yang mencintaiku dengan tulus.
3 hari berlalu, sepi... ya sepi itu yang aku rasakan,aku kehilangan sosok yang selalu mengisi hari hariku semenjak 3 hari kemarin. Micha, apa dia baik baik saja? Apa dia menikmati hari harinya tanpa aku? Ah entahlah yang jelas aku ingin dia kembali, karena bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku bukan Ulfi lagi, melainkan Micha.
“Joni... bisa kau mengantar ibu ke pasar nak?” teriak ibu dari kamarnya, aku segera berdiri dan melangkah menuju kamar untuk emnganbil kunci motor dan jaketku.
“iya bu, mari ku antar.” Kataku sembari berjalan menuju garasi rumah, aku mengeluarkan motor sembari menunggu ibu keluar dari rumah.
#Di pasar Swalayan
“bu, aku keliling sebentar yah, aku juga mau belanja.hehe” kataku sembari nyengir gaje, ibu tersenyum sembari mengangguk, aku pun pergi meninggalkan ibu.
Aku perhatikan sebuah lemari kaca yang besar dan didalamnya terdapat perhiasan yang sepertinya tampak mahal dan sangat bagus. Ku lihat sebuah gelang perak dengan sangat lama membawaku mengingat kembali suatu peristiwa.

FlashBack On
“Jon, aku butuh kau sekarang,cepat datang.” Kata Micha dari seberang telpon, aku segera menutup telpon itu dan segera pergi ke tempat dimana Micha berada sekarang.
“ya ampun... aku kan tidak tahu dimana dia sekarang, aduh jon...” aku meruntuki diri sendiri atas kebodohanku ini. Tx lama ponselku berdering kembali,segera saja aku jawab telpon yg ternyata dari Micha.
“Kau dimana sekarang?aku sudah menunggu lama, cepat jon!” kata Micha yang terlihat panik
“iya iya, sabar dong, aku lagi di Jalan nih, posisi kamu dimana sekarang?!”
“di Taman yang tak jauh dari bank BRI, cepat Jon.” Mendengar itu aku segera melaju ke tempat yang sekarang aku tahu letak posisi Micha. Sesampainya aku disana, tidak aku temukan Micha, lah? Kemana dia? Aduh... ni anak menghilang segala lagi!
“Micha...!Micha!! kamu dimana? Gx usah main main deh, aku udah disini,Micha!” aku berteriak sembari memanggil namanya, namun yang dipanggil tidak juga menampakan dirinya. Aku berlari kesana kemari mencari kekasihku itu.
Tiba tiba saja pandanganku gelap, seseorang menutup mataku dengan sebuah kain tebal sepertinya hingga aku tx bisa melihat apapun, aku tidak tahu ya ng berbuat seperti ini siapa dan apa maunya,aku berusaha memberontak namun tenaganya ini mengalahkan aku dan sepertinya ia tidak sendiri ada 2 pasang tangan yang menahan tubuhku agar tidak bisa memberontak. Aduh jangan jangan penculik, aku mau diculik, bagaimana ini?!
“Micha! Tolong aku!!Micha....Tolong aku mau diculik nih!” kataku berteriak histeris,namun aku tidak mendengar suara siapapun. Mereka menarik tubuhku agar mengikuti langkah mereka yang tidak tahu mau dibawa kemana aku ini.
Sudah 20 menit mataku ditutup,semuanya gelap dan yang lebih parah lagi aku tidak tahu dimana Micha sekarang, apa mungkin mereka lebih dulu menculik Micha?! Ya ampun... bagaimana ini?
“Joni...!!!”pekik seseorang tepat ditelinga kiriku, suaranya aku kenal itu suara Micha,ya Dia Micha. Aduh... suaranya keras banget sih, bisa Tuli nih! Gerutuku dalam hati
“Joni...buka ikatan yang menutupi matamu itu, sekarang.” Perintah Micha, aku yang masih bingung mengikuti saja perintahnya itu. Dan... Tada... sebuah kejutan,  2 buah lilin merangkai angka 21 berdiri tegak diatas sebuah Kue Tart indah yang berhiaskan sebuah tulisan “Happy Birthday Joni” melihat itu aku malah semakin bingung,segera aku edarkan pandanganku ke segala arah dan melihat teman temanku berada disana,mereka menyanyikan sebuah lagu Happy Birthday untukku. Aku tersenyum senang dan ku lihat Micha tersenyum manis sungguh manis, ia sangat cantik.
“Joni... selamat Ulang Tahun sayang. Aku mencintaimu.” Kata Micha dengan senyuman manisnya, aku merebut kue yang ada ditangannya dan ku berikan kepada Ridwan yang juga ada disebelahku,segera ku tarik tubuh Micha dan ku peluk erat,tx terasa air mataku mengalir.
“kenapa Jon?”tanya Micha,namun aku masih saja memeluknya tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.
“aku takut kau diculik tadi,” kataku setelah ku lepaskan pelukan ini, Micha hanya nyengir Gaje mendengar kekhawatiranku itu, aish... dasar!
“Maaf, itu hanya sandiwara.haha” aku sebal mendengarnya tertawa seperti itu, beraninya dia meledekku.ish!
#Flashback end
“Mas, mau beli yang mana?” Tanya seorang penjaga membuatku sadar dari lamunanku tadi.
“ehm... iya Mbak, saya mau beli Gelang Perak itu,” jawabku seraya menunjuk sebuah gelang Perak yang tadi aku pandangi cukup lama, penjaga itu segera mengambil Gelang tersebut dan segera aku bayar saja, kemudian aku kembali untuk melihat ibuku. Tiba disana, aku melihat ibu yang sedang duduk disebuah kursi tampaknya ia sedang menungguku, kulangkahkan kakiku menghampiri ibu, ia tersenyum memandangiku.
“maaf membuat ibu menunggu lama.” Kataku dengan sesopan mungkin,ia hanya mengangguk. Lalu berdiri dari duduknya, kami pun segera pergi dari tempat itu.
Aku pergi ke taman yang dulu pernah digunakan untuk membuatku seperti terasa diculik, aku duduk di kursi panjang tepat dibawah sebuah Pohon yang rindang, aku berharap Micha berada disini, menemaniku dan mau memaafkan kebodohanku itu.
“Micha~maafkan aku.” Gumamku pelan sembari menatap tempat kosong disampingku. Tak lama kemudian ponselku berdering, tanpa ku tahu siapa yang menelpon langsung saja ku jawab panggilan telpon itu.
“Joni, kau dimana sekarang?” Kata seorang gadis diseberang telpon, aku diam tak percaya karena yang menelponku adalah Micha.
“Jon... kau dimana sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.”
“ya, aku ditaman,”
 ‘Tuuuttt.’ Lah, telponnya dimatiin, ada apa dengan Micha? Aku melihat sekelilingku dan disana ada Gadis yang aku rindukan, Micha. Dia berada diseberang Jalan hendak menuju ketaman. Aku tersenyum kecil dan berdiri dari dudukku.
Saat ini Micha sudah berada didepanku,aku tak percaya itu. Ia terlihat begitu manis dan aku benar benar merindukannya. aku melangkah semakin mendekatinya dan ku peluk tubuhnya,ia membalas pelukanku. Aku sangat senang bisa melihatnya lagi, aku bisa memeluknya lagi. Aku sungguh merindukannya.
“aku...aku merindukanmu Jon.” Ku dengar kata kata itu dari Bibirnya,aku masih memeluknya dengan erat.
“aku tak bisa jauh darimu, aku salah karena aku membiarkanmu memilih orang lain.maafkan aku jon.” Kata Micha lagi, kemudian aku melepaskan pelukanku dan ku tatap matanya yang penuh dengan air mata,disana terdapat ketulusan yang sungguh aku rindukan. Aku tersenyum dan membelai rambutnya yang terurai panjang.
“Jon...” ku letakan jari telunjukku diatas bibirnya agar ia berhenti bicara karena saatnya akulah yang harus berbicara.
“hust... cukup, sekarang dengarkan aku.” Ia terdiam menatapku dengan wajah polosnya
“aku merindukanmu, aku sangat sangat merindukanmu, aku baru sadar bahwa yang aku cintai adalah kau Micha, bukan Ulfi, karena dia hanya menghiasi Mimpiku saja, tapi kau adalah gadis nyata yang menghiasi Duniaku. Maafkan aku Micha.” Kataku dengan Jujur,ia tersenyum haru mendengarnya,lalu giliran dia yang memelukku, haha
“aku mencintaimu Micha,aku rindu senyummu,aku rindu kau dengan semua tingkah dan ketulusanmu. Aku rindu duniaku,” kata ku sembari terus memeluk Micha. Perlahan Micha melepaskan pelukan itu membuatku menatapnya.
“aku ingin kau memilikinya,” aku mengeluarkan dompet dan menunjukan gelang yang tadi aku beli, ia tersenyum senang dan segera mengulurkan tangan kanannya. Ku kenakan dengan hati hati dilengannya,sangat serasi dengan kulitnya yang putih.
“kau terlihat sempurna bagiku,” aku sedikit menggodanya,rona merah muncul dikedua pipinya membuatku gemas ingin mencubitya. Tapi malah aku yang mendapat cubitan kecil di pipiku,haha
Dan pada akhirnya aku kembali bersama Micha, aku menjalani hari hari indah bersamanya dan aku mulai mengurangi sikap genitku terhadap gadis manapun karena aku tak ingin jauh lagi dari kekasihku itu aku tak mau membuat senyum manisnya hilang karena semua tingkah konyolku, cukup 3 hari hidupku tanpa dia dan itu sangat menyiksa.


The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake