Pagi....
Futri mengerjapkan
matanya, ia berusaha membuka mata sembari memraih ponselnya, ia heran kenapa
ponselnya jadi lembek dan berair. Futri segera bangkit dan melihat apa yang ia
pegang sekarang. Ketika melihat yg dipegang bukanlah ponselnya melainkan daging
mentah yang berlumuran darah, futri langsung membuang daging itu ke lantai.
"Iseng banget
sih" kesal putri. Ia berpikir yang mengerjainya adalah ifdo, pasalnya tadi
malam ifdo membahas masalah daging itu. Futri bangun dan berjalan cepat keluar
kamar. Ia melihat ifdo tengah sibuk di dapur, ifdo tampak sedang memegang pisau
dan terlihat sedang mencincang daging. Futri menghampirinya.
"Hyuuuuuung. Kau
kan yang narok daging di kamar kamek?" Kesal putri, ia mengomel dibelakang
ifdo.
"...."
"Aaaaaaaaaaaakkkkhhhh....."jerit
putri membuat ifdo dan siti keluar dari kamar mereka.
"Ape put? Pagi
pagi begadoh nih. Ckckc." Omel ifdo yang merasa terganggu. Futri jadi
kaget lagi melihat ifdo ada didepannya bersama siti.
"Kau ke hyung? Ini
benar ke?" Kata putri sembari menepuk pipi ifdo.
"Mak eeh saket
woi." Jawab ifdo sembari menurunkan tangan putri dari pipinya.
"Ade ape
put?" Kini siti angkat bicara.
“tadi…
di…di… dapur. haah haah.” putri tersengah engah
“ngape
put? yang jelas lah.” siti semakin tak mengerti maksud putri.
“ape???”
ifdo semakin penasaran
“aku
lihat hyung cincang kepala orang di dapur.” jawab putri, mendengar itu mereka
kaget dan saling pandang satu sama lain.
“eiiiih
au tadi dikamarlaaah, ancoreee” sahut ifdo
“serius
hyung… alau bukan hyung trus siape?”
“mane
tau,hahaha” ifdo menyembunyikan rasa takutnya, sebenarnya ia percaya dengan
cerita putri tapi ia tak ingin membuat teman temannya semakin ketakutan, jadi
ia bersikap santai.
“salah
lihat kayanye kau put, banyak nonton film horror kau put.” timpal siti
“haaah
dahlah, aknak mandi jak. hyung kawankan iox…” rengek putri
“eeeh
tada. aku yang mandi dulu.” seru ifdo berlari mendahuli putri masuk ke kamar
mandi.
“ish
die tuh!!” kesal putri
“dahlaaa
tak kuliah pon. putput kawankan aku masak jai ox…” siti menarik putri melangkah
kedapur.
@dapur
“sit…
kau udah mandi ke?”
“udahlah,
kau cepat la mandi sana.”
“ndak
eh kau gx yang minta bantu masak. ancoreee”
“oh
hahaha lupa put.”
“heeem
tu lah yang di ingat bg narto teros. sit sit.”
“eeeh
ape die nih, bawa bawa abng. tak boleh!”
“ielaaa
tau pon mentang mentang cowoknye.” jawab putri semakin menggoda siti, siti
hanya cengengesan sendiri.
“put,
ambilkan garam disamping kau tuh.” kata siti
“ok.”
“puuut,
aku dah selesai, cepat la mandi sana!” pekik ifdo sembari keluar dari toilet, segera
saja putri berlari masuk ke kamar mandi. Ifdo melewati kamar siti dengan kamar
terbuka, tak biasanya pintu siti terbuka jika sang penghuni kamar tidak
didalam, karena setahunya siti tadi diluar. Ia meraih hendel pintu untuk
menutup pintunya namun ia melihat seseorang yang terlihat seperti siti tengah
berdiri didepan lemari yang terbuka.
“hyung…
kau cari ape tuh?”
“baju
merah.”
“nak
jalan ke?”
“hm…”
“oh…”
ifdo langsung berbalik meninggalkan kamar siti dan berjalan menuju kamarnya,
baru 3 langkah pintu kamar siti tertutup dengan kerasnya seperti ada yang
membanting.
“eiiih
kaget aku. ape apekeh hyung tuh.” ifdo melangkah lagi.
sementara
itu di dapur, siti masih melanjutkan acara masaknya, sesekali ia menatap layar
ponselnya menunggu kabar dari narto.
“selamat
pagi…” terdengar seseorang mengucapkan selamat pagi sembari mengetuk pintu,
siti bergegas keluar dari dapur untuk menuju pintu depan. ia membua pintu dan
melihat narto berdiri tepat didepan pintu kamar dengan senyuman manis, siti
tersenyum senang.
“abang…
masoklah,” siti mempersilahkan narto masuk kedalam
“adek
age ape?”
“age
masak buat sarapan, abang tumben pagi pagi kesini?”
“hehe…
abang kangen jak.” jawab narto membuat siti tersenyum malu.
“oh
haha, ielaaa. kamek lanjut masak dulu iec, abang tunggu disini sebentar, nanti
kite sarapan bareng.” siti pergi kedapur.
beberapa
menit kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu depan sembari mengucapan
selamat pagi, siti segera mematikan kompor dan berjalan keluar dapur. ia ta
melihat narto diruang tamu, tapi ia melihat narto berdiri didepan pintu rumah
yang sudah terbua lebar. melihat itu siti merasa kebingungan sendiri.
“eoh???
tadi kan die ade disana, ngape sekarang ade didepan?”
“selamat
pagi siti…” sapa narto sembari tersenyum lebar
“abang
ngape berdiri disini? kan tadi diduduk diruang tamu.”
“eeh?
apekeh? abang baru datang nih. abang bbm siti tak balas, make abang kesini.”
jelas narto, mendengar itu siti mengerutkan dahinya.
“terus
yang tadi siape?” gumam siti yang masih bisa didengar oleh narto
“abang
tau… siti pasti kangen same abang make jadi ngigau. hahaha” canda narto membuat
siti tertawa malu.
“haah
dahla masuk ja, kamek udah selesai masak, kite sarapan bareng.” siti
menggandeng tangan narto menuju ruang makan, tak lama kemudian ifdo dan putri
masuk kedapur.
“waleeeee
pagi pagi dah didatangin pacar. iri kamek nih.” seru ifdo menggoda narto dan
siti
“makeee
suruhlah hendra kerumah hyung. hahaha” jawab putri
“die
bukan cowok aku laaaa. “
“tapi
ifdo suke same die kan?” kini siti ikut mengompori
“hahaha
so tempe hyung nih, dah lah kite makan iox.” narto hanya tersenyum mendengar
candaan mereka bertiga.
“hyung,
aku tahu kenape tadi kau cari baju merah pati karne nak jalan same abang kaaaan
cieeee.” kata ifdo sembari menyuapkan sendok berisi nasi ke mulutnya. narto
hanya tersenyum
“tapi
ngape kau tak pakai baju merah hyung? tak ade ke? na pinjam tak same aku?
100.000 sehari. hahah”
“mak
eeeh itu bukan pinjam namenye, sewa tuh. huuuu” sahut putri
“hehe,
maksod aku gitu put.”
“kapan
pula aku cari baju merah?” Tanya siti membuat ifdo, dan putri memandangnya.
“eeeeh
tadi hyung, pas aku selesai mandi aku lihat kau didepan lemari trus aku Tanya,
kau jawab cari baju merah. pelupa kau nih.” jelas ifdo, siti semakin heran.
“dari
tadi aku masak didapur kali do.” jawab siti, mereka semua diam termasuk narto.
“serius???”
Tanya putri
“iyeee.
kan aku same aku tadi put.”
“oh
iyeee.”
“haaag
siape dikamar hyung tuh?” ifdo penasaran.
“ade
ape nih?” Tanya narto yang tida mengerti dengan arah pembicaraan ketiga gadis
ini.
“ade
hal tak jelas dirumah nih.” jawab ifdo
“daah
daah, kite lanjut makan jak.” kata siti yang tidak mau ambil pusing peristiwa
tadi walau sebenarnya ia juga heran, ada apa dengan kostnya yang biasanya aman
aman saja tapi sekarang ia merasa ada yang meneror mereka.
@ruang
tamu.
mereka
berkumpul bersama sembari menonton televisi tanpa putri, karena ia ada janji
dengan Ridwan. narto yang fokus dengan tontonannya bersama siti sedangkan ifdo
tak melepaskan android yang sedari tadi dipegangnya, sesekali ia tersenyum
sendiri.
“cieee
yang bbm’an same hendra.” celetuh narto membuat ifdo menoleh sembari
cengengesan.
“cieee
yang nonton berduaan.” balas ifdo
“bertige
nih.” jawab siti
“anggap
ja kamek taka de hyung. hahaha”
“eeeh
mane bise, ifdo kan nampak.” jawab siti. Tiba tiba eva dan andri datang dan
masuk keruang tamu.
“eeeeh
ade tamu….” ada eva yang langsung duduk disofa kosong diikuti oleh andri.
“karne
dah ade angah dan andri, ifdo pergi lok iec.” kata ifdo sembari berdiri dari
duduknya.
“nak
kemane do? eva baru ja datang.”
“nak
jalan laaah, mumpung libur, hahah memangnye.”
“oooch
cieeee pasti same hendra.” andri menggoda ifdo
“hahaha,
aog mang.” sahut ifdo, kemudian ia berbalik berjalan menuju pintu rumah.
“putri
mane sit?”
“pergi
same Ridwan.”
“oh,
oag laah, eva ke kamar lo iec, nak mandi.”
“maaaak
evaaa belom mandi?” siti kaget
“heheh…
belum sit.”
“mao
kau ndri same eva?”
“eeeeh
apekeh siti nih.”
“dah
laaaa, sayang tunggu disini yeh. bang narto dan siti jagekan andri yeh.” gurau
eva
“hahah
kire kite masih budak kecik kali.” sahut andri. eva berjalan menuju kamar, ia
bertemu dengan ifdo yang baru keluar dari kamarnya.
“eeeh
tadi katenye nak pergi,” tegur eva pada ifdo.
“iye.”
jawab ifdo yang berjalan lurus, eva menatap punggung ifdo, ia merasa heran pada
sikap ifdo tadi.
@
Mall…
“pagi
pagi ape buat kite ke mall nih?” Tanya Ifdo kepada Hendra yang berjalan
disampingnya.
“makan,
jalan jalan tros foto foto.”
“eeeih
jadi macam anak alay pula.”
“kan
kau memang lebay.” jawab hendra
“hahaha
mane ade.” elak ifdo.
“udah
makan ke?” Tanya hendra
“udah
tadi pagi, hyung masak.” kata ifdo jujur.
“heeem
searang dah jam 11 kali, kite ke kfc iox, makan siang, kame lapar nah.”
“ooooh
ok.” mereka pergi ke KFC, Hendra mengambil posisi dudu sedangkan ifdo yang
mengantri pesanan. 5 menit kemudian ifdo
datang bersama nampan yang sudah berisi pesanan mereka.
“abes
ini nak kemane age?” Tanya ifdo
“eeeh
sabar lah lok, ngape bah… nak cepat balek ke? ade ape dirumah?” kata hendra
“tadaaak,
rase tak nyaman je disini.”
“kenape?
tak suke jalan same hen ke?” rajuk hendra
“eeeh
bukan itu, dac laaa makan iox. tak usah meraju.” bujuk Ifdo.
“maaf
ieh…” kata ifdo lagi, hendra tersenyum kecil padanya.
30
menit kemudian,
“hen…
beli ice cream iox?” pinta ifdo.
“heeem…
pesanlah.” jawab hendra
“ndak
mao disini, kite ke Dessert lain, jangan di mall.” ajak ifdo sembari berdiri
dari duduknya.
“heeem
ie laa. iox.” hendra ikut berdiri, ketika hendak berbalik ifdo meraih tangan
hendra dan menggenggamnya. Hendra menoleh kepada ifdo dengan heran, ifdo
tersenyum pada hendra.
“kite
same same.” seru ifdo, mereka berjalan bersama keluar dari KFC.
“do….”
“heeem?”
“kite
udah kenal 1 tahun kan, dan kite mulai dekat 5 bulan sampe sekarang.”
“hag
tros?”
“ape
tak ade hal aneh?”
“aneeeh?
maksudnye?”
“ie,
aneh. aneh saat kite berdua. hen rase kalau hen abes ketemu ifdo, rase nak na
ketemu teros. tak ingat balek.” kata hendra jujur, mendengar itu ifdo menundu
malu.
“hen
rase… kite jodoh.” seketika ifdo mendongak menatap hendra.
“jodoh???
yakin?”
“eeeh
yakinlaaah. serius do.” hendra berusaha meyakinkan ifdo.
“heheh
trus?”
“trus
sebentar age kite selesai kuliah, hen dah punye kerje juga, hen nak lamar ifdo.”
hendra berhenti melangkah, mereka berhadapan.
“mao
ndak ifdo jadi istri hen?”
“heeem…
pinta sama orangtua ifdo dulu, kalau mereka setuju, ifdo mao lah.” jawab ifdo
malu
“ok,
nanti hen pergi kerumah ifdo.”
“rumah
orang tua ifdo di banten hen.”
“oooh
haha, ielaaah. nanti liburan semester 7, hen ajak ifdo ke banten iec.”
“waaaah
ok, setuju.” sahut ifdo cepat, hendra tersenyum senang sembari merangul bahu
ifdo dan mereka lanjut ke toko ice cream.
ifdo
dan hendra berjalan menuju tempat parkir, hendra meminta ifdo untuk menunggu di
ujung jalan, ifdo pun menurut. ifdo berdiri disebelah kanan tempat keluar
motor. tiba tiba ada seseorang yang mengendarai motor berdiri tepat didepan
ifdo, orang itu merampa tas yang ada dibahu ifdo, karena reflek ifdo menarik
balik tasnya membuat orang tadi turun dari motor.
“bagos
kau kasi tas kau same aku!” bentak orang itu, ia masih mengenakan helm
“eeeh
punye aku, ape hal aku kasi ke kau!” jawab ifdo, orang orang yang melihat
segera berlarian berusaha menolong ifdo, karena pani orang yang hendak merampas
tas ifdo, mengeluaran belati dan menusuk perut ifdo. genggaman pada tas ifdo
mulai longgar karena rasa sakit yang dideranya, ia terkulai lemah dan terbaring
dijalan sementara orang tadi melarikan diri.
“ifdo…..!”
pekik hendra, ia berlari menghampiri ifdo.
“dooo….
kau kenape nih?”
“shaaakkiiit
heeen.” kata ifdo terbata bata. ia menggenggam baju yang hendra kenakan karena
sakit. tanpa pikir panjang hendra langsung menggendong ifdo dan menyetopan
sebuah taksi menuju kerumah sakit.
@rumah sakit
Hendra duduk sendiri
sembari menunduk menunggu dokter keluar dari UGD, ia tak berhenti berdoa untuk
ifdo, gadis yang ia sayangi saat ini. Tak lama kemudian siti, eva, dan putri
datang bersama pasangan masing masing.
“hen… ifdo kenape?” Tanya
eva khawatir
“aku tak tau, pas nak
keluar dari mall, aku suruh die tunggu di ujung tempat parkir tuh, pas aku
lihat die dah tejatok diaspel. perutnye luka.” jelas hendra
“kau tak lihat siape
yang nusu perutnye ke hen?” Tanya Andri
“tadak, au tak dengar
ade yang ribot ribot didepan, antrian aku panjang tadi.”jawab hendra
“trus gimane ifdonye
sekarang?” Tanya siti panih
“die masih ditangani
dokter.” jawab Hendra
“dah daaah, berdoe jak
semoga ifdo endak ngape ngape.” kata Narto menenangkan kekasihnya yang tampak
sangat khawatir.
1 jam kemudian,
dokter keluar dari UGD
bersama ifdo yang masih terbaring di ranjang yang hendak di pindahan ruang opname.
hendra menghampiri mengikuti suster yang membawa ifdo, semenatra siti dan eva
menghampiri dokter.
“dok, gimane keadaan
ade saye?” Tanya eva
“die dapat luka yang
cukup dalam dan robeknye cukup lebar, tapi kami udah menjahitnye. diharapan
untuk pasien jangan banyak bergerak biar jahitannye endak lepas.”terang dokter.
“heeem… trus die udah
boleh dijenguk?” Tanya siti
“boleh, tapi jangan
diajak bicara dulu.”
“iye do, terima kasih.”
dokter itu pergi, mereka pergi keruang opname.
@Ruang opname, pukul 9.45
malam
hendra tertidur
disamping ifdo, tangannya msih menggenggang tangan ifdo yang tida di infus.
sementara putri dan ridwan tertidur
disofa, narto dan siti pergi keluar membeli makanan, eva dan andri sedang
berada diluar ruangan.
“eegghhh….” ifdo membuka
matanya, ia melihat hendra, putri dan ridwan tengah tertidur.
“ini dirumah sakit ke…
sepi benar gak.” bisik ifdo, ia mengedaran pandangannya dan melihat seseorang
dibalik jendela kaca yang tidak ditutupi tirai. ifdo menatapnya, orang itu
mengenakan baju yang sama dengan dirinya tiba tiba orang tadi berbalik
menghadap padanya membuat ifdo kaget karea wajahnya sangat mirip dengan
dirinya. orang itu tersenyum kemudian menunjukan sebuah belati ditangan
kanannya. gadis itu mengarahkan belatinya kepada dirinya sendiri, perlahan ia
menusuk kepalanya tanpa rasa sakit, darah mengucur deras dari kepalanya. ifdo
hendak berteriak tadi ia ta memiliki suara dan tubuhnya terasa kaku, ia tak
bisa bergerak sama sekali bahan menutup matanya pun sangat sulit. orang itu masih
melanjutkan aktivitas melukai dirinya sendiri, sekarang ia menari belati dari
kepala hingga membelah wajahnya, ifdo semakin ketautan.
‘tolong berhenti… aku
ta mau melihatnya.’ kata ifdo dalam hati. air matanya mengalir begitu saja,
tiba tiba Narto dan siti
datang, ifdo berhasil mengalihkan pandangannya dari hal mengerian tadi, ia
menangis memanggil siti.
“hyuuung…”
“eeeh ngape do? ade
ape?” siti menghampiri ifdo yang sedang menangis, keringat membanjuru tubuh
ifdo. hendra dan yang lain ikut terbangun.
“ape do? ngape??” Tanya
hendra khawatir.
“balek iox. ifdo tak
mao disini. hiks… hiks…” rengek ifdo kepada siti.
“tapi ifdo baru jak
sadar, dokter bilang ifdo tak boleh pulang dulu, lukanye masih basah.” jelas
eva
“ngaah, ifdo endak mao
disini, ifdo mao baleeek.” ifdo bersi keras.
“do.. do, heei kenape
ni?” Tanya hendra dengan lembut.
“hen…. ifdo nak balek,
rawat jalan jak laaah,. nanti pon sembuh. pokonnye ifdo nak balek.” kata ifdo
membuat teman temannya heran.
“iye iye kite balek.”
“sekarang hen.”
“iye sekarang. ndri
kawan aku ke ruangan dokter iox…”
“ok.”
@ruang dokter
“dok… saye saudaranye
Ifdo, pasien yang tadi sore dijahit tuh, die boleh pulang sekarang endak?”
“eh, ngape pula…? kan
die masih sakit.”
“die tak suke dirumah
sakit dok, boleh ke lah dok. bise rawat jalan kan.”
“iye bise, tapi
seendaknye tunggu sampe besok lah.”
“ohhh iye lah, makasih
dok.”
@Ruang opname
“gimane hen?” Tanya
siti
“tak boleh sekarang.
tunggu sampe beso baru boleh pulang.” jawab hendra, ia melihat ifdo yang masih
menangis ketakutan.
“sebenarnye ade ape do?
ade ape disini?” Tanya siti
“hyung kite harus
pulang sekarang, please…” renge ifdo. hendra tak suka melihat ifdo menangis, ia
tak tega. jadi ia memutuskan untuk membawa ifdo pulang.
“ok, kite pulang.” kata
hendra membuat teman temannya menoleh padanya.
“eeeh hen… kau tak
dengar e kate dokter tadi, tak boleh pulang dulu.” cegah andri
“kau tak lihat ke ifdo
ketakutan, aku tak mao die kenape nape.” jawab hendra
“tapi kite ade disini
hen, kite bise jage die.” natro menimpali
“tapi aku tetap nak
bawa die balek.” hendra menggendong ifdo keluar dari ruangan diikuti oleh teman
temannya. disisi lain, tampak ada seringai licik tepat disudut gelap yang hanya
menampakan bola mata merah.
“hahahaha…akan lebih
mudah menghabisi kalian dirumah sendiri.”
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar