aku tak
tahan dengan perlakuanya terhadapku sekarang, memang benar ini salah ku, tapi
dia tak harus sekasar itu padaku, menyebalkan. Aku putuskan untuk pergi
meninggalkan mereka, meski merasa bersalah namun aku tak mau terus dipojokan oleh mereka.
“ifdo... kau mau kemana? Jenazah putri akan segera di kebumikan.” Teriak elek. Aku tak menggubris panggilannya, kakiku terus melangkah menjauhi mereka. Ini benar benar meenyebalkan.
“ifdo... kau mau kemana? Jenazah putri akan segera di kebumikan.” Teriak elek. Aku tak menggubris panggilannya, kakiku terus melangkah menjauhi mereka. Ini benar benar meenyebalkan.
Aku duduk disebuah kursi panjang
di tengah taman, aku mulai berpikir lagi
atas semua kenyataan pahit dan pengalaman yang buruk yang baru saja terjadi,
ini sungguh membuat aku frustasi. Kenapa semua mimpi buruk bisa menjadi nyata
di kehidupan nyataku, ini kutukan atau
memang takdir hidupku? Atau aku bisa meramal masa depan? Aku bisa
melihat masa depan dan mungkin aku bisa menghindari hal itu?!
tapi jika ini semua sebuah takdir. Mana bisa aku menolaknya, aku hanya bisa merubah nasib. Aish.... ini sungguh bisa membuat aku gila dan perlahan lahan aku bisa tersingkir dari dunia ini. Tck! Ini sungguh mimpi buruk!
tapi jika ini semua sebuah takdir. Mana bisa aku menolaknya, aku hanya bisa merubah nasib. Aish.... ini sungguh bisa membuat aku gila dan perlahan lahan aku bisa tersingkir dari dunia ini. Tck! Ini sungguh mimpi buruk!
“aku harus bagaimana? Ini benar benar sulit di mengerti.” Gumamku
frustasi dengan semua ini.
“Tuhan, aku… apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau seperti ini, aku
tak mau jadi penyebab penderitaan orang lain.”
“itu takdir dan bukan salahmu.” Aku menoleh kearah sumber suara dan
kudapati seorang pria tengah berjalan mendekatiku yang saat ini masih duduk di
kursi, aku lihat senyum di bibirnya sementara aku masih shock dengan
kehadirannya.
“takdir itu bukan kau yang menciptakan, jadi tidak perlu menyalahkan
diri sendiri.” Lanjutnya lagi, kini ia sudah berada di depanku namun masih
berdiri. Lagi lagi ia tersenyum padaku.
“jangan lari dari kenyataan tapi carilah jalan dari semua peristiwa
ini, carilah penyelesaiannya, cari ujungnya dan yakinkan bahwa kau bukan
penyebab semuanya, semua takdir Tuhan.” Ia benar benar membuatku terperangah,
kemudian ia duduk di sampingku.
“sejak kapan kau disini? Apa kau mengikutiku?” tanyaku benar benar heran dengannya.
“sejak di rumah sakit, aku khawatir denganmu.” Jawabnya, aku menatap
matanya yang tidak ada kebohongan sedikitpun, itu membuatku merasakan sesuatu
yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
“kenapa kau mengkhawatirkan aku?” tanyaku dengan tampang bodoh, lagi
lagi ia tersenyum.
“yaaah… karena kau mengkhawatirkan saja.” jawabnya, aku mengangguk
kecil
“kau tidak ingin melihat sahabatmu untuk yang terakhir kalinya?”
“aku… aku takut. “
“sudahku bilang itu bukan salahmu, setidaknya kau hadir di
pemakamannya. Walau bagaimanapun dia sahabatmu.” Baiklah aku mengerti dan ku
putuskan untuk hadir di pemakaman Putri bersama temanku ini, Hendra.
Di pemakaman, ternyata aku datang terlambat karena jenazah Putri sudah
di timbun oleh tanah, disana ku lihat Lia, Elek dan para sahabat lainnya
menangisi gundukan tanah basah itu, aku pun ikut menangis sembari melangkah
mendekati mereka.
“mau apa kemari?!” pekik Lia membuatku kaget namun aku tahan
“jangan kemari jika kau hanya membawa celaka kami, cukup Putri saja
yang kau jadikan Korban tindak bodohmu itu!” bentak Lia, ia membuatku menangis
sejadi jadinya. Sebuah telapak tangan mengelus bahuku berusaha menenangkanku.
“Lia… ini bukan salah Ifdo, aku tahu itu.” ku dengar elek membelaku
“aku muak melihatnya. Sebaiknya kau pergi Do!” usir Lia, aku tak bisa
membela diri karena memang aku merasa salah, ku putuskan untuk pergi di temani
dengan Hendra sementara sahabat sahabatku yang lain hanya diam, mungkin mereka bingung
antara membelaku atau menyalahkanku.
Malam…
Saat ini aku duduk disebuah Sofa yang terletak di depan tempat tidurku,
pintu kamar tidak aku kunci. Sengaja karena aku tidak suka terkunci sendirian
disini dan lagi pula aku masih menunggu Hendra datang untuk mengajakku makan
malam.
Kepalaku terasa pusing dan mataku berat sekali, aku benar benar merasa
ingin tidur untuk menghilangkan rasa ngantuk ini, ku lirik jam dinding di
kamarku yang menunjukan pukul 18.45 Pm, sebaiknya aku tidur saja, nanti biar
Hendra yang membangunkan aku jika dia sudah berada disini.
“Jangan mendekat Do, please..” kudengar seseorang merintih kesakitan,
aku berbalik
“Hendraaaa… kamu kenapa?” tanyaku Panik.
“please… menjauhlah. Aku tak ingin pergi secepat ini. Jangan
kemariiii!” pekik Hendra sembari merintih, aku melihat tubuhnya penuh luka, hal
itu membuatku semakin panik. Tapi kenapa aku tak boleh mendekat padanya? Kenapa
dia menghindariku? Apa salahku?
“pergi do, sekarang!!!” teriaknya membuatku kaget
“Hendraaaa!!” aku menjerit, mataku terbuka dan kulihat sekililingku.
Tidak ada siapapun disini, untunglah Hendra belum ada.tapi… mimpi tadi apa yah?
Tak lama kemudian ponselku berdering, segera ku raih ponsel itu dan ku jawab
panggilan yang ternyata daari Hendra.
“Hendra… kau diaman?” tanyaku
“aku.. sedang di seberang jalan, kau tunggu saja karena aku masih ingin
pergi ke mini market.” Katanya,
“baiklah.” Aku memutuskan sambungan telpon, segera ku raih jaket tebal
dan bergegas keluar dari rumah untuk menunggu Hendra di depan Gerbang rumahku
5 menit aku menunggu disini, ku lihat ramai kendaraan berlalu lalang di
depan mataku, tak lama kemudian aku mendengar seseorang meneriaki namaku
seketika ku alihkan pandanganku padanya, ia melambaikan tangan sembari
menunjukan kantung plastic yang ia genggam disebelah kiri. Aku tersenyum
melihat itu.
“aku kesana…” pekiknya aku mengangguk. Baru beberapa langkah, ku dengar
suara klakson motor membuatku berteriak dan berlari berusaha menerobos
kerumunan ditepi jalan, darah segar mengalir dari seluruh tubuhnya, ku lihat
tubuhnya tergeletak tak berdaya, ku rangkul tubuhnya sembari memanggil namanya,
“hendra… hendra… bertahanlah…” air mataku mengalir begitu saja, ia
menggenggam lenganku menahan sakit.
“tolong tolong panggilkan ambulance sekarang, tolooong…” pekikku
membuat kerumunan itu semakin riuh dan beberapa menit kemudian ambulance
datang, petugas yang ada segera membawa aku dan hendra kerumah sakit terdekat.
@rumah sakit
Aku termenung mengingat mimpiku tadi, namun itu tak berlangsung lama
karena sahabat sahabatku datang, aku tertunduk dan tak bisa berkata apa apa
didepan mereka.
“do, hendra bagaimana? “ Tanya Siti
“aku belum tahu, dokter masih di dalam memeriksa keadaannya.” Jawabku
sekenanya
“ini pasti gara gara kamu! Benar kata Lia bahwa kamu membawa celaka
kami!” hardik Dani membuatku semakin menunduk dan air mataku ini semakin deras
mengalir.
“maaf..” gumamku pelan, Siti merangkul bahuku
“jangan dengarkan kata Dani, dia hanya emosi saja.”
“ini fakta Siti.” Tukas Dani, Siti menatapnya tajam
“jangan menyalahkan Ifdo, ini takdir. Kita ini sahabat mereka tidak ada
yang salah, mungkin saja saat kejadian tadi Hendra kurang berhati hati atau
pengendara motor itu juga kurang berhati hati. Jangan membuatnya tertekan teman
teman, dia sahabat kita juga.” Kata Siti panjang lebar, Dani terdiam menahan
amarahnya, aku tahu itu.
“aku mau ketoilet dulu.” Pamitku lalu berlari kecil meninggalkan
mereka. Saat di toilet aku bercermin sembari membasuh wajahku yang sudah
memerah karena dari tadi menangisi Hendra, aku bahkan bingung sendiri, kenapa
hal ini bisa terjadi setelah aku bermimpi seperti itu.
“cleeeeeeeeeeeeeeeek.” Ku tolehkan pandanganku pada bunyi pintu yang
terbuka sedikit demi sedikit itu. ada perasaan cemas dan takut karena di sini
hanya ada aku sendiri.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar