Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Dream or Curse || Part 2

Kamis, 21 Mei 2015

Dream or Curse || Part 2

aku tak tahan dengan perlakuanya terhadapku sekarang, memang benar ini salah ku, tapi dia tak harus sekasar itu padaku, menyebalkan. Aku putuskan untuk pergi meninggalkan mereka, meski merasa bersalah namun  aku tak mau terus dipojokan oleh mereka.
“ifdo... kau mau kemana? Jenazah putri akan segera di kebumikan.” Teriak elek. Aku tak menggubris panggilannya, kakiku terus melangkah menjauhi mereka. Ini benar benar meenyebalkan.
Aku duduk disebuah kursi panjang di tengah taman, aku  mulai berpikir lagi atas semua kenyataan pahit dan pengalaman yang buruk yang baru saja terjadi, ini sungguh membuat aku frustasi. Kenapa semua mimpi buruk bisa menjadi nyata di kehidupan nyataku, ini kutukan atau  memang takdir hidupku? Atau aku bisa meramal masa depan? Aku bisa melihat masa depan dan mungkin aku bisa menghindari hal itu?!

tapi jika ini semua sebuah takdir. Mana bisa aku menolaknya, aku hanya bisa merubah nasib. Aish.... ini sungguh bisa membuat aku gila dan perlahan  lahan aku bisa tersingkir dari dunia ini. Tck! Ini sungguh mimpi buruk!
“aku harus bagaimana? Ini benar benar sulit di mengerti.” Gumamku frustasi dengan semua ini.
“Tuhan, aku… apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau seperti ini, aku tak mau jadi penyebab penderitaan orang lain.”
“itu takdir dan bukan salahmu.” Aku menoleh kearah sumber suara dan kudapati seorang pria tengah berjalan mendekatiku yang saat ini masih duduk di kursi, aku lihat senyum di bibirnya sementara aku masih shock dengan kehadirannya.
“takdir itu bukan kau yang menciptakan, jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri.” Lanjutnya lagi, kini ia sudah berada di depanku namun masih berdiri. Lagi lagi ia tersenyum padaku.
“jangan lari dari kenyataan tapi carilah jalan dari semua peristiwa ini, carilah penyelesaiannya, cari ujungnya dan yakinkan bahwa kau bukan penyebab semuanya, semua takdir Tuhan.” Ia benar benar membuatku terperangah, kemudian ia duduk di sampingku.

“sejak kapan kau disini? Apa kau mengikutiku?” tanyaku benar benar heran dengannya.
“sejak di rumah sakit, aku khawatir denganmu.” Jawabnya, aku menatap matanya yang tidak ada kebohongan sedikitpun, itu membuatku merasakan sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
“kenapa kau mengkhawatirkan aku?” tanyaku dengan tampang bodoh, lagi lagi ia tersenyum.
“yaaah… karena kau mengkhawatirkan saja.” jawabnya, aku mengangguk kecil
“kau tidak ingin melihat sahabatmu untuk yang terakhir kalinya?”
“aku… aku takut. “
“sudahku bilang itu bukan salahmu, setidaknya kau hadir di pemakamannya. Walau bagaimanapun dia sahabatmu.” Baiklah aku mengerti dan ku putuskan untuk hadir di pemakaman Putri bersama temanku ini, Hendra.
Di pemakaman, ternyata aku datang terlambat karena jenazah Putri sudah di timbun oleh tanah, disana ku lihat Lia, Elek dan para sahabat lainnya menangisi gundukan tanah basah itu, aku pun ikut menangis sembari melangkah mendekati mereka.
“mau apa kemari?!” pekik Lia membuatku kaget namun aku tahan
“jangan kemari jika kau hanya membawa celaka kami, cukup Putri saja yang kau jadikan Korban tindak bodohmu itu!” bentak Lia, ia membuatku menangis sejadi jadinya. Sebuah telapak tangan mengelus bahuku berusaha menenangkanku.
“Lia… ini bukan salah Ifdo, aku tahu itu.” ku dengar elek membelaku
“aku muak melihatnya. Sebaiknya kau pergi Do!” usir Lia, aku tak bisa membela diri karena memang aku merasa salah, ku putuskan untuk pergi di temani dengan Hendra sementara sahabat sahabatku yang lain hanya diam, mungkin mereka bingung antara membelaku atau menyalahkanku.
Malam…
Saat ini aku duduk disebuah Sofa yang terletak di depan tempat tidurku, pintu kamar tidak aku kunci. Sengaja karena aku tidak suka terkunci sendirian disini dan lagi pula aku masih menunggu Hendra datang untuk mengajakku makan malam.
Kepalaku terasa pusing dan mataku berat sekali, aku benar benar merasa ingin tidur untuk menghilangkan rasa ngantuk ini, ku lirik jam dinding di kamarku yang menunjukan pukul 18.45 Pm, sebaiknya aku tidur saja, nanti biar Hendra yang membangunkan aku jika dia sudah berada disini.
“Jangan mendekat Do, please..” kudengar seseorang merintih kesakitan, aku berbalik
“Hendraaaa… kamu kenapa?” tanyaku Panik.
“please… menjauhlah. Aku tak ingin pergi secepat ini. Jangan kemariiii!” pekik Hendra sembari merintih, aku melihat tubuhnya penuh luka, hal itu membuatku semakin panik. Tapi kenapa aku tak boleh mendekat padanya? Kenapa dia menghindariku? Apa salahku?
“pergi do, sekarang!!!” teriaknya membuatku kaget
“Hendraaaa!!” aku menjerit, mataku terbuka dan kulihat sekililingku. Tidak ada siapapun disini, untunglah Hendra belum ada.tapi… mimpi tadi apa yah? Tak lama kemudian ponselku berdering, segera ku raih ponsel itu dan ku jawab panggilan yang ternyata daari Hendra.
“Hendra… kau diaman?” tanyaku
“aku.. sedang di seberang jalan, kau tunggu saja karena aku masih ingin pergi ke mini market.” Katanya,
“baiklah.” Aku memutuskan sambungan telpon, segera ku raih jaket tebal dan bergegas keluar dari rumah untuk menunggu Hendra di depan Gerbang rumahku
5 menit aku menunggu disini, ku lihat ramai kendaraan berlalu lalang di depan mataku, tak lama kemudian aku mendengar seseorang meneriaki namaku seketika ku alihkan pandanganku padanya, ia melambaikan tangan sembari menunjukan kantung plastic yang ia genggam disebelah kiri. Aku tersenyum melihat itu.
“aku kesana…” pekiknya aku mengangguk. Baru beberapa langkah, ku dengar suara klakson motor membuatku berteriak dan berlari berusaha menerobos kerumunan ditepi jalan, darah segar mengalir dari seluruh tubuhnya, ku lihat tubuhnya tergeletak tak berdaya, ku rangkul tubuhnya sembari memanggil namanya,
“hendra… hendra… bertahanlah…” air mataku mengalir begitu saja, ia menggenggam lenganku menahan sakit.
“tolong tolong panggilkan ambulance sekarang, tolooong…” pekikku membuat kerumunan itu semakin riuh dan beberapa menit kemudian ambulance datang, petugas yang ada segera membawa aku dan hendra kerumah sakit terdekat.
@rumah sakit
Aku termenung mengingat mimpiku tadi, namun itu tak berlangsung lama karena sahabat sahabatku datang, aku tertunduk dan tak bisa berkata apa apa didepan mereka.
“do, hendra bagaimana? “ Tanya Siti
“aku belum tahu, dokter masih di dalam memeriksa keadaannya.” Jawabku sekenanya
“ini pasti gara gara kamu! Benar kata Lia bahwa kamu membawa celaka kami!” hardik Dani membuatku semakin menunduk dan air mataku ini semakin deras mengalir.
“maaf..” gumamku pelan, Siti merangkul bahuku
“jangan dengarkan kata Dani, dia hanya emosi saja.”
“ini fakta Siti.” Tukas Dani, Siti menatapnya tajam
“jangan menyalahkan Ifdo, ini takdir. Kita ini sahabat mereka tidak ada yang salah, mungkin saja saat kejadian tadi Hendra kurang berhati hati atau pengendara motor itu juga kurang berhati hati. Jangan membuatnya tertekan teman teman, dia sahabat kita juga.” Kata Siti panjang lebar, Dani terdiam menahan amarahnya, aku tahu itu.
“aku mau ketoilet dulu.” Pamitku lalu berlari kecil meninggalkan mereka. Saat di toilet aku bercermin sembari membasuh wajahku yang sudah memerah karena dari tadi menangisi Hendra, aku bahkan bingung sendiri, kenapa hal ini bisa terjadi setelah aku bermimpi seperti itu.
“cleeeeeeeeeeeeeeeek.” Ku tolehkan pandanganku pada bunyi pintu yang terbuka sedikit demi sedikit itu. ada perasaan cemas dan takut karena di sini hanya ada aku sendiri.


To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake