Author Pov
Ifdo terdiam cukup lama menunggu siapa yang ada di balik pintu toilet
itu, bulu tengkuknya berdiri namun sebelum hal itu terjadi seseorang masuk dan
malah membuatnya berteriak ketakutan.
“ada apa do?” Tanya Eva kaget, napasnya memburu, ia menghela napas
panjang lalu tersenyum kecil.
“tidak ada apa apa dew, kamu mau pipis juga?” Tanya Ifdo
“aku cemas sama kamu jadi aku susul. Yuk dokter udah selesai memeriksa
Hendra.” Kata Eva,
“lalu gimana keadaan Hendra? “ Tanya Ifdo penasaran.
“dia sudah siuman, kita lihat langsung aja yuk.” Seru Eva menarik
lengan ifdo untuk keluar dari toilet.
@ruang Rawat hendra
Semuanya tampak senang melihat hendra sudah sadar, mereka bersenda
gurau kecuali Dani sepertinya Pria ini masih kesal dengan peristiwa yang
terjadi pada sahabatnya ini. Ketika Ifdo dan Eva datang, Dani memasang wajah
Dinginnya, Ifdo tak menghiraukan itu karena ia sudah sangat bersyukur karena
Hendra sudah siuman.
“kamu baik baik saja kan?” Tanya Ifdo sedikit khawatir, Handra
tersenyum kecil lalu mengangguk.
“bego banget sih, orang ada dirumah sakit juga ya pasti kenapa napa lah!” celetuk Dani dengan sinisnya membuat yang lain menatapnya seketika.
“Dani, apa apa’an sih!” tegur Siti yang tidak suka dengan sikap
kekasihnya itu.
“Hendra….” Pekik seorang gadis dari depan pintu, semua mata tertuju
pada gadis itu.
“Lia…” kata Hendra
“kamu enggak apa apa kan? Maaf yah aku baru bisa datang sekarang.” kata
lia menyesal
“enggak apa apa kok, aku udah baikan.” Jawab Hendra.
“kok bisa sih? Makanya hati hati dong kalu nyeberang!” protes Lia,
hendra tertawa kecil lalu mengangguk.
“iya iya…”
“kalau perlu jangan dekat dekat dengan DIIAA” Lia menekan kata “DIA”
sembari melirik sinis kepada Ifdo membuat yang dilirik menghela napas panjang.
“bukan salah Ifdo kok, udah deh enggak usah mojokin dia mulu, kan dia
enggk salah.” Bela Hendra
“salah kalau dia selalu membawa musibah untuk kita.” Kata Lia, Ifdo
menatap Lia dengan pandangan geramnya.
“udah selesai?! Aku pulang dulu hen.. disini panas banget. Gerah.”
Pamit ifdo sembari berbalik keluar dari ruang rawat, Hendra hanya diam dan
merasa tak enak hati atas sikap teman temannya itu.
“Do…” panggil elek, ia berlari mengikuti ifdo keluar.
“tolong… dia itu sahabat kita, enggak perlu digituin dong. Toh dia juga
enggak ada niat buat kita semua celaka. Dia enggak tau apa apa. Jangan nyalahin
dia terus dong.” Kata Siti merasa kasihan dengan ifdo.
“kamu kenapa sih selalu aja belain dia. Udah tau dia yang salah!!”
bentak Dani yang mulai mengeluarkan amarahnya pada siti. Siti menatapnya sebal
“karena aku SAHABATnya!!! Sebagai sahabat aku yakin dan aku tahu, ifdo
itu manusia biasa, dia enggak berdaya apa apa, semuanya takdir!” jelas Siti tak
kalah sini dari Dani.
“udah jangan bertengkar. Ini rumah sakit.” Lerai Ridwan
“udahlah aku mau pulang. Hendra… aku pulang dulu yah, kamu lekas sembuh
yah.” Ujar Siti, Hendra mengangguk kecil kemudian Siti keluar dari ruangan itu
di ikuti oleh Dani.
“Yang… kamu marah yah.” Manja Dani, Siti tak menghiraukannya dengan
terus berjalan mendahului Dani, namun Dani segera menghentika langkah siti
dengan menarik lengan Siti.
“yang… udah dong jangan ngambek.” Bujuk Dani, Siti menatapnya sinis.
“ udahlah… aku capek debat sama kamu. Dan ingat yaaah… sekali lagi kamu
nyalahin ifdo. Aku marah banget sama kamu!” ancam Siti
“looh, kan ifdo memang salah Yang, dia itu permbawa musibah buat kita.
Mungkin dia dikutuk.” Celetuk Dani membuat Siti memanas lalu menginjak kaki
Dani hingga sang punya kaki merintih kesakitan.
“kalau aku diposisi ifdo, kamu juga seperti ini sama aku?!” Tanya Siti,
Dani terdiam.
“…”
“kenapa diam?! Dengar yah Ramdani… kita ini sahabatnya, aku sebagai
sahabatnya tidak suka dengan sikap kamu yang seperti ini!” seru Siti kemudian
berbalik meninggalkan Dani yang masih terdiam.
Sementara itu di tempat elek dan ifdo yang sedang berdiam diri untuk
menenangkan suasana hati ifdo yang kalut karena semua peristiwa dalam mimpinya
menjadi nyata.
“punya solusi enggak?” Tanya Elek pada ifdo, ifdo menggeleng
“lalu harus bagaimana?”
“kalau aku tahu solusinya, aku udah lakuin sebelum putri pergi.” Kata
Ifdo yang teringat dengan sahabatnya itu.
“ini situasi yang membingungkan.”
“aakkkhhh…” rintih ifdo sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Elek yang berada disampingnya jadi cemas, ia memegangi bahu Ifdo agar tidak
tumbang.
“do, kamu kenapa?” Tanya Elek cemas
“aku enggak kenapa napa kok, Cuma pusing sedikit.” Jawab ifdo
sekenanya.
“minum obat aja.” Kata elek
“tidak, aku tidak mau tertidur karena efek obat itu. hooaaam” kata ifdo
sembari menguap.
“tolong ajak aku mengobrol, karena jika aku tertidur aku takut mimpi
aneh itu datang lagi.” Pinta Ifdo dengan matanya yang mulai terasa sangat
berat, elek bingung harus bagaimana.
“do… tugas pak Amrazi udah dikerjain?” Tanya elek, ifdo tak merespon
karena detik berikutnya ia sudah terelap dengan kepala bersandar pada dinding
disebelah kanannya. Elek menghela napas pendek.
“Siti… banguuun… “ seru Ifdo mengguncangkan tubuh siti yang terbaring
lemas di tepi jalan.
“do…jangan bersedih, aku baik baik saja.” kata siti dengan lemasnya,
ifdo menangis sembari memegangi lengan sahabatnya itu.
“tolooong hentikan ini semuaaaa.. tolong. Hiks… hiks…” pinta ifdo
sembari tersedu seduh, sementara Siti meringis kesakitan.
“ Ifdo… jangan menangis, itu kelemahanmu do, tolong jangan menangis
lagi itu membuatku sakit do, tubuhku sakit semua.” Rintih siti membuat ifdo
semakin panik hingga air matanya terus mengalir menangisi sahabatnya itu.
“aaaaaaaarrrrggghhh… aaakkkkhhh…” jerit Siti, dari puncak kepalanya
mengalir darah merah kental, Ifdo semakin tak kuasa menahan kesedihannya.
“jangan menangis do, tolooong…” rintih Siti.
“Siiittiiiii..” pekik Ifdo, ia tersadar dari mimpinya
“kamu mimpi lagi?” Tanya elek, Ifdo mengangguk.
“siti kenapa?” Tanya elek lagi
“kita harus pastikan siti baik baik saja. ayooo kerumah sakit lagi.”
Seru Ifdo berlari mendahului elek menuju rumah sakit yang tak jauh dari
tempatnya tadi.
“siti…” pekik ifdo, semua yang ada diruangan Hendra menoleh padanya.
“siti kenapa?” Tanya Dani
“cari siti sekarang. dia dalam bahaya.” Seru Ifdo membuat teman
temannya panik.
“apa??”
“iya, tolong cari siti dan pastikan dia baik baik saja. jaga dia.” Kata
Ifdo dengan keringat dingin yang mengalir dari tubuhnya, seketika Dani berlari
keluar untuk mencari siti di ikuti oleh yang lain, saat ifdo hendak ikut
berlari Lia mencegahnya.
“kamu jangan ikut, kamu hanya akan mempercepat bahaya itu datang pada
siti, kamu disini saja dan jangan dekat dekat dengan Hendra.” Perintah Lia yang
kemudian berlari bersama Hanggoro. Hanya ada elek dan Hendra disana bersama
ifdo.
“kamu jangan terlalu menganggap itu semua,” hibur Hendra, Ifdo
tersenyum kecil
“iya, aku tahu kok. Lia benar.”
“tidak seperti itu do… Lia…” Elek mencoba memberi pengertian pada ifdo
“aku tau kok. Tidak apa apa. “
“do. Kemarilah…. Jangan jauh jauh.” Panggil Hendra
“jangan, jangan dekat dekat denganku, aku tak mau kalian celaka.” Kata
Ifdo yang termakan oleh omongan Lia tadi
“itu jika kamu bermimpi saja. sudahlah do.” Kata elek
“aku.. aku bingung.”
“lupakan dan jangan di ingat lagi. Sekarang kita harus cari solusi yang
tepat untuk masalah ini.” Kata Hendra di setuju dengan anggukan oleh Elek.
“caranya?”
“itu yang sedang aku pikirkan do.” Lanjut Hendra lagi
“bagaimana bisa ini terjadi pada hidupku? Kenapa harus aku?” lirih Ifdo
sembari terduduk dilantai, ia menundukan kepalanya, Hendra dan Elek masih
berpikir mencari solusi untuk menghentikan sesuatu yang mengerikan yang selalu
mengikuti ifdo dan teman temannya.
Sementara itu, yang lan masih mencari Siti yang menghilang entah
kemana. Dani berlari kesana kemari mencari siti.
“aduuuh. Ini ada apa lagi sih?” panic Eva sembari terus mengedarkan
pandangannya mencari siti.
“kalau sampai siti kenapa napa, aku tidak akan memaafkan ifdo!” tekad
Dani, Hanggoro dan Ridwan menatap Dani dengan kesalnya.
“kau ini kenapa selalu menyalahkan ifdo sih?! Aku muak tahu dengan
kalian yang selalu menyalahkan dia!” bentah Hanggoro yang mengeluarkan
amarahnya. Lia menatap hanggoro
“kamu juga benci sama aku?”
“kenapa?!! Coba kalau kamu yang di posisi ifdo, kamu suka? Apa kamu
terima kamu di sudutin terus?” Tanya Hanggoro.
“…” lia terdiam
“udah ah, kok jadi ribut gini, kita cari siti lagi yuk.” Ajak Ridwan
kepada teman temanya.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhh!!!”terdengar seseorang
menjerit ketakutan dari ujung jalan yang gelap, mereka segera berlarian kearah
sumber suara itu, tak mereka hiraukan rasa takut yang menyelimuti mereka karena
mareka lebih cemas terhadap siti.
“ Sitiiiii….!” Pekik Dani begitu cemas melihat kekasihnya tergeletak
bersimbah darah dengan bekas luka menganga di lengan dan lehernya. Mereka yang
meihat menjadi ngeri sendiri, sedangkan
para gadis yang ikut melihat itu menangis ketakutan.
“kita pergi dari sini sekarang! aku mohon. Hiks… hiks…” pinta Lia sembari menangis memeluk Hanggoro yang masih
Shock.
“aakh..” rintih Siti yang ternyata masih hidup, Dani segera memeluknya
sembari menangis, merasa sedih dan marah.
“cepat bawa dia kerumah sakit.” Perintah Eva
“Dhaa Niih… saakiiiiith..” rintih siti
“jangan berbicara dulu, kami akan membawamu kerah sakit sekarang.” kata
dani yang kemudian menggendong tubuh siti.
“yang lain ayo pergi, mungkin saja tempat ini tidak aman lagi.” Ajak
Ridwan.
Pukul 11 malam
Sesampainya dirumah sakit, dokter yang hendak pulang di hadang mereka,
mereka meminta diokter untuk mengobati siti, namun dokter tersebut tidak mau
dengan alasan bahwa jam kerjanya telah selesai mala mini hal itu membuat
Hanggoro naik pitam dan hampir saja memukul wajah Dokter tersebut.
“dok, tugas anda adalah melayani kami yang membutuhkan pertolongan,
tolong obati dulu teman kami dok.” Pinta Lia.
“maaf saya tidak bisa, “ tolak dokter itu
“please… kami mohon dok, teman saya sedang sekarat dok. Hiks… hiks..”
kata Eva sembari menangis. Dokter itu melihat tubuh siti yang penuh darah dan
luka, ia pun diam sejenak kemudian mengiyakan permintaan mereka.
Sementara itu di ruang lain.
“bagaimana keadaan siti?” Tanya Hendra berbicara dengan Hanggoro lewat
telepon. Ifdo yang masih terjaga karena mengkhawatirkan sahabat sahabatnya
mendengar percakapan mereka berdua.
“apa?”
“siti sedang ditangani oleh dokter. Kamu jangan terlalu panik karena
dia pasti akan baik baik saja.” hibur Hendra yang tahu bahwa ifdo sekarang
sedang panik dan merasa bersalah.
“apa dia terluka?”
“iya. Tapi itu bukan salahmu, ini hanya sebuah musibah yang kita tidak
tahu bisa menimpa siapa saja.” tutur Hendra
“…hiks… hiks…” Ifdo menangis
“jangan menangis do.”
“aku… ini semua salahku, “ ifdo berdiri dari duduknya, berbalik keluar
dari ruang rawat Hendra, hendra mengikutinya namun meninggalkan elek sendiri
disana.
“do.. kamu mau kemana?”
“jangan ikuti aku hendra, aku tidak mau kamu celaka lagi gara gara aku,
jadi tolong menjauhlah.” Seru ifdo berlari meninggalkan Hendra yang terdiam
mematung, sepeninggalan Ifdo ia melihat seseorang mengenakan jubbah hitam
berdiri di sebuah anak tangga, ia memperlihatkan seringainya kemudian
menghilang begitu saja membuat hendra bergidik ngeri lalu kembali ke ruang
rawatnya. Saat memasuki ruangan itu ia kaget karena elek tidak ada ditempat, ia
segera menelpon Ridwan menanyakan apakah elek ada di ruangan tempat Siti
dirawat. Namun ternyata disana tidak ada elek mendapat kabar seperti itu,
Hendra segera berlari kecil meninggalkan ruangannya.
“Hendra.” Kata Lia
“kenapa kesini? Kan kamu masih sakit.” Tanya Eva
“elek mana? “
“sudah dicek ke toilet?” Tanya RIdwan
“belum, tapi aku telpon ponselnya enggak aktif.” Kata Hendra cemas
“ya udah kita lihat ke toilet cewek yuk.” Ajak Lia kepada Eva ditemani
oleh Hanggoro
“gimana keadaan siti?” Tanya Hendra
“lukanya terlalu parah, aku takut Hen..” jawab dani
“kita berdoa saja agar dia bisa sembuh.” Hibur Hendra
“iya, Hendar benar.”
“h iya, ifdo mana?” Tanya Ridwan
“jangan sebut nama gadis pembawa sial itu, aku tak akn memaafkannya!”
hardik Dani penuh amarah
“Dani! Siti seperti ini bukan karena ifdo!” marah Hendra
“lalu siapa yang harus disalahkan? Kan dia yang selalu mengetahui hal
hal aneh lewat mimpi terkutuknya itu!” kesal Dani
“eeeh… sudah sudah jangan bertengkar disini.” Lerai Ridwan
“…”
“coba kalian pikirkan jalan keluarnya, jangan malah bertengkar seperti
ini.” Lanjut Ridwan
“mungkin jika ifdo mati, hal ini akan berakhir.” Celetuk Dani membuat
Hendra melayangkan satu pukulan diwajahnya, Dani menatap hendra dengan sinis
namun ia tidak membalasnya karena mengingat Hendra tengah sakit juga.
“apa apa’an sih kalian ini, kayak bocah aja.!” Kesal Ridwan kepada
teman temannya ini.
“elek tidak ada dimana mana!” seru Lia setelah memasuki ruangan membuat
3 pemuda yang ada tadi jadi kaget dan cemas.
“tuh kan… ini pasti si ifdo nih, dia pasti mimpi lagi.” Tuduh Dani
membuat Hendra benar benar geram.
“sekali lagi kamu atau kalian nyalahin ifdo,aku… aaarrgghh.” Hendra
berbalik meninggalkan ruangan itu sepeninggalan Hendra, suasana benar benar
hening, mereka tengah memikirkan siti, keadaan Hendra, keberadaan elek dan Ifdo
yang menurut mereka pangkal dari semua yang telah terjadi.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar