I
love you, more than you know
Author : Ifdo Hidayah
Main cast : Aliando, Felicia
Support cast : find by yourself
Language : Indonesia
Genre : Romance
Prolog...
Aliando, pemuda tampan nan kaya raya,
pemberani juga cerdas. Ia hidup seorang diri di jakarta karena kedua orang
tuanya memutuskan menetap di kanada, ia bukan melarikan diri dari orang tuanya,
namun ia ingin hidup mandiri, ia memutuskan menghuni rumah kontrakan dan
berkerja serta sekolah ditempat yang ia kehendaki tanpa bantuan orang tuanya,
meskipun begitu orang tua aliando tetap mengirimi uang bulanan kerekening anak
semata wayangnya itu.
Feliciaa, gadis cantik, baik dan terbuka
dengan siapapun, walau bukan dari kalangan atas, ia sangat pintar dan selalu
mendapat beasiswa sekolah setiap kenaikan kelas hingga meringankan beban kedua
orang tuanya untuk membiayai sekolahnya.
#SMA
“Al.... Aliiiiii...”
“Aliiiiii......”
“Aaaaallliiiii”
“Aliiiii...”
Teriak histeris dari gadis gadis saat
Aliando berjalan di Lorong lorong kelas, mereka begitu mengagumi sosok pemuda
tampan itu. Sesekali Aliando tersenyum tak enak sendiri sembari menahan rasa
malunya karena sikap gadis gadis itu. Tiba tiba seorang gadis menarik lengannya
dengan kuat dan membawanya menjauh dari kerumunan gadis gadis tadi.
Gadis itu membawa Aliando ke kantin yang
kebetulan agak sepi, keduanya memutuskan untuk duduk bersama dikursi yang
berhadapan. Aliando hanya senyum senyum gak jelas melihat mimik wajah sang
gadis yang membawanya tadi terlihat kesal padanya.
“kamu bisa menghindar Al, bisa! Tapi
kamunya aja yg ke genitan gitu sama mereka! Ish!” omel gadis itu
“maaf Fel, gue bingung aja mau menghindarnya kayak gimana, mereka banyak banget.” Aliando membela dirinya.
“ah udahlah.... jawaban kamu selalu
sama! Nyebelin!” sebal Felicia, ia berdiri dari kursi yang ia duduki, segera
saja Aliando ikut berdiri sembari menyergah lengan Felicia agar tidak pergi
meninggalkannya di kantin. Keduanya saling tatap.
“Fel, percaya deh. Mereka bisa aja
ngerjar gua, dekat dekat sama fisik gua, tapi lu harus tau Fel. Gak ada yg
boleh dan gak ada yang bisa dekitin hati gue. Hati gue kan udac dipager sama
cinta lu Fel. Hehe” Kata Aliando dengan sembari merayu Felicia.
“ah... gombal kamu.” Kata Felicia
tersimpuh malu mendengarnya. Aliando tersenyum manis melihat sikap Felicia yang
malu malu.
“gak kok, beneran deh.” Kata Aliando
meyakinkan kekasihnya itu.
“ehm... terserah deh.”
Sore,
Ditempat lain, seorang gadis berjalan
menelusuri sebuah gang dengan membincing tas belanjaan dari pasar. Ia bermaksud
memotong jalan menuju rumahnya, tetapi di salah jalan dan disana ada beberapa
pria yang sedang berjudi sembari meneguk beberapa botol minuman keras. Gadis
itu terus berjalan walau ia tidak yakin bahwa jalan yang di tempuh itu jalan
yang benar atau salah. Salah satu dari orang orang itu menegur sang gadis.
“neg, dari mana? Sendiri aja?” goda pria
itu, gadis itu hanya diam dan terus berjalan namun tanpa di ketahui 2 orang
dari mereka mengikuti gadis itu sampai menuju jalan buntuh. Gadis itu mulai
panik.
“neng, mau kemana? Disini gak ada jalan
neng.” Kata satu pria tadi, gadis itu tetap diam
“aduh si eneng, cantik cantik kok
sombong banget sih. Mau abang tunjukin jalan gak?” tawar pria satunya lagi,
namun bermaksud tidak baik terhadap gadis tersebut.
“ia Allah... lindungi hambaMu ini ya
Allah...” doa sang gadis dengan paniknya
“aduh, doanya gitu banget sih, kan kita
gak mengganggu. “ ucap sang pria tadi
“maaf bang, sepertinya saya salah jalan,
maaf” kata sang gadis yang berbalik menghadap kedua pria tadi, ia melangkah
untuk kembali kemulut gang yang tadi ia masuki, namun baru beberapa langkah
kedua pria itu memegang lengannya dan memaksanya ikut, gadis itu berteriak
minta tolong, namun tidak ada yg berani menolong meski ada beberapa warga yang
keluar dari rumahnya. Gadis malang itu dipaksa masuk kedalam sebuah rumah
kecil, gadis itu meronta ketakutan sembari menangis.
“tolooooong.... tolong, bang tolong
jangan sakiti saya, tolong jangan ganggu saya bang.” Pinta sayng gadis itu
meronta memeluk dirinya sendiri. kedua pria itu malah tertawa licik kemudian
beberapa orang yang tadinya hendak masuk juga tetapi dicegah oleh salah satu
dari mereka.
“eh, gua juga mau ikutan nih.”
“giliran donk!”
“tolooooooong.” Teriak gadis itu
ketakutan.
“bang, lepasin dong gadis tadi, kasian
dia bang.” Ucap seorang bapak memberanikan diri.
“alah... diam lu! Ini urusan kita!”
bentak pria lainnya.
“Aliiiiiiiii..... tolooooooooong.....”
teriak gadis itu memanggil kekasihnya, namun nama yang di panggil tidak juga
muncul akhirnya nasib naas menimpa sang gadis. Gadis itu dinodai oleh 2 orng
pria karena sempat pingsan ketakutan, setelah itu mereka pergi meninggalkan
sang gadis malang dengan tubuh tanpa sehelai benang yang menempel disana.
Beberapa jam kemudian sang gadis sadar, ia menangis sejadi jadinya mengingat
peritiwa pahit yang ia alami tadi, ia mengusap lengan dan kakinya sembari terus
menangis dan meronta meminta tolong sembari memanggil nama kekasihnya, Aliando.
“Al.... tolong Al, Aliiiii... hiks
hiks...” rintih sang gadis.
# dirumah aliando
“ya ampun, kemana sih Felicia. Telpon
gak di angkat. Sms gak dibalas, maunya apa sih? Ngmabek lagi tu cewek?! Ampun
dah!” sebal Aliando, namun terbesit rasa khawatir. Ia mencoba menghubungi
gdisnya itu beberapa kali namun tetap saja hasilnya sama, tidak ada jawaban
atau kabar apapun dari gadis itu.
Keseokan harinya, Aliando berdiri
didepan pintu kelas bermaksud menyambut sang kekasih hati, namun setelah bel
berbunyi orang yang ditunggu tidak datang juga. Aliando semakin khawatir dengan
keadaan kekasihnya itu.
“ya ampun.... mana sih Felicia. Kok gak
sekolah sih?!”
#di kamar kost Felcia.
Gadis itu menangis tersedu sedu meratapi
nasib malangnya, ia terus saja menggosok gosok seluruh tubuhnya dengan sabun
mandi, lalu beberapa kali keluar masuk kamar mandi. Ia benar benar jijik kepada
dirinya sendiri.
“ia Allah.... sekarang aku harsu
bagaimana?! Aku takut ya Allah... hiks.. hiks...” rapatnya. Ia benar benar
bingung dan menderita saat ini.
Pukul 2 siang, Aliando mendatangi Kost
Felicia
“Riska. Felicianya ada di kamar?” tanya
Aliando kepada teman kost Felicia
“ada, tapi dia nangis terus. Ditanya gak
di jawab, nangis terus. Kami aja gak boleh masuk. Kamarnya dikunci lagi.” jawab
Riska panjang lebar
“lah? Felicia sakit? Udah bilang ibu
kost?!” tanya Aliando
“belum, Ibu kostnya prgi ke Surabaya,
lusa baru pulang.”
“och, ya udac, makasih yah.” Kata
Aliando, ia melangkah menuju kamar Felicia, tepat didepan pintu kamar
kekasihnya itu, Aliando segera mengetuk Pintu tersebut sembari memanggil nama
Felicia.
“Fel... sayang... kamu kenapa? Kok gak
sekolah? Sayang... hei... kamu didalam kan?” tanya Aliando dengan lembut namun
tidak diberi jawaban
“Feli sayang... udah dong ngambeknya,
aku kangen nih sama kamu. Please... buka pintunya yah.” Bujuk Aliando.
“Felicia... kamu sakit huh? Ini aku
Aliando, aku gak tau kamu kenapa, cerita dong kalau ada masalah. Sayangku...
Felicia...” bujuk Aliando lagi.
*Cekleek!* pintu terbuka, Aliando
tersenyum sembari membuka pintu lebar lebar, ia kaget melihat kondisi
kekasihnya yang urakan.
“Astaghfirullah... Felicia... kamu
kenapa?!” tanya Aliando sedikit panik, yang ditanya hanya menangis merintih,
terduduk sembari memeluk tubuhnya sendiri. Aliando mendekatinya, mensejajarkan
posisi mereka.
“Fel... kenapa berantakan begini? Kamu
kenapa?” tanya Aliando cemas.
“hei... sayangg, kamu kenapa sih, jawab
dong, aku bingung nih.” Bujuk Aliando lagi, dengan tiba tiba Felicia memeluk
tubuh Aliando dengan erat. Aliando mengelus puncak kepala Felicia dengan lembut
dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memeluk tubuh Felicia yang
bergetar karena tangisan gadis itu.
“sayang, kamu kenapa sih? Beneran deh
aku bingung trus panik nih. Cerita dong kenapa?” tanya Aliando lagi.
“Al... aku...”
“hmm, iya kenapa?”
“aku takut Al, aku takut diganggu sama
preman preman itu lagi.” jawab Felicia membuat Aliando semakin bingung.
“maksud kamu apa?”
“aku takut... aku gak sanggup cerita dan
inget peristiwa kemarin Al, aku benci kalau peristiwa itu terus berputar di
kepalaku hiks hiks!” kata Felicia, Aliando melepaskan pelukannya, ia memegang
kedua bahu Felicia dan menatap wajah Felicia yang tertunduk sembari terus
menangis.
“Fel... badan kamu kok licin?”
“Al... aku... aku “
“Fel, aku gak ngerti.”
“mereka mengganggu aku sewaktu aku
hendak pulang ke kost, mereka membawaku ke rumah kecil dan disana aku meminta
tolong namun tak ada yg mau menolong aku Al, dan ketika aku sadar, sudah tidak
ada sehelai benang pun yang ada. Hiks... hiks...” kata Felicia yang terus saja
menangis, mendengar itu Aliando kaget lalu memeluk Felicia lagi, ia terus
mengelus kepala Felicia. Mencoba meenangkan kekasihnya.
“Sayang... kamu ingat siapa mereka?!”
“please,... jangan tanya itu, aku takut.
Aku benci mereka.”
“Gue lebih benci sama mereka yang udah
buat kamu sakit kayak gini! Mereka harus di kasi pelajaran.” Kata Aliando
sedikit emosi. Ia Berdiri sembari menarik tubuh Felicia dan membawa Felicia
keluar dari kamarnya.
“Al... kamu mau bawa aku kemana?” tanya
Felicia bingung.
“Tunjukin aku dimana tempat itu! Aku gak
terima mereka sakitin kamu! Bajingan!” kesal Aliando yang terus menarik Felicia
untuk naik keatas motor dan menunjukan tempat kejaidain kemarin.
“tapi Al... mereka jumlahnya banyak. Aku
gak mau kamu disakiti mereka Al. Please... berhenti!” pinta Felicia. Namun
Aliando tidak menghiraukan Felicia, ia tetap melaukan motorrnya.
“Al... berhenti. Aku mau pulang...!”
pinta Felicia berteriak.
“Fel, aku gak bisa diam aja, kamu
tunjukin dimana tempat itu, please...” pinta Aliando
“Fel. Aku sayang kamu, jadi jangan melindungi
mereka.”
“aku gak melindungi mereka, aku gak mau
kamu kenapa napa Al.”
“klau gitu tunjukin dimana tempatnya.”
“ok ok, setelah itu kita langsung
pergi.”
“kita lihat aja nanti.”
Sampai didepan sebuah gang, Aliando
memberhentikan Motornya, ia menatap beberapa orang yang sedang berjudi dari
kejauhan. Aliando turun dari motornya namun sebelum masuk Felicia mencegahnya.
“jangan, disana berbahaya Al, please....
dengerin aku Al.” Pinta Felicia
“Fel, mereka bajingan itu kan?! Mereka
harus di kasi pelajaran berharga!!” geram Aliando sembari mengepalkan kedua
tangannya.
Pemuda ini berjalan masuk kedalam gang
kecil itu meski telah di cegah oleh kekasihnya, sampai di hadapan mereka yang
tengah asik berjudi, Aliando menatap mereka satu persatu dengan penuh emosi dan
sinis. Sementara Felicia berdiri dibelakang Aliando.
“wah... si eneng balik lagi.” tegur
seorang pria
“iya, mau lagi yah?!” goda pria yg
satunya lagi. mendengar itu Aliando melayangkan tendangan kerasnya sehingga
mengenai kepala pria botak itu.
“wah, berengsek lu!” maki teman si botak
“lu semua brengsek!” balas Aliando
geram, ia telah memasang kuda kuda tanda siap bertarung demi harga diri kekasih
hatinya yang direbut paksa oleh orang orang tak bertanggung jawab itu.
“eh, lu anak kecil. Maju lu!” tantang
pria gendut berkulit hitam yg tengah duduk. Aliando melompat tinggi dan
mengarahkan kakinya keatas kepala pria itu, hingga mereka jatuh bersamaan.
Kemudian pertarungan sengit itu terjadi. Felicia hanya bisa menangis memanggil
nama Aliando yang tengah melawan 5 orang Pria bengis.
“Ya Allah... lindungi Aliando ya
Allah...”
45 menit kemudian, Aliando tampak tidak
berdaya karena dikeroyok oleh kawanan preman itu, namun untungnya salah satu
warga berani menghubungi polisi dan polisi datang sebelum Aliando tewas
ditangan mereka. Polisi membawa mereka, sementara Felicia memeluk tubuh pria
yang ia cintai yang tergeletak lemah.
“Al... bangun Al. Bangun.... Ya Allah...
lindungi Aliando, Al.. bangun Al.” Tangis Felicia histeris sembari memeluk
tubuh Aliando. Tak lama kemudian Ambulance datang dan membawa Aliando kerumah
sakit ditemani kekasihnya yang tak henti menangis sembari menggenggam tangan
Aliando yang berlumuran darah.
#Rumah sakit, Tepatnya di depan UGD.
Sementara Felicia menuggu dengan resah sembari terus berdoa dalam tangisnya.
“Al... kamu harus kuat, kamu harus baik
baik saja. Aku tak punya siapa siapa lagi di kota ini. Al.. aku sayang kamu. Ya
Allah... sembuhkan Aliando, aku mohon Engkau memberi kesempatan Hidup kepada Aliando,
kekasihku ya Allah...”
# 2 jam Kemudian,
“dok, Aliando dok, dia baik baik saja
kan?!” tanya Felicia cemas
“dia sudah melewati masa kritisnya,
namun sekarang ia butuh istirahat.”
“Alhamdulillah... terima kasih ya
Allah... boleh saya lihat?!”
“boleh, silahkan.”
Felicia masuk keruangan tersebut, ia
melihat kekasihnya terbaring lemah diranjang, air matanya kembali mengalir. Ia
berdiri disamping tubuh aliando, kemudian menggenggam tangan Aliando dengan
lembut.
“Al... kamu harus baik baik saja.
Maaf... karena aku. Kamu jadi celaka. Maaf Al.” Sesal Felicia, Ia menatap wajah
Polos Aliando yang masih belum sadarkan diri.
“Maaf Al.” Kata Felicia lagi, kemudian
ia memeluk tubuh Aliando setelah itu keluar dari ruang tersebut.
#Malam
Felicia berbaring di sofa panjang, ia
tertidur menunggu Aliando sadar, dan sekarang Aliando sudah sadar.
“Fel.... Felicia...” panggil Aliando,
Felicia mendengar itu hingga ia reflek bangun dan mendekatkan diri kepada
Aliando. Felicia tersenyum senang melihat kekasihnya telah sadar.
“Fel, kamu gak apa apa?”
“kamu yang harusnya gak apa apa, kamu
harus sembuh.”
“iya iya, udah jangan nangis. Cengeng
banget sih.” Ledek Aliando, tiba tiba Felicia memeluk tubuh Aliando sembari
menangis lagi. Aliando merasa senang karena Ia bis melihat kekasihnya dan
sukses membalaskan sakit hati felicia walau pun sebenarnta itu tidak ada apa
apanya dibanding rasa sakit Felicia itu.
“Aku sayang kamu Fel,” kata Aliando
membalas pelukan Felicia. Mendengar itu Felicia melepaskan pelukannya, Ia
menjauh dari Aliando, melihat sikap Felicia itu Aliando menjadi heran.
“kenapa? Kamu juga takut sama aku?
Tenang Fel, aku gak bakalan ngapain kamu, sumpah.”
“Al... aku gak layak buat kamu, kita
putus aja.”
“Astaghfirullah... Felicia... kok kamu
mikirnya gitu sih?! Aku tetap sayang sama kamu.”
“tapi Al... apa lagi yang kamu harapkan
dari gadis miskin kayak aku?! Aku udah gak berharga lagi.” kata Felicia kembali
menangis.
“Fel... sampai kapan pun bagi aku, kamu
itu berharga. Lebih berharga dari apapun yang aku punya setelah kedua orang tua
ku. Fel... kamu gadis yang selalu aku sayang bagaimana pun keadaanmu sekarang.
Lagi pula itu bukan salah kamu. Mereka aja yang bajingan!”
“Al... tapi orang tua kamu...”
“sayang, tenang aja. Gak ada yg bisa
memisahkan kita. Hanya Allah yang berkehendak saja yang bisa. Kamu tenang yah.
Aku tetap sayang kamu kok. Aku bukan cowok yang Cuma mementingkan hal itu, aku
tulus sayang sama kamu. “
“Al... kalau aku hamil bagaimana?”
mendengar itu Ali terdiam beberapa saat, Diamnya Aliando membuat Felicia
kembali takut.
“Aku tau kok Al, lupakan saja.”
“gak! Tenang aja. Aku yang akan nikahin
kamu. Ya Allah... beri jalan terbaik untuk Hubungan kami tapi jangan pisahkan
kamu Ya Allah...” mendengar doa itu, Felicia kembali menangis lalu memeluk
tubuh Aliando.
“udah, jangan nangis terus dong, bengkak
tuh matanya.” Goda Aliando
To
be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar