Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: I love you, more than you know || Aliando & Felicya

Kamis, 21 Mei 2015

I love you, more than you know || Aliando & Felicya

I love you, more than you know
Author : Ifdo Hidayah
Main cast : Aliando, Felicia
Support cast : find by yourself
Language : Indonesia
Genre : Romance

Prolog...
Aliando, pemuda tampan nan kaya raya, pemberani juga cerdas. Ia hidup seorang diri di jakarta karena kedua orang tuanya memutuskan menetap di kanada, ia bukan melarikan diri dari orang tuanya, namun ia ingin hidup mandiri, ia memutuskan menghuni rumah kontrakan dan berkerja serta sekolah ditempat yang ia kehendaki tanpa bantuan orang tuanya, meskipun begitu orang tua aliando tetap mengirimi uang bulanan kerekening anak semata wayangnya itu.
Feliciaa, gadis cantik, baik dan terbuka dengan siapapun, walau bukan dari kalangan atas, ia sangat pintar dan selalu mendapat beasiswa sekolah setiap kenaikan kelas hingga meringankan beban kedua orang tuanya untuk membiayai sekolahnya.
#SMA
“Al.... Aliiiiii...”
“Aliiiiii......”
“Aaaaallliiiii”
“Aliiiii...”
Teriak histeris dari gadis gadis saat Aliando berjalan di Lorong lorong kelas, mereka begitu mengagumi sosok pemuda tampan itu. Sesekali Aliando tersenyum tak enak sendiri sembari menahan rasa malunya karena sikap gadis gadis itu. Tiba tiba seorang gadis menarik lengannya dengan kuat dan membawanya menjauh dari kerumunan gadis gadis tadi.
Gadis itu membawa Aliando ke kantin yang kebetulan agak sepi, keduanya memutuskan untuk duduk bersama dikursi yang berhadapan. Aliando hanya senyum senyum gak jelas melihat mimik wajah sang gadis yang membawanya tadi terlihat kesal padanya.
“kamu bisa menghindar Al, bisa! Tapi kamunya aja yg ke genitan gitu sama mereka! Ish!” omel gadis itu

“maaf Fel, gue bingung aja mau menghindarnya kayak gimana, mereka banyak banget.” Aliando membela dirinya.
“ah udahlah.... jawaban kamu selalu sama! Nyebelin!” sebal Felicia, ia berdiri dari kursi yang ia duduki, segera saja Aliando ikut berdiri sembari menyergah lengan Felicia agar tidak pergi meninggalkannya di kantin. Keduanya saling tatap.
“Fel, percaya deh. Mereka bisa aja ngerjar gua, dekat dekat sama fisik gua, tapi lu harus tau Fel. Gak ada yg boleh dan gak ada yang bisa dekitin hati gue. Hati gue kan udac dipager sama cinta lu Fel. Hehe” Kata Aliando dengan sembari merayu Felicia.
“ah... gombal kamu.” Kata Felicia tersimpuh malu mendengarnya. Aliando tersenyum manis melihat sikap Felicia yang malu malu.
“gak kok, beneran deh.” Kata Aliando meyakinkan kekasihnya itu.
“ehm... terserah deh.”

Sore,
Ditempat lain, seorang gadis berjalan menelusuri sebuah gang dengan membincing tas belanjaan dari pasar. Ia bermaksud memotong jalan menuju rumahnya, tetapi di salah jalan dan disana ada beberapa pria yang sedang berjudi sembari meneguk beberapa botol minuman keras. Gadis itu terus berjalan walau ia tidak yakin bahwa jalan yang di tempuh itu jalan yang benar atau salah. Salah satu dari orang orang itu menegur sang gadis.
“neg, dari mana? Sendiri aja?” goda pria itu, gadis itu hanya diam dan terus berjalan namun tanpa di ketahui 2 orang dari mereka mengikuti gadis itu sampai menuju jalan buntuh. Gadis itu mulai panik.
“neng, mau kemana? Disini gak ada jalan neng.” Kata satu pria tadi, gadis itu tetap diam
“aduh si eneng, cantik cantik kok sombong banget sih. Mau abang tunjukin jalan gak?” tawar pria satunya lagi, namun bermaksud tidak baik terhadap gadis tersebut.
“ia Allah... lindungi hambaMu ini ya Allah...” doa sang gadis dengan paniknya
“aduh, doanya gitu banget sih, kan kita gak mengganggu. “ ucap sang pria tadi
“maaf bang, sepertinya saya salah jalan, maaf” kata sang gadis yang berbalik menghadap kedua pria tadi, ia melangkah untuk kembali kemulut gang yang tadi ia masuki, namun baru beberapa langkah kedua pria itu memegang lengannya dan memaksanya ikut, gadis itu berteriak minta tolong, namun tidak ada yg berani menolong meski ada beberapa warga yang keluar dari rumahnya. Gadis malang itu dipaksa masuk kedalam sebuah rumah kecil, gadis itu meronta ketakutan sembari menangis.
“tolooooong.... tolong, bang tolong jangan sakiti saya, tolong jangan ganggu saya bang.” Pinta sayng gadis itu meronta memeluk dirinya sendiri. kedua pria itu malah tertawa licik kemudian beberapa orang yang tadinya hendak masuk juga tetapi dicegah oleh salah satu dari mereka.
“eh, gua juga mau ikutan nih.”
“giliran donk!”
“tolooooooong.” Teriak gadis itu ketakutan.
“bang, lepasin dong gadis tadi, kasian dia bang.” Ucap seorang bapak memberanikan diri.
“alah... diam lu! Ini urusan kita!” bentak pria lainnya.
“Aliiiiiiiii..... tolooooooooong.....” teriak gadis itu memanggil kekasihnya, namun nama yang di panggil tidak juga muncul akhirnya nasib naas menimpa sang gadis. Gadis itu dinodai oleh 2 orng pria karena sempat pingsan ketakutan, setelah itu mereka pergi meninggalkan sang gadis malang dengan tubuh tanpa sehelai benang yang menempel disana. Beberapa jam kemudian sang gadis sadar, ia menangis sejadi jadinya mengingat peritiwa pahit yang ia alami tadi, ia mengusap lengan dan kakinya sembari terus menangis dan meronta meminta tolong sembari memanggil nama kekasihnya, Aliando.
“Al.... tolong Al, Aliiiii... hiks hiks...” rintih sang gadis.
# dirumah aliando
“ya ampun, kemana sih Felicia. Telpon gak di angkat. Sms gak dibalas, maunya apa sih? Ngmabek lagi tu cewek?! Ampun dah!” sebal Aliando, namun terbesit rasa khawatir. Ia mencoba menghubungi gdisnya itu beberapa kali namun tetap saja hasilnya sama, tidak ada jawaban atau kabar apapun dari gadis itu.
Keseokan harinya, Aliando berdiri didepan pintu kelas bermaksud menyambut sang kekasih hati, namun setelah bel berbunyi orang yang ditunggu tidak datang juga. Aliando semakin khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.
“ya ampun.... mana sih Felicia. Kok gak sekolah sih?!”
#di kamar kost Felcia.
Gadis itu menangis tersedu sedu meratapi nasib malangnya, ia terus saja menggosok gosok seluruh tubuhnya dengan sabun mandi, lalu beberapa kali keluar masuk kamar mandi. Ia benar benar jijik kepada dirinya sendiri.
“ia Allah.... sekarang aku harsu bagaimana?! Aku takut ya Allah... hiks.. hiks...” rapatnya. Ia benar benar bingung dan menderita saat ini.
Pukul 2 siang, Aliando mendatangi Kost Felicia
“Riska. Felicianya ada di kamar?” tanya Aliando kepada teman kost Felicia
“ada, tapi dia nangis terus. Ditanya gak di jawab, nangis terus. Kami aja gak boleh masuk. Kamarnya dikunci lagi.” jawab Riska panjang lebar
“lah? Felicia sakit? Udah bilang ibu kost?!” tanya Aliando
“belum, Ibu kostnya prgi ke Surabaya, lusa baru pulang.”
“och, ya udac, makasih yah.” Kata Aliando, ia melangkah menuju kamar Felicia, tepat didepan pintu kamar kekasihnya itu, Aliando segera mengetuk Pintu tersebut sembari memanggil nama Felicia.
“Fel... sayang... kamu kenapa? Kok gak sekolah? Sayang... hei... kamu didalam kan?” tanya Aliando dengan lembut namun tidak diberi jawaban
“Feli sayang... udah dong ngambeknya, aku kangen nih sama kamu. Please... buka pintunya yah.” Bujuk Aliando.
“Felicia... kamu sakit huh? Ini aku Aliando, aku gak tau kamu kenapa, cerita dong kalau ada masalah. Sayangku... Felicia...” bujuk Aliando lagi.
*Cekleek!* pintu terbuka, Aliando tersenyum sembari membuka pintu lebar lebar, ia kaget melihat kondisi kekasihnya yang urakan.
“Astaghfirullah... Felicia... kamu kenapa?!” tanya Aliando sedikit panik, yang ditanya hanya menangis merintih, terduduk sembari memeluk tubuhnya sendiri. Aliando mendekatinya, mensejajarkan posisi mereka.
“Fel... kenapa berantakan begini? Kamu kenapa?” tanya Aliando cemas.
“hei... sayangg, kamu kenapa sih, jawab dong, aku bingung nih.” Bujuk Aliando lagi, dengan tiba tiba Felicia memeluk tubuh Aliando dengan erat. Aliando mengelus puncak kepala Felicia dengan lembut dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memeluk tubuh Felicia yang bergetar karena tangisan gadis itu.
“sayang, kamu kenapa sih? Beneran deh aku bingung trus panik nih. Cerita dong kenapa?” tanya Aliando lagi.
“Al... aku...”
“hmm, iya kenapa?”
“aku takut Al, aku takut diganggu sama preman preman itu lagi.” jawab Felicia membuat Aliando semakin bingung.
“maksud kamu apa?”
“aku takut... aku gak sanggup cerita dan inget peristiwa kemarin Al, aku benci kalau peristiwa itu terus berputar di kepalaku hiks hiks!” kata Felicia, Aliando melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu Felicia dan menatap wajah Felicia yang tertunduk sembari terus menangis.
“Fel... badan kamu kok licin?”
“Al... aku... aku “
“Fel, aku gak ngerti.”
“mereka mengganggu aku sewaktu aku hendak pulang ke kost, mereka membawaku ke rumah kecil dan disana aku meminta tolong namun tak ada yg mau menolong aku Al, dan ketika aku sadar, sudah tidak ada sehelai benang pun yang ada. Hiks... hiks...” kata Felicia yang terus saja menangis, mendengar itu Aliando kaget lalu memeluk Felicia lagi, ia terus mengelus kepala Felicia. Mencoba meenangkan kekasihnya.
“Sayang... kamu ingat siapa mereka?!”
“please,... jangan tanya itu, aku takut. Aku benci mereka.”
“Gue lebih benci sama mereka yang udah buat kamu sakit kayak gini! Mereka harus di kasi pelajaran.” Kata Aliando sedikit emosi. Ia Berdiri sembari menarik tubuh Felicia dan membawa Felicia keluar dari kamarnya.
“Al... kamu mau bawa aku kemana?” tanya Felicia bingung.
“Tunjukin aku dimana tempat itu! Aku gak terima mereka sakitin kamu! Bajingan!” kesal Aliando yang terus menarik Felicia untuk naik keatas motor dan menunjukan tempat kejaidain kemarin.
“tapi Al... mereka jumlahnya banyak. Aku gak mau kamu disakiti mereka Al. Please... berhenti!” pinta Felicia. Namun Aliando tidak menghiraukan Felicia, ia tetap melaukan motorrnya.
“Al... berhenti. Aku mau pulang...!” pinta Felicia berteriak.
“Fel, aku gak bisa diam aja, kamu tunjukin dimana tempat itu, please...” pinta Aliando
“Fel. Aku sayang kamu, jadi jangan melindungi mereka.”
“aku gak melindungi mereka, aku gak mau kamu kenapa napa Al.”
“klau gitu tunjukin dimana tempatnya.”
“ok ok, setelah itu kita langsung pergi.”
“kita lihat aja nanti.”
Sampai didepan sebuah gang, Aliando memberhentikan Motornya, ia menatap beberapa orang yang sedang berjudi dari kejauhan. Aliando turun dari motornya namun sebelum masuk Felicia mencegahnya.
“jangan, disana berbahaya Al, please.... dengerin aku Al.” Pinta Felicia
“Fel, mereka bajingan itu kan?! Mereka harus di kasi pelajaran berharga!!” geram Aliando sembari mengepalkan kedua tangannya.
Pemuda ini berjalan masuk kedalam gang kecil itu meski telah di cegah oleh kekasihnya, sampai di hadapan mereka yang tengah asik berjudi, Aliando menatap mereka satu persatu dengan penuh emosi dan sinis. Sementara Felicia berdiri dibelakang Aliando.
“wah... si eneng balik lagi.” tegur seorang pria
“iya, mau lagi yah?!” goda pria yg satunya lagi. mendengar itu Aliando melayangkan tendangan kerasnya sehingga mengenai kepala pria botak itu.
“wah, berengsek lu!” maki teman si botak
“lu semua brengsek!” balas Aliando geram, ia telah memasang kuda kuda tanda siap bertarung demi harga diri kekasih hatinya yang direbut paksa oleh orang orang tak bertanggung jawab itu.
“eh, lu anak kecil. Maju lu!” tantang pria gendut berkulit hitam yg tengah duduk. Aliando melompat tinggi dan mengarahkan kakinya keatas kepala pria itu, hingga mereka jatuh bersamaan. Kemudian pertarungan sengit itu terjadi. Felicia hanya bisa menangis memanggil nama Aliando yang tengah melawan 5 orang Pria bengis.
“Ya Allah... lindungi Aliando ya Allah...”
45 menit kemudian, Aliando tampak tidak berdaya karena dikeroyok oleh kawanan preman itu, namun untungnya salah satu warga berani menghubungi polisi dan polisi datang sebelum Aliando tewas ditangan mereka. Polisi membawa mereka, sementara Felicia memeluk tubuh pria yang ia cintai yang tergeletak lemah.
“Al... bangun Al. Bangun.... Ya Allah... lindungi Aliando, Al.. bangun Al.” Tangis Felicia histeris sembari memeluk tubuh Aliando. Tak lama kemudian Ambulance datang dan membawa Aliando kerumah sakit ditemani kekasihnya yang tak henti menangis sembari menggenggam tangan Aliando yang berlumuran darah.
#Rumah sakit, Tepatnya di depan UGD. Sementara Felicia menuggu dengan resah sembari terus berdoa dalam tangisnya.
“Al... kamu harus kuat, kamu harus baik baik saja. Aku tak punya siapa siapa lagi di kota ini. Al.. aku sayang kamu. Ya Allah... sembuhkan Aliando, aku mohon Engkau memberi kesempatan Hidup kepada Aliando, kekasihku ya Allah...”
# 2 jam Kemudian,
“dok, Aliando dok, dia baik baik saja kan?!” tanya Felicia cemas
“dia sudah melewati masa kritisnya, namun sekarang ia butuh istirahat.”
“Alhamdulillah... terima kasih ya Allah... boleh saya lihat?!”
“boleh, silahkan.”
Felicia masuk keruangan tersebut, ia melihat kekasihnya terbaring lemah diranjang, air matanya kembali mengalir. Ia berdiri disamping tubuh aliando, kemudian menggenggam tangan Aliando dengan lembut.
“Al... kamu harus baik baik saja. Maaf... karena aku. Kamu jadi celaka. Maaf Al.” Sesal Felicia, Ia menatap wajah Polos Aliando yang masih belum sadarkan diri.
“Maaf Al.” Kata Felicia lagi, kemudian ia memeluk tubuh Aliando setelah itu keluar dari ruang tersebut.
#Malam
Felicia berbaring di sofa panjang, ia tertidur menunggu Aliando sadar, dan sekarang Aliando sudah sadar.
“Fel.... Felicia...” panggil Aliando, Felicia mendengar itu hingga ia reflek bangun dan mendekatkan diri kepada Aliando. Felicia tersenyum senang melihat kekasihnya telah sadar.
“Fel, kamu gak apa apa?”
“kamu yang harusnya gak apa apa, kamu harus sembuh.”
“iya iya, udah jangan nangis. Cengeng banget sih.” Ledek Aliando, tiba tiba Felicia memeluk tubuh Aliando sembari menangis lagi. Aliando merasa senang karena Ia bis melihat kekasihnya dan sukses membalaskan sakit hati felicia walau pun sebenarnta itu tidak ada apa apanya dibanding rasa sakit Felicia itu.
“Aku sayang kamu Fel,” kata Aliando membalas pelukan Felicia. Mendengar itu Felicia melepaskan pelukannya, Ia menjauh dari Aliando, melihat sikap Felicia itu Aliando menjadi heran.
“kenapa? Kamu juga takut sama aku? Tenang Fel, aku gak bakalan ngapain kamu, sumpah.”
“Al... aku gak layak buat kamu, kita putus aja.”
“Astaghfirullah... Felicia... kok kamu mikirnya gitu sih?! Aku tetap sayang sama kamu.”
“tapi Al... apa lagi yang kamu harapkan dari gadis miskin kayak aku?! Aku udah gak berharga lagi.” kata Felicia kembali menangis.
“Fel... sampai kapan pun bagi aku, kamu itu berharga. Lebih berharga dari apapun yang aku punya setelah kedua orang tua ku. Fel... kamu gadis yang selalu aku sayang bagaimana pun keadaanmu sekarang. Lagi pula itu bukan salah kamu. Mereka aja yang bajingan!”
“Al... tapi orang tua kamu...”
“sayang, tenang aja. Gak ada yg bisa memisahkan kita. Hanya Allah yang berkehendak saja yang bisa. Kamu tenang yah. Aku tetap sayang kamu kok. Aku bukan cowok yang Cuma mementingkan hal itu, aku tulus sayang sama kamu. “
“Al... kalau aku hamil bagaimana?” mendengar itu Ali terdiam beberapa saat, Diamnya Aliando membuat Felicia kembali takut.
“Aku tau kok Al, lupakan saja.”
“gak! Tenang aja. Aku yang akan nikahin kamu. Ya Allah... beri jalan terbaik untuk Hubungan kami tapi jangan pisahkan kamu Ya Allah...” mendengar doa itu, Felicia kembali menangis lalu memeluk tubuh Aliando.
“udah, jangan nangis terus dong, bengkak tuh matanya.” Goda Aliando

To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake