I
love you, more than you know ( Part 2)
Author : Ifdo Hidayah
Main cast : Aliando, Felicia
Support cast : find by yourself
Language : Indonesia
Genre : Romance
*Felicia
POV
Aku menangis dalam pelukan pria tampan
ini, aku merasa senang dan bahagia karena telah mengenalnya, menjadi kekasihnya
hingga saat ini. Terima kasih ya Allah... Engkau selalu baik denganku walau
cobaan yang aku jalani ini begitu berat, namun Engkau mempertemukan aku dengan
pria tampan yang baik hati ini, Engkau telah mengirimkan malaikat tampan yang
aku sayangi, Alhamdulillah. Gumamku dalam hati.
“jangan menangis lagi Fel, sampai
kapanpun, insya Allah.... kita akan selalu bersama dan aku akan selalu mencintaimu,
aamiin.” Kata Aliando dengan manisnya, aku mendongak mengangkat wajahku yang
masih bercucuran air mata, ia tersenyum kemudian menghapus air mataku.
“Al, jika suatu saat nanti kau pergi
meninggalkan aku. Aku akan ikhlas karena aku memang tak pantas untukmu. Aku
akan memaklumi itu, kau tak perlu merasa bersalah padaku.” Kataku membuatnya
menatapku lirih detik kemudian dia kembali memelukku.
“tidak Fel, aku akan selalu bersamamu.
Kau jangan bicara seperti itu. Aku tak mungkin berpikir seperti itu dan aku tak
ingin setega itu padamu, Bidadariku.” Jawab Aliando meyakiknkanku.
“Alhamdulillah, terima kasih Al.”
Jawabku sembari tersenyum padanya, ia mengangguk kecil sembari terus
mengembangkan senyum di wajah tampannya itu.
“kamu belum makan kan?! Ayo kita makan.
Aku lapar nih.” Ajaknya sembari merengek seperti anak kecil, dan dia memang
suka merengek seperti ini saat bersamaku dan membuat aku semakin menyayanginya.
*Author
POV
2 bulan kemudian, Felicia bangun dari
tidurnya dan ia merasa perutnya sangat mual. Ia segera ke kamar mandi.
Kepalanya terasa sangat pusing hingga ia pingsan.
“Fel, aku pinjam sandalmu sebentar yah.” Pekik Ririn dari luar kamar Felicia namun pemilik kamar itu tidak menjawab.
“Fel.... kau masih tidur yah?” tanya
Ririn lagi sembari nyelonong masuk kekamar yang pintunya tidak dikunci. Ia
kaget melihat temannya tergeletak begitu saja dilantai.
“Fel... Fel kamu kenapa? Bangun Fel.”
Ririn panik dan segera memanggil Riska. Beberapa menit kemudian Riska datang
dan mereka membopong Felicia ke tempat tidurnya.
“Felicia kenapa Rin?” tanya Riska cemas
“aku tidak tahu, yang aku lihat dia
sudah tergeletak disana. Mungkin dia sakit, wajahnya agak pucat.” Jawab Ririn
tak kalah cemasnya dengan Riska
“ telpon Aliando, dia harus tahu keadan
Felicia.” Seru Riska. Ririn segera menelpon Aliando, dan yang di telpon datang
setelah 5 menit dihubungi tadi oleh Riska. Saat ini Aliando tengah duduk di
samping Felicia yang sudah sadar namun masih terbaring lemah, Aliando memegang
tangan kekasihnya itu.
“Fel, kau kenapa? Kau sakit apa?” tanya
Aliando dengan mmik wajah cemasnya, mendengar itu Felicia tersenyum kecil
“aku hanya sedikit pusing dan perutku
terasa mual. Aku tidak tahu kenapa.” Jawab Felicia
“bersabarlah, aku sudah menelpon dokter,
kau pasti baik baik saja.” Kata Aliando menghibur Felicia.
“Baiklah, karena sudah ada pangeran
tampanmu, aku harus segera pergi bekerja Fel, semoga kau baik baik saja.” Pamit
Riska yang hendak pergi kerja.
“terma kasih Riska.”
“iya, kembali kasih.” Riska pun pergi,
kini giliran Ririn yang pamit pergi ke pasar. Hingga hanya tersisa mereka
berdua diruangan itu. Namun tak lama kemudin Seorang dokter datang, ia
memeriksa keadaan Felicia. 5 menit kemudian setelah selesai memeriksa Felicia
dokter itu tersenyum.
“kenapa dok? Ada apa dengan Felicia?”
tanya Aliando tak sabar
“Felicia baik baik saja, itu gejala awal
orang yang mengandung. Selamat yah.” Jawab dokter membuat Felicia dan Aliando
tersentak kaget.
“Selamat yah, jaga dia baik baik. Jaga
kesehatanmu Fel, karena sekarang kau memiliki tanggung jawab terhadap janin dan
dirimu sendiri.” nasehat dokter pada Felicia, Felicia mengangguk kecil,Aliando
mengantar Dokter kedepan sekaligus membayar biaya tadi kemudian kembali
menghampiri Felicia yang duduk bersandar ditempat tidur. Felicia menangis
tersedu sedu, Aliando duduk disampingnya untuk menenangkan kekasihnya itu.
“Al, aku harus bagaimana? Aku takut Al,
aku bingung... hiks... hiks...”
“sabar Fel, sabar. Sudah jangan menangis
ada aku disini.” Hibur Aliando sembari memeluk Felicia yang terus menangis.
“Al, kau tidak mengerti posisiku saat
ini. “
Ya, aku memang tidak mengerti, aku tahu
itu Fel. Aku akan jadi ayahnya. Kita akan menikah.”
“apa?! Tidak! Jangan korbankan masa
depanmu hanya untuk kebodohan ini. Jangan menyengsarakan dirimu Al, aku tak
ingin membuatmu mnderita.”
“Fel, aku akan lebih menderita jika aku
jauh darimu, dan membiarkanmu menanggung semuanya sendiri! aku mencintamu Fel,
aku sudah cukup umur untuk menikah, aku sudah 18 tahun, aku sudah punya KTP
kok. “ kata Aliando dengan mantap mendengar itu Felicia semakin tersedu sedu
“Fel, please... sudah banyak kau
menangis, jangan menangis lagi. aku jadi bingung Fel.”
“Al, menikah bukan hanya kau mencintaku,
kau harus pikirkan kedua orang tuamu,” Felicia melepaskan pelukannya dan menatap
Aliando dngan tajam.
“Fel, tolong jangan keras begini, aku
bisa atur semuanya. Menikahlah denganku Fel. Besok kita pergi kekampung mu dan
bertemu orang tuamu, aku kan melamarmu.” Kata aliando dengan serius.
“Al, aku tak tahu harus berkata apa, aku
membuatmu ikut dalam deritaku, maaf Al, maafkan Aku.” Kata Felicia memeluk
Aliando dengan erat
“i love you more than tou know,Fel. I’m
so loving you.”
#dirumah orang Tua Felicia
“kedatangan kami kemari, bermaksud untuk
.... ehm sebelumnya saya perkenalkan diri dulu, maaf pak bu, saya Muhammad Aliando Syarief, saya
kekasih Felicia anak ibu dan bapak.”
“ya nak, lalu apa maksud tujuanmu
kemari” tanya Ibu Felicia
“saya ingin melamar anak ibu dan bapak,
saya sangat mencintainya.” Kata Aliando mantap, ayah Felicia mengangkat sebelah
alisnya tanda tak yakin dengan niat Aliando pada putrinya itu.
“benarkah? Tapi kalian masih muda nak,
kalian masih harus sekolah dan Felicia juga harus sekolah. 2 bulan lagi kalian
ujian sekolahkan?!” kata Ayahknya
“maksud saya, saya akan menikahi putri
Bapak setelah Lulus Sekolah, saya yakin pak, saya sudah bekerja. Tolong izinkan
saya menikahi anak bapak..” pinta Aliando dengan sungguh sungguh, Felicia
tersenyum lirih melihat keseriusan Aliando terhadap dirinya.
“bu, aku hamil 2 Bulan.” Kata Felicia
membuat ayah dan ibunya tersentak kaget.
“apa?! Hamil?!” tanya ayah Felicia yang
terlihat marah.
“iya ayah, maka dari itu Aliando ingin
menikahiku.” Kata Felicia dengan jujurnya.
“Felicia! Ayah membiarkanmu pergi kekota
untuk sekolah! Bukan malah seperti ini! Memalukan sekali!” bentak Ayahnya,
aliando kaget dan sedikit takut begitu pula dengan Felicia.
“maafkan aku ayah,maaf bu. Aku yag
salah.”
“kau pria brengsek!” merah ayah Felicia
kepada Aliando, ayah Felicia menarik kerah baju Aliando dan mendarapkan sebuah
pukulan hingga Aliando tersungkur ke lantai dengan bercak darah di sudut
bibirnya, Felicia hanya bisa menangis.
“Ayah, ini bukan salah aliando, dia
hanya ingin menolongku ayah.” Teriak Felicia yang melihat Aliando diseret
keluar dari rumahnya
“kau pergi dari rumahku!” usir ayah
Felicia kepada Aliando
“kau juga!” ayah felicia juga mengusir
putri semata wayangnya itu
“Ayah... maafkan aku,” kata felicia
sembari berlutut di kaki ayahnya. Ibu felicia hanya bisa menangis melihat
suaminya berlaku seperti itu terhadap putrinya.
“pergi dan jangan pernah kembali lagi!
kau mempermalukan keluargamu dengan kelakuanmu seperti ini Felicia!kau bukan
anak ayah dan ibu lagi! pergi lah!” usir ayah felicia dengan penuh amarah.
Mereka pun kembali ke kota tapi tidak
langsung ke kost Felicia mereka menenangkan diri terlebih dahulu di sebuah
taman yang terletak di pusat Kota. Felicia kembali menangis dengan tangan yang
masih di genggam erat oleh kekasihnya, Aliando.
“Al,pergilah sebelum kau lebih menderita
dari ini, pergilah karena aku tak mau kau ikut menderita.”
“Fel! Ada apa denganmu?! Kenapa kau
selalu memintaku pergi! Apa kau tak mencintaiku?!” bentak Aliando kesal dengan
sikap kekasihnya itu.
“Bukan seperti itu Al, aku hanya ingin
kau selalu bahagia, aku tak ingin kau ikut dalam deritaku. Maaf Al.”
“Fel, please... jangan pernah memintaku
pergi lagi, aku tak sanggup melakukannya.” Lagi lagi Felicia mendengar
kesungguhan Aliando yang membuatnya bingung dan merasa bersalah, ia terdiam
sejenak lalu berkata...
“Ya Allah... terima kasih telah
mengirimkan manusia berhati tampan seperti wajahnya.” Kata Felicia sembari
memegang wajah Aliando, mendengar itu Aliando tersenyum senang
“Ya Allah...
terima kasih telah menghadirkan bidadari dunia dengan ketegaran yang tak aku
miliki. Aku mencintainya, jangan pisahkan kami. Aamiin ya Robbal’alaamiin.”
Sahut Aliando dengan senyum mengembang ikuti Felicia sembari menghapus air
matanya.
# di sekolah
Aliando dan Felicia tengah menikmati
makan siang di sebuah kantin, mereka tampak bahagia seperti semua beban yang
mereka hadapi tidak dirasakan lagi oleh keduanya.
“Fel, aku ada sebuah berita bagus untuk
kita, kamu pasti senang mendengarnya.”
“o yah? Apa itu?”
“aku sudah menemukan sebuah rumah kecil
yang cantik, lokasinya terletak di dekat sebuah danau dan ada pemandangan indah
disana, kamu pasti suka.”
“wah.. benarkah?! Aku ingin melihatnya
Al, bawa aku kesana.” Pinta Felicia kegirangan.
“iya, pulang sekolah kita kesana kan
kebetulan besok hari minggu, jadi bia kita nikmati liburan satu hari disana.”
“tapi Al... apa kamu serius melakukan
ini semua?!”
“Fel, aku dua rius malah, percayalah
Fel. Aku sudah mulai menabung dari mulai kita pacaran loh,”
“wah, hebat! “
“ya walau sebenarnya uang itu hendak aku
gunakan untuk biaya kuliahku, tapi kamu lebih penting jadi gak masalah. Kan
kita masih bisa kuliah setelah kita menikah.” Kata Aliando sembari nyengir
lucu. Felicia tersenyum lirih melihat itu.
“maaf Al,”
“sudah jangan minta maaf terus, gak ada
salah kok minta maaf terus sih. Haha”
“iya Al.”
“bernjanjilah untuk tidak menangis lagi,
mana Felicia yang galak dan selalu ceria?! Kayaknya kamu amnesia nih.” Ledek
Aliando, Felicia tersenyum sebal mendengarnya
“waaaah... pasangan serasi!” seru
seseorang mengagetkan mereka berdua, keduanya meliahat kesumber suara secara
bersamaan.
“Jian... “ sapa Felicia dengan ramah.
Sementara yang disapa menatapnya dengan sinis. Gadis bernama Jian itu
mengalihkan pandangannya pada Pemuda tampan yang ada disebelah Feliciasembari
tersenyum manis.
“Al, apa kabar?”
“Alhamdulillah baik, kamu?”
“baik juga. Tapi AL yang aku lihat kau
seperti kurang bahagia.”
“maksudmu?”
“ya maksud aku, di luar aja kamu bisa
tersenyum tapi jauh dilubuk hati kamu, kamu tuh menyimpan beban yang seharusnya
gak perlu kamu tanggung.”
“apa sih?! Aku gak ngerti deh. Aku baik
baik aja kok.”
“haha... Al Al... gak usah sok gak
ngerti gitu deh maksud si Jian.” Sambung seorang pria yang tadi datang bersama
Jian
“apa sih Ron?! Beneran deh gua gak
ngerti.”
“Al, kenapa sih lu mengambil langkah
bodoh, lu masih mempertahankan gadis seperti Felicia. Udah gak layak kali...
udah dia miskin, sekarang hamil pula! Bekas orang tuh!” Felicia tersentak kaget
mendengarnya tapi ia hanya bisa diam karena apa yang dikatakan oleh Jian
terhadap dirinya adalah benar.
“apa maksud lu ngomong kayak gitu sama
gua?!” tanya Aliando dengan sebalnya
“Al, lu lihat dong, sadar Al! Lu tuh
tampan, lu kaya dan lu. Lu tuh populer di sekolah ini, banyak gadis yang suka
sama lu. Termasuk gua. Dan gua rasa gua yang lebih pantas sama lu. Secara gua
tuh bisa dibilang sederajat sama lu, gua kaya dan gua lebih cantik dari
Felicia.” Kata Jian panjang lebar, namun Aliando tak menghiraukannya, pemuda
itu berdiri sembari memegang tangan Felicia, bermaksud untuk pergi dari kantin
itu.
“benarkan Al?!” lanjut Jian, membuat
Aliando tak jadi melangkah dan segera menghadap Jian kemudian tersenyum kecil
“benar, lu benar banget.”
“tuh kan... ya udah putusin aja si
Felicia, dia udah kayak sampah aja. Gak perlu di peduliian kali.”
“haha... Jian... aku pengen nanya nih,
tadi kamu bilang bahwa kamu lebih pantas karena kamu anak orang kaya kan?!”
“iya dong, itu pasti”
“ehm... jadi pertanyaannya adalah apa
pekerjaan orang tua kamu?!” tanya Aliando dengan bahasa tubuh yang halus
“ayahku seorang manager di sebuah
perusahaan asing di Kota ini, dan ibuku adalah seorang Dosen di sebuah fakultas
ternama di Surabaya.” Jawab Jian dengan bangganya, Felicia hanya bisa menunduk
“wah... berarti lu kaya banget yah.”
Puji Aliando dengan nada menyindir
“sama dong sama lu, lu juga kaya Al.”
Timpal Jian
“salah, gua bukan orang kaya. Gua
miskin, gua tinggal sendiri di indonesia, gua kerja pagi sebagai pengantar
koran, pulang sekolah gua Cuma pelayan resto sekaligus penyanyi Kafe. Gua gak
sederajat sama lu.”
“Al, tapi nyokap sama bokap lu tuc orang
kaya.”
“gua bukan cowok yang ngandelin harta
kedua ortu gua Jian, Gua mandiri, gua udah 18 tahun.”
“Al, kok gitu sih?! “
“jangan nyombongin diri lu kalau lu
masih merengek minta jajan sama ortu lu.” Kata Aliando sembari melangkah
menjauh dari mereka namun baru beberapa langkah ia berhenti lagi,
“apa sih istimewanya cewek bekas huh?!!
Dia itu udah jadi barang rongsokan Al, sadar dong!” pekik Jian tak terima
dengan sikap Aliando tadi
“haha, lu mau tau istmewanya Felicia?!
Dia itu hidup gua, dia itu harta gua dan dia itu segalanya.” Jawab Aliando
dengan mantap, Felicia menatap Aliando dengan haru.
“cih! Norak lu Al, kalau gua jadi lu,
gua lebih milih Jian dari pada gadis murahan itu!” saru Roni membuat Aliando
geram namun ia masih menahan emosinya yang dari tadi di pancing oleh mereka
berdua.
“dan sayangnya gua bukan lu dan perlu lu
tau. Felicia itu Harga diri gua!” jawab Aliando dengan sangat tegas
“heh?!!!
Tapi sekarang harga diri lu udah rusak tuh!” kata Roni lagi
“males gua ngeladenin lu berdua. Kagak
ada Faedahnya! Dosa iya dapat! Huuuu” balas Aliando, ia melangkah pergi bersama
Felicia. Jian dan Roni terdiam tak bisa berkata apa apa lagi, karena semua yang
mereka omongkan tadi tidak juga mengubah sikap Aliando yang diharapkan akan
memutuskan hubungannya dengan Felica.
# di belakang degung sekolah, Aliando
dan Felicia duduk bersama di sebuah kursi panjang
“Fel, jangan dengerin ucapan mereka tadi
yah.” Bujuk Aliando
“tidak Al, mereka benar kok. Aku tahu
itu.”
“Fel, maksudku ...”
“Al, itu semua fakta, kita tidak bisa
menghindarinya.”
“Fel...”
“Al, tenang lah, aku sudah bertekad akan
selalu bersamamu apapun kondisinya, seperti kau tetap bersamaku saat ini. Apa
yang mereka katakan tadi memang benar, itu semua fakta tapi aku tidak akan
mengubah rencana kita. Kita akan tetap menikah.” Kata Felicia sembari tersneyum
manis menyembunyikan perasaan sakitnya
“Fel, terima kasih kau telah prcaya
padaku. Kamu mau Ice Cream?!” tanya Aliando
“Mau, kebetulan aku juga pengen banget
nih.” Jawab Felicia
“ok, yuk kita beli sebelum bel masuk
bunyi.” Seru Aliando menggandeng tangan Felicia pergi bersama menuju gerbang
sekolah yang terbuka lebar.
# 2 bulan kemudian, mereka sudah selesai
mengikuti ujian sekolah kemudian Aliando memutuskan segera menghubungi ayah dan
ibunya untuk segera menikahkan dia dengan Felicia. Mengetahui Aliando
menghubungi ibu dan ayahnya yang sedang berada di kanada, hati felicia gelisah
tak karuan, ia takut ayah dan ibu dari kekasihnya itu tidak menerima keadaan
dirinya yang tengah hamil oleh orang lain.
“Al, kau yakin dengan yang kau lakukan
sekarang ini? Bagaimana kalau mereka tak menyukaiku dan pasti mereka tidak
merestui hbungan kita terlebih lagi aku hamil akibat...” Aliando tersenyum lalu
menyentuh pipi Felicia dengan lembut sembari berkata...
“sayang, ayah dan ibuku sudah tahu, jadi
kau tidak perlu takut.”
“apa mereka juga tahu aku hamil?”
“iya, dan tenanglah. Aku pastikan mereka
juga menyayangimu. Aku sudah lama cerita tentang dirimu pada mereka,bahkan
mereka tahu aku sangat mencintaimu. Mereka akan bahagia jika aku ini bahagia.”
Jelas Aliando dengan perasaan yang begitu yakin, Felicia hanya tersenyum kecil
mencoba mempercayai apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
#di bandara Soekarno-Hatta
Aliando dan Felicia berdiri di depan
pintu keluar menunggu kedatangan ayah dan ibunya. Tidak dipungkiri perasaan
Felicia saat ini benar benar gelisah, ia gugup bagaimana harus bersikap didepan
calon ibu dan ayah mertuanya belum lagi bagaimana ia harus menjelaskan semua
keadaannya sekarang. Aliando yang melihat kegelisahan dari mimik wajah dan
tingkah Felicia, ia tersenyum lalu kembali menggenggam erat tangan Felicia
mencoba menenangkan kekasihnya tersebut.
“ Fel...”
“hmm...” sahut Felicia yang langsung
memandang wajah Aliando dengan bingung
“Ayah dan ibuku sangat mencintai aku,
sangat menyayangi aku.”
“ya, aku tahu itu.”
“dan aku sangat mencintaimu, kau tak
perlu takut. Ada aku disini, aku selalu didekatmu Fel.” Hibur Aliando, Felicia
tersenyum senang.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar