Misteri Ruang 12 [ Part 3 ]
Author : ifdo
Main cast :
Khifdotul Hidayah : Ifdo
Santo Surya : Santo
Siti Romlah: Siti
Futri Utami : Futri
Ridwan Fajar: Ridwan
Hendra Syahputra: Hendra
Eva wati : Eva
Auliya Fidiyanti: Auliya
M. Dani: Dani
Dhika Ramadhan : Dhika
Genre : Horror, Friendship and Romance
“bisa jadi gitu sih. Atau
besok kita tanyain aja sama satpam kampus. Mungkin di kampus kita pernah
terjadi sesuatu khususnya di ruang 12 itu.” Usul Santo yang percaya dengan
cerita Ridwan dan Ifdo.
“ok, aku setuju.” Sahut
ketiga temannya
“terus, gimana nyembuhin
Futri? Kan kasihan dia, teriak teriak gak jelas kayak tadi .” kata Siti sembari memperhatikan Wajah Futri yang tengah
terlelap tidur.
“untuk saat ini, kalian
jangan pernah ninggalin dia sendiri, karena kita juga enggak tahu gimana
caranya nyembuhin Futrii.” Ujar Ridwan, mendapat anggukan setuju dari Santo.
“ok, kalau gitu kita pulang
dulu yah. Kalian jagain terus Futri dan hati hati Ifdo.” Kata Santo, Ifdo
tersenyum kecil, Siti menyenggol bahu Ifdo
untuk menggodanya.
“jiiiiaaah Cuma Ifdo aja
tuc?” goda Siti , Santo dan Ifdo jadi salah tingkah, melihat itu Siti tertawa geli sementara Ridwan terus
memperhatikan wajah polos Futri yang tengah terlelap. Kemudian mereka berdua
beranjak pergi meninggalkan rumah kontrakan ketiga gadis itu.
“Do, aku ambil selimut dulu
yah.”seru Siti keluar dari kamar Futri, Ifdo
memandangi setiap sudut kamar Futri tidak ada yang aneh, ya mungkin karena ini
bukan kampus mereka yang selalu membuat Ifdo merasakan hal hal yang ganjil.
“enghhh…” Futri menggerakan
badannya tanpa sadar masih dengan mata tertutup membuat Ifdo menoleh padanya,
“aaaaaaaaakkhh! Pergi!!!
Jangan kemari!! Jangan ganggu sahabat sahabatku!!! Pergi!!!” Futri menjerit
ketakutan, Ifdo memeluknya untuk menenangkan sahabatnya itu yang kemungkinan
hanya mengigau karena mimpi buruk, mendengar jeritan Futri, Siti bergegas ke kamar Futri dan menjatuhkan
Selimut yang ada dipelukannya tadi, ia segera duduk di samping kanan Futri yang
tengah dipeluk oleh Ifdo.
“Futri… hei. Tidak apa apa,
kau hanya mengigau.” Kata Ifdo sembari mengelus punggung Futri agar ia diam
kembali, Siti merasa iba dengan keadaan
sahabatnya itu.
“dia kenapa lagi?” Tanya Siti
cemas, Ifdo membaringkan tubuh
sahabatnya itu, kemudian ia tersenyum kearah Siti .
“dia mengigau. Ya sudah. Kita tidur yuk, aku udah ngantuk nih.” Ajak Ifdo sembari menarik selimut yang ada dilantai tadi, Siti pun ikut berbaring di samping Futri yang saat ini sudah terlihat tenang.
#keesokan harinya, ketika
mereka hendak bersiap siap pergi ke kampus, lagi lagi Futri termenung, ia
terlihat pucat dan sakit. Siti menghampiri Futri kemudian duduk disampingnya.
“kau kenapa?” Tanya Siti cemas.
“aku… tidak apa apa kok.”
Jawab Futri sembari tersenyum kecil, Siti tersenyum lalu meraih tangan Futri namun ia
merasa tubuh Futri sangat panas.
“Ifdo… Futri sakit.” Pekik Siti
membuat Ifdo berlari sembari memegangi
sepatu yang hendak ia pakai tadi.
“kamu enggak usah ke kampus
aja” kata Siti khawatir dengan keadaan
Futri, Futri menggeleng.
“tidak, aku ingin ke kampus.
Aku tidak mau di rumah sendirian.” Pinta Futri sedikit memohon.
“baiklah… tapi kamu minum
obat penurun panas dulu, kalau pusing bilang aja. Nanti kami izinkan pulang. “
ujar Ifdo yang kemudian memakai kedua sepatunya. Mereka berangkat ke kampus,
sesuai janji mereka dengan Ridwan dan Santo untuk menanyai seorang satpam
tentang kampus mereka, ketiga gadis itu berdiri menunggu kedua teman prianya, Futri
yang tidak tahu apa apa jadi ikut ikutan menunggu.
“sebenarnya kita nunggu
siapa?” Tanya Futri
“kita nunggu Ridwan sama Santo.”
Jawab Siti
“mau ngapain? Kalian mau
janjian bolos?” Tanya Futri membuat kedua sahabatnya menatapnya.
“ngapain ke kampus kalau mau
bolos Futri. Ada ada aja deh.” Jawab Siti , Futri menautkan Alisnya yang masih
bingung dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
“lalu… mau ngapain?” tanya Futri
lagi
“kita ada proyek besar.
Entar juga kamu tahu.”sahut Siti memebuat Futri mendengus kesal mendengar
jawaban itu.
“Hai…” seru dua orang dari
kejauhan, mereka bertiga menoleh kearah sumber suara secara bersamaan, Dua pria
itu berlari kecil mendekati tiga gadis yang menunggunya dari tadi. Ridwan
tersenyum kepada Futri, ia senang Futri baik baik saja walau terlihat kurang
sehat karena wajanya yang agak pucat.
“kamu baik baik aja kan?”
Tanya Ridwan basa basi, Futri mengangguk pelan.
“syukurlah.” Ridwan
tersenyum senang.
“kita kekelas yuk, sebentar
lagi dosen masuk. Nanti selesai kuliah baru kita tanyain tu satpam.” Ujar Santo,
Futri yang tak mengerti maksud mereka lagi lagi bertanya
“ini sebenarnya ada apa? Mau
nanya apa’an sih?”
“keanehan di kampus ini
terutama ruang 12.” Jawab Siti , *DEG* Futri jadi kaget setengah mati, ia
mematung.
“kenapa Fut? Ada yang
salah?” Tanya Siti melihat wajah Futri yang
terlihat tegang.
“ah… tidak. Kita kekelas
yuk.” Ajak Futri sembari menggandeng masing masing lengan sahabatnya itu di
ikuti oleh Ridwan dan Santo.
#kuliah pun usai,para
mahasiswa teah meninggalkan kampus yang sudah sepi saat ini, jam menunjukan pukul
9 malam. Siti , Ifdo, Futri, Santo, Ridwan dan ditambah Hendra yang tiba tiba ingin ikut mengintrogasi satpam
di kampusnya mengenai keanehan kampus dan ruang 12 itu. mereka bersama sama
menghampiri post satpam yang berada di depan gerbang kampus. Kebetulan satpam
itu menjaga 24 jam walau berganti ship. Disana ada 3 orang satpam yang tengah
asyik dengan aktivitas mereka, 2 orang bermain catur dan 1 orang bertugas
mengawasi secara bergantian.
“permisi pak..” sapa Santo
dengan ramah, ketiga satpam itu menoleh secara bersamaan lalu membalas sapaan
itu.
“iya, ada apa?kok kalian
belum pulang? Apa masih ada dosen yang mengajar malam malam begini?” Tanya sang
satpam yang bertugas menjaga
“kami… ada perlu dengan
bapak bapak ini.” Jawab Santo
“perlu apa?”
“kami ingin mengetahui
sesuatu mengenai kampus ini.” Tutur Ridwan yang langsung mndapat tatapan tidak
suka dari seorang satpam yang tadinya tengah bermain catur.
“memangnya kampus ini
kenapa?” Tanya satpam itu mulai judes.
“ehm… kemarin teman teman
saya melihat keanehan di ruang 12 dan-“
“sebaiknya kalian pulang,
ini sudah malam. Tidak ada apa apa di kampus ini, tidak ada keanehan apa pun
apalagi diruang 12. Kalian jangan mengada ada. Kami sudah 20 tahun kerja di
sini. Jadi sebaiknya kalian pulang saja.” usir satpam itu, Santo dan teman
teman merasa aneh dengan sikap satpam yang satu ini, tidak sepatutnya ia
menjadi judes seperti itu namun karena tak ingin cekcok, mereka pun memutuskan
untuk pulang, kebetulan Santo membawa Mobil dan bersedia mengantar teman temannya
pulang.
Didalam mobil, ditengah
perjalanan pulang.
“satpam itu aneh banget deh.
Kayaknya ada yang di sembunyiin.” Ujar Siti
“iya, kalau enggak kenapa
dia langsung nyerocos gitu aja sebelum kita jelasin semuanya.” Timpal hendra.
“kalau mereka enggak mau
kasi info, kita cari tau sendiri aja.” Celetuk Santo dibalik kemudianya.
“wah setuju tuh.” Seru
Ridwan
“aaaaaaaaaakkkkkhhhhhh…!
Berhenti!!”teriak Futri ketakutan sembari menutupi wajahnya dengan kedua
telapak tangannya yang sontak membuat Santo mengerem Mobilnya. Siti dan Ifdo jadi panik sementara Futri masih saja
berteriak histeris.
“pergi!!! Jangan ganggu
aku!” Futri histeris lalu pingsan di pelukan Ifdo.
“Futri…Futri… sadar hei.”
Panik Siti sembari menepuk nepuk pipi
Futri. Hawa dingin mulai dirasakan oleh mereka semua, tiba tiba hujan turun
lama kelamaan semakin deras hingga menggenangi jalan raya dan akibatnya mobil Santo
jadi mogok.
“aduh! Resek banget sih,
pake acara hujan lagi!” umat Santo kesal, Futri masih pingsan.
“trus gimana nih?” Tanya Ifdo
“ehm… sorry.. Wan, Hen boleh
bantu dorong ni mobil enggak?” pinta Santo lalu mendapat anggukan dari kedua
temannya itu, Siti pun itu membantu
mereka mendorong mobil di tengah guyuran hujan, tak lama kemudian mobil pun
bisa menyala lagi dan mereka bergegas menuju rumah kontrakan Ifdo Cs.
“aaah… Syukurlah… “ ujar Santo
kemudian mengambil posisi duduk disebelah Hendra
“hujannya semakin lebat.”
Keluh Ridwan melihat kearah luar Rumah karena pintu masih terbuka lebar.
“Futri… kalau kamu
mengantuk, kamu tidur aja dulu.” Usul Siti ,
“iya, atau kamu mau makan
dulu?” Tanya Ifdo, Futri tersenyum lalu mengangguk.
“ekhem!! Perutku lapar juga
nih.” Seru Ridwan sembari nyengir gaje, Santo menjitak kepalanya dengan sebal.
“enggak usah malu maluin
napa sih?!”
“hehe… enggak apa apa kok
Santo, kebetulan kita belum makan, lebih seru kalau kita makan sama sama, iya
kan hyung?” sahut Ifdo di jawab anggukan Siti .
“ok, Futri dan Ifdo bantuin
aku masak yuk, kalian bertiga tunggu diruang Makan aja. Oh iya Hen San…” Hendra
dan Santo menoleh bersamaan memandangi Siti dengan bingung.
“maaf… maksudku Santo…
tolong tutup pintunya, anginnya kenceng banget tuc. “ kata Siti seraya berbalik menuju dapur bersama Futri dan
Ifdo. Santo yang di mintai untuk menutup pintu pun segera melaksanakannya dan
bergabung bersama kedua temannya melangkah menuju ruang makan.
@15 menit kemudian,
Semua masakan sudah selesai
dan siap dihidangkan, mereka duduk di kursi yang telah disediakan diruang makan
itu. tanpa basa basi mereka mulai menyantap makanan yang ada di meja. 10 menit
kemudian selesai makan, Ifdo mencuci piring ditemani oleh Siti karena mereka harus mencuci piring di belakang
Rumahnya. Sementara Futri bergabung bersama Santo, Hendra Syahputra dan Ridwan
di ruang tamu.
“kok ini hujan enggak
berhenti berhenti sih.” Ridwan meggerutu lagi. Futri tersenyum kecil.
“heh… enggak boleh gitu, hujan
itu anugerah tau!” kata Futri, mendengar itu Ridwan tersenyum malu.
“tuu denger tu Wan!” timpal Santo,
membuat Ridwan manyun.
“Futri… boleh pinjem bantal
enggak? Aku ngantuk banget nih.” Kata Hendra, Futri mengangguk kemudian beranjak
dari ruang tamu menuju kamarnya.
“aaah… kau ini, merepotkan Futri
saja.” marah Ridwan
“alaaaa… bilang aja kau
cemburu kan?? Week.” Ejek Hendra,
“eng… enggak kok! Ngapain
juga aku cemburu, weeeek.” Balas Ridwan yang wajahnya memerah karena malu, Santo
dan Hendra malah menertawainya.
“aaaaaakkkhhhh….” Teriak
seseorang menganggetkan seisi rumah, Ridwan yang sadar bahwa itu suara Yuki,
segera berlari menuju sumber suara di ikuti oleh Santo dan Hendra. Siti dan Ifdo juga ikut berlarian menuju kamar
Futri.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar