Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Misteri Ruang 12 [ Part 4 ]

Kamis, 21 Mei 2015

Misteri Ruang 12 [ Part 4 ]

Misteri Ruang 12 [ Part 4 ]

Author : ifdo                                                                                                             
Main cast :
Khifdotul Hidayah : Ifdo
Santo Surya : Santo
Siti Romlah: Siti
Futri Utami:Futri
Ridwansyah : Ridwan
Hendra Syahputa : Hendra
Eva wati : Eva
Auliya Fidiyanti: Auliya
M. Dani :Dani
Dhika Ramadhan : Dhika
Genre : Horror, Friendship and Romance
“Futri……!” teriak Siti histeris melihat sahabatnya tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya, keadaan itu membuat mereka panik dan semakin takut dengan keadaan sekarang. Siti memeluk tubuh Futri sembari menangis, Ifdo tercengang melihat itu.
“do! Bantuin dong. Kok jadi diam gitu sih!” protes Siti yang masih memeluk Futri, Ridwan segera menggendong Futri, meletakan tubuh itu di atas tempat tidur sementara siti masih saja terisak. Hendra dan Santo semakin bingung dengan semua ini.
“siapa sih yang pengecut banget nyakitin cewek! “ hardik hendra yang kesal. Ifdo melihat seseorang yang berdiri dibawah pohon, ia melihat dari balik jendela kaca dan semakin heran lagi karena air Hujan tidak sedikitpun mengenainya, Ifdo berjalan mendekati jendela kaca memperhatikan orang asing itu namun beberapa detik kemudian, yang dilihat Ifdo menghilang begitu saja dengan sekali kedipan mata, itu membuat ifdo shock sehingga jatuh dengan tubuh yang gemetaran. Hendra dan Santo melihat itu kemudian mereka segera menghampiri Ifdo.

“do, kamu kenapa?” Tanya Hendra panic
“apa yang kamu lihat?” Tanya Hendra lagi.
“do, kamu kenapa?” Tanya siti yang tadi melihat tingkah aneh Ifdo. Ifdo beranjak dari tempatnya tadi menghampiri Siti dan Futri yang berada diatas tempat tidur.
“ada apa sih? Aku makin bingung nih.” Tanya Hendra
“aku mohon pada kalian bertiga, jangan pulang dulu yah, please…” pinta Ifdo penuh harap menatap Hendra, Ridwan dan santo bergiliran. Mereka balik menatap ifdo dengan tatapan heran.
“yaaah… gimana mau pulang Do, diluar aja hujan deras banget.” Jawab Ridwan menatap keluar jendela, Hujan semakin deras.
“ya udah… kalian tidur di kamar aku atau hyung aja, aku sama hyung tidur nemenin Futri.” Kata Ifdo
“ok.” Jawab Hendra singkat.” Disertai anggukan dari teman temannya yang lain.
Keesokan harinya, mereka berangkat kuliah bersama sama, sampai di parkiran, Eva yang baru turun dari motornya menghampiri Ifdo, Siti dan Futri.
“kalian kok bisa sama mereka?” Tanya Eva
“mereka nginap dirumah kami.” Jab Siti sembari berjalan menuju kelas.
“och… kok pake nginap segala? Ada pesta yah? Iiihh… enggak ngajak ngajak nih.” Rajuk Eva
“buseeet… boro boro pesta Va, kami aja ketakutan tahu.” Sahut Siti membuat Eva heran
“takut? Takut kenapa? Mereka macem macem sama kalian?” Tanya Eva lebih lanjut.
“udah ntar aja ceritanya. Kita kekelas aja dulu yuk.” Ajak Ifdo mendahului 3 gadis itu. sementara di waktu yang sama, Diparkiran Hendra, Ridwan dan Santo tengah memperhatikan satpam kemarin malam yang marah marah enggak jelas sama mereka.
“tu satpam masih marah marah enggak yah, kalau kita tanyain soal kemarin?” celetuk hendra, Ridwan dan Santo menatapnya secara bersamaan.
“kamu mau coba?” Tanya Ridwan.
“takutnya dia malah nyerocos kayak semalam.” Timpal Santo
“yaaaah…. Kita coba aja lagi, siapa tahu dia kemarin Cuma lagi kalah main catur trus dia kebawa emosi deh.” Kata Hendra
“ok, kita coba lagi.” Ajak Ridwan, mereka melangkah bersama menghampiri Post satpam namun tiba tiba 2 orang pria yang berada di belakang memanggil mereka sehingga ketiganya berbalik bersamaan.
“kalian, mau kemana? Kan kelas kita disana…” ujar Dani menunjuk kearah kelas.
“iya nih, mau bolos yah… ketahuan kalian… ini kan makulnya Bu Maria, sayang loh kalau dilewatin.” Timpal Dhika menasehati ketiga temannya tadi.
“yeee… sembarangan aja kalau ngomong. Ngpain bolos kalau ke kampus. Lagian kuliah mulainya jam 9 tau. Ini kan masih jam 8.” Jawab Hendra
“iya sih, trus kalian pada mau kemana?” Tanya Dhika lagi
“kalian mau pada ikut ? tuc ke post satpam. Ada proyek meeen..” jawab Santo asal asalan.
“proyek apa? Labanya berapa? Ruginya berapa? “ Tanya Dani
“yeee… mentang mentang anak Ekonomi, duit mulu nih otaknya.” Kata Ridwan
“segalanya itu butuh duet Wan. Iya enggak Dhik?” seru Dani meminta persetujuan dari sahabatnya itu, Dhika Mengangguk.
“ya udah deh, jangan pada banyak Tanya. Kita samperin sekarang… kalian entar kita ceritain. Yuk ikut aja.” Ajak Hendra. Kemudian ke 5 pemuda itu berjalan menuju post satpam. Disana sudah ada satpam kemarin dan 2 orang satpam lain yang bertugas hari ini.satpam itu melihat Santo cs merasa risau dan tidak suka dengan kedatangan mereka, satpam itu melotot dengan wajah sangarnya membuat Santo cs merasakan firasat buruk.
“ekhem.. permisi pak.” Sapa Santo ramah
“kalian lagi, mau apa lagi?!” Tanya satpam itu judes.
“kami enggak bermaksud mengganggu pak, hanya ingin…”
“kalau kalian mau nanya masalah kemarin, tidak ada gunanya, karena itu bukan urusan kalian!” bentak satpam itu dengan tingginya
“yaaah elaaa.. santai aja kali pak. Kami kan Cuma mau nanya aja.” Sewot Dani.
“pak, mohon maaf banget pak, kami Cuma mau nanya sebentar aja. Please… ini demi teman kami pak, Futri… dia… dia “ Ridwan menggantungkan kalimat membuat Dhika Dani dan satpam satpam itu penasaran.
“dia selalu berteriak ketakutan setelah melihat ada mayat di ruang 12 lusa kemarin, kami hanya ingin mengetahui penyebabnya dan ingin membuat Futri kembali seperti semula pak, kasihan Futri pak.” Jelas Ridwan dengan wajah memelas membuat satpam sangar itu sedikit luluh.
“udah la pak Don, cerita aja, kasian tuc mahasiwa mahasiswa disini, biar mereka bisa hati hati.” Salah satu satpam lain ikut nimbrung, satpam yang di panggil pak Don tadi tampak berpikir kemudian menatap satu persatu wajah pemuda dihadapannya ini.
“baiklah…” akhirnya Pak Don luluh juga dan ia pun menceritakan peristiwa yang terjadi di ruang 12 pada tahun 2005 lalu.
Seelah mendengar cerita itu, kelima pemuda itu kembali kekelas karena waktu sudah menunjukan pukul 9.15. kebetulan Bu Maria belum datang.
“kalian dari mana aja sih?” Tanya Eva sewot.
“aduuuh… enggak usah sewot juga kali Va, kami dari post satpam.” Jawab Dhika
“trus, apa kata satpamnya? Mereka mau cerita enggak?” Tanya Siti
“iya, ceritanya serem banget. Aku sampai merinding,” Hendra ikut ikutan.
“weeeey…. Ada apa nih? Pagi pagi udah ngegosip. Ckck..” seru Auliya menghampiri kerumunan mereka. Siti menatap Auliya dengan sinis.
“biasa aja Sit, aku enggak bermaksud jahat kok. Kan Cuma mau denger cerita aja.” Bela Auliya
“yeee.. siapa juga yang ngegosip.” Sahut Dani
Sementara itu…
Ifdo memperhatikan Futri yang bungkam semenjak masuk keruangan 12 ini, ia bisa mendengar suara suara aneh yang menyebut nama Futri, namun Futri tidak merespon sama sekali karena Futri memang tidak bisa mendengar apapun, hanya Ifdo yang bisa dan itu yang membuat Ifdo penasaran dengan ruangan ini. Sebenarnya siapa mereka? Siapa gadis yang selalu memperhatikan Futri di pojok kelas? Kenapa tatapan gadis itu pegitu menyeramkan dan seperti menyimpan kemarahan yang begitu besar??
Ifdo tersentak kaget saat Bu maria masuk kelas, seketika Gadis yang dilihatnya tadi hilang entah kemana. Hendra yang sedari tadi duduk disebelah Ifdo dan memperhatikannya kini mulai membuka pembicaraan.
“Do, kamu kenapa diam terus? Ngelihatin Futri mulu nih.” Bisik Hendra, Ifdo menoleh lalu tersenyum kecil.
“enggak kok, Cuma lagi mikirin gimana caranya buat Futri kembali normal, kan kasihan dia jadi pendiam kayak gini.” Jawab Ifdo sekenanya, Hendra mengangguk mengerti
“ekehem…. Dosen udah datang, enggak usah ngobrol enggak jelas.” Kata Santo yang berada dibelakang Ifdo, ia tak suka melihat mereka berdua dekat.
“iya, aku tau Kali.” Sahut Hendra sebal.
2 jam berlalu, tak ada makul lagi, Futri memilih menyendiri di dalam ruang 12, ia tidak menghiraukan Siti dan Ifdo yang mengajaknya makan banreng di kantin, namun karena mereka berdua takut sahabatnya ini histeris lagi hingga membuat mereka mengurungkan niatnya untuk maka di kantin.
“kalau kamu lapar, kamu makan aja deh. Aku tahu kamu suka mendadak maag kan?” usul Siti, Ifdo menatap Siti
“enggak apa apa nih? Terus hyung gimana?”
“aku jaga Futri disini, lagian ada Erma cs kan… enggak apa apa kok.”
“aku juga disini, aku jagain mereka kok.” Kata Dani, Siti tersenyum kecil kemudian mengangguk
“ok deh, kalau ada apa apa kamu telpon aku yah.” Kata Ifdo
“ok”
“aku ikut yah, aku juga lapar nih.” Kata Hendra berdiri dibelakang Ifdo di ikuti Santo.
“Santo… aku ikut yah.” Rengek Auliya, Santo mengangguk pasrah
“ya udah, yang mau makan di kantin ikut aku sekarang.” ajak ifdo seraya berjalan keluar meninggalkan Siti dan Futri, Dani serta Ridwan. Sementara Hendra, Santo, Eva, Auliya dan Dhika pergi kekantin bersama Ifdo.
Pukul 8.30 PM,
Saat ini Futri duduk diatas tempat tidurnya, sendirian dan pintu pun dikunci. Entah apa yang menyebabkannya melakukan hal ini, selalu menyendiri dan menjadi bukan Futri yang sebenarnya. Futri bersandar sembari memeluk kedua lututnya, ia merasakan ada sesuatu di kamarnya yang membuatnya tidak bisa meninggalkan kamar. Bulu kuduknya berdiri, dingin menembus kulitnya pun makin terasa.
‘siti… hyung… tolong aku, aku takut disini.’ Jerit Futri dalam hati, perasaan takut itu semakin besar ketika sebuah tangan hitam berada di atas pundak kirinya,futri tak mampu berteriak, ia hanya bisa menangis dan menangis tanpa bersuara. Tangan itu mencengkram bahunya dengan kuat, membuat darah mengalir dengan mudahnya, Futri semakin ketakutan.
“Do, Futri mana sih? Kita makan nih, udah selesai masak juga.” Kata Siti yang sudah selesai menghidangkan makan malam untuk mereka.
“aku panggil dia dulu yah.” Kata ifdo seraya berbalik meninggalkan siti sendiri di ruang makan.beberapa menit Ifdo pergi, tiba tiba angina berhembus membuat gorden melambai lambai dan memperlihatkan keadaan luar rumah terang karena cahaya lampu, siti jadi merinding dan mencoba duduk di kursi makan untuk menenangkan dirinya, sementara itu ifdo tiba didepan kamar Futri.
“Fut….Futri…. makan yuk? Hyung sudah masak tuc…entar makanannya keburu dingin,” ajak Ifdo yang masih berada di depan kamar Futri.
“…”
“Futri… kamu tidur??” Tanya Ifdo lagi
“…”
“Futri… “teriak Ifdo lagi, ia mencoba membuka pintu kamar yang ternyata terkunci. Ifdo terus mencoba membuka pinti kamar itu, namun tetap saja tidak bisa.
Sementara itu,
“aduh… ifdo kok lama banget sih, kan disini seram…” keluh Siti yang sangat ketakutan,
“aaakkkh…” siti menjerit karena ada yang mencengkram kuat kaki kirinya dari bawah meja makan, tangan itu menarik kaki siti hingga terjatuh dari kursi membuat kepala siti terbentur dengan kursi dan pingsan ditempat.
“Futri…”
“…”
“pasti enggak beres nih di dalam.” Gumam ifdo, ia mencari kunci cadangan di dalam laci lemari yang terletak di samping kamar Futri dan syukurnya ketemu. Saat ifdo hendak memasukan kunci itu kelubangnya, pintu itu malah tidak di kunci sama sekali dan dengan mudah ifdo membukanya, pintu itu dibuka dengan lebar dan disana Futri tengah menangis ketakutan dengan luka di pundak kanannya.
“futri… kamu kenapa?” Tanya ifdo khawatir, futri hanya menangis ifdo memeluknya dengan erat, mengelus rambut panjangnya berusaha menenangkan sahabatnya ini.
“udah jangan nangis, ada aku disini. Kita keluar kamar yuk.” Ajak Ifdo, futri menggeleng segera semari terus menangis.
“jangan… jangan jangan keluar dari kamar, please… kita di kamar aja.” Pinta Futri dengan suara paraunya.
“tapi hyung sendirian di sana, kasihan dia menunggu kita. “
“please… aku tidak mau sendiri disini. Jangan keluar dari kamar ini.” Jerit Futri ketakutan, membuat Ifdo semakin khawatir.
“iya., tapi aku telpon hyung dulu yah.” Ifdo akhirnya melepaskan pelukannya dari Futri dan mencoba menghubungi Siti lewat ponsel.
“aduuuh… kok enggak di angkat sih, ckck..”gerutu Ifdo karena Siti tidak menjawab telpon darinya.
“kita keluar kamar aja yuk? Kita makan dulu setelah ini kita ke kamar lagi.” Tawar ifdo, Futri hanya diam. Akhirnya ifdo memutuskan untuk pergi bersama putri meninggalkan kamar Futri mereka berjalan menuju ruang makan,  disana mereka tidak melihat Siti.
“loh… hyung kemana?” Tanya ifdo kebingungan. Sedangkan Futri malah diam tanpa melakukan apa apa, kedaan ini membuat Ifdo panik dan kebingungan.
“hyung…. Hyung dimana?” pekik Ifdo memanggil sahabatnya yang hilang entah kemana. Ifdo duduk di kursi dan kakinya terasa menyentuh sesuatu di lantai, ia menoleh dan melihat kebawah betapa kagetnya ia melihat siti tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
“hyuuung…” pekik ifdo, kemudian menyingkirkan kursi yang menghalanginya lalu memangku tubuh siti yang tak berdaya. Futri semakin ketakutan melihat itu, namun ia masih saja bungkam karena ia merasa sesuatu tengah mengawasi mereka bertiga,
“hyung… hyung kenapa?” Ifdo menepuk nepuk pipi Siti, mencoba membangunkannya.
“Futri… hyung pingsan nih.” Kata ifdo, Futri mendekati ifdo namun tiba tiba sebuah tangan mencengkram bahunya membuat Futri berteriak kesakitan, ifdo menoleh kearah sumber suara, ia melihat kedua tangan itu mencengkram Futri dengan kuat dan membawa Futri pergi entah kemana karena detik berikutnya Futri sudah menghilang. Ifdo yang masih panik dengan keadaan Siti makin tambah panic melihat peristiwa tadi.
“ada apa ini sebenarnya?!! Futri….! Kamu diamana???” pekik ifdo ketakutan, sementara siti belum juga sadar dari pingsannya.
“Hendra….. please… angkat telponnya, aku butuh kamu sekarang.”
“hallo…”
“hen… kamu dimana? Tolong ke kost kami sekarang.”
“ngapain? Ini sudah jam 9 malam do, kalau mau ngobrol besok aja di kampus.”
“hen… aku takut, tolong  kami hen… hiks.. hiks…”
“ok ok, jangan nangis yah, aku kesana sekarang.” hendra memutuskan sambungan telpon dan segera menelpon teman temannya yang lain.
“hyung.. sadar dong, “ pinta ifdo dengan penuh air mata, ia merasa ketakutan dan sedih melihat siti masih tak sadarkan diri.
15 menit kemudian, hendra, santo,Ridwan dan Dani tiba dirumah Ifdo. Pintu yang tak terkunci memudahkan mereka masuk dan betapa kagetnya melihat ifdo memangku Siti yang tengah pingsan dengan darah di kepalanya.
“do, siti kenapa?” Tanya Dani panic, dia yang paling panic di antara 3 sahabat lainnya, karena dia memang memiliki rasa yang lebih kepada siti.
“enggak tau, tolong bawa dia kerumah sakit dulu.”
“terus kamu?”
“aku mau cari Futri dulu.”
“Futri kemana?” Tanya Ridwan ikutan panik, Ifdo menggeleng
“udah kita bawa dulu siti kerumah sakit. Cepat…” ajak Dani mengendong siti menuju mobil santo.
“kalian jaga Hyung yah, jangan tinggalin dia sedetik pun, aku mau cari Futri dulu.” Kata Ifdo melihat Siti di bawa masuk kedalam mobil Santo
“terus… kamu mau cari sendiri?” Tanya santo
“aku ikut cari Futri.” Kata Ridwan, hendra juga ikut serta.
“ya udah, aku sama Dani ke rumah sakit dulu.” Pamit santo,  setelah mobil santo pergi mereka bertiga masuk ke rumah dan mulai mencari Futri yang menghilang secara tiba tiba dari arah lemari , namun seberapa lama mereka mencari pun, Futri tidak ditemukan karena memang Futri tidak ada di rumah itu melainkan ditempat yang tidak pernah mereka tahu keberadaannya.

To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake