Misteri Ruang 12 [ Part 4 ]
Author : ifdo
Main cast :
Khifdotul Hidayah : Ifdo
Santo Surya : Santo
Siti Romlah: Siti
Futri Utami:Futri
Ridwansyah : Ridwan
Hendra Syahputa : Hendra
Eva wati : Eva
Auliya Fidiyanti: Auliya
M. Dani :Dani
Dhika Ramadhan : Dhika
Genre : Horror, Friendship and Romance
“Futri……!” teriak Siti
histeris melihat sahabatnya tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir dari
kepalanya, keadaan itu membuat mereka panik dan semakin takut dengan keadaan
sekarang. Siti memeluk tubuh Futri sembari menangis, Ifdo tercengang melihat
itu.
“do! Bantuin dong. Kok jadi
diam gitu sih!” protes Siti yang masih memeluk Futri, Ridwan segera menggendong
Futri, meletakan tubuh itu di atas tempat tidur sementara siti masih saja
terisak. Hendra dan Santo semakin bingung dengan semua ini.
“siapa sih yang pengecut
banget nyakitin cewek! “ hardik hendra yang kesal. Ifdo melihat seseorang yang
berdiri dibawah pohon, ia melihat dari balik jendela kaca dan semakin heran
lagi karena air Hujan tidak sedikitpun mengenainya, Ifdo berjalan mendekati
jendela kaca memperhatikan orang asing itu namun beberapa detik kemudian, yang
dilihat Ifdo menghilang begitu saja dengan sekali kedipan mata, itu membuat
ifdo shock sehingga jatuh dengan tubuh yang gemetaran. Hendra dan Santo melihat
itu kemudian mereka segera menghampiri Ifdo.
“apa yang kamu lihat?” Tanya
Hendra lagi.
“do, kamu kenapa?” Tanya
siti yang tadi melihat tingkah aneh Ifdo. Ifdo beranjak dari tempatnya tadi
menghampiri Siti dan Futri yang berada diatas tempat tidur.
“ada apa sih? Aku makin
bingung nih.” Tanya Hendra
“aku mohon pada kalian
bertiga, jangan pulang dulu yah, please…” pinta Ifdo penuh harap menatap
Hendra, Ridwan dan santo bergiliran. Mereka balik menatap ifdo dengan tatapan
heran.
“yaaah… gimana mau pulang
Do, diluar aja hujan deras banget.” Jawab Ridwan menatap keluar jendela, Hujan
semakin deras.
“ya udah… kalian tidur di
kamar aku atau hyung aja, aku sama hyung tidur nemenin Futri.” Kata Ifdo
“ok.” Jawab Hendra singkat.”
Disertai anggukan dari teman temannya yang lain.
Keesokan harinya, mereka
berangkat kuliah bersama sama, sampai di parkiran, Eva yang baru turun dari
motornya menghampiri Ifdo, Siti dan Futri.
“kalian kok bisa sama
mereka?” Tanya Eva
“mereka nginap dirumah
kami.” Jab Siti sembari berjalan menuju kelas.
“och… kok pake nginap
segala? Ada pesta yah? Iiihh… enggak ngajak ngajak nih.” Rajuk Eva
“buseeet… boro boro pesta
Va, kami aja ketakutan tahu.” Sahut Siti membuat Eva heran
“takut? Takut kenapa? Mereka
macem macem sama kalian?” Tanya Eva lebih lanjut.
“udah ntar aja ceritanya.
Kita kekelas aja dulu yuk.” Ajak Ifdo mendahului 3 gadis itu. sementara di
waktu yang sama, Diparkiran Hendra, Ridwan dan Santo tengah memperhatikan satpam
kemarin malam yang marah marah enggak jelas sama mereka.
“tu satpam masih marah marah
enggak yah, kalau kita tanyain soal kemarin?” celetuk hendra, Ridwan dan Santo
menatapnya secara bersamaan.
“kamu mau coba?” Tanya
Ridwan.
“takutnya dia malah nyerocos
kayak semalam.” Timpal Santo
“yaaaah…. Kita coba aja
lagi, siapa tahu dia kemarin Cuma lagi kalah main catur trus dia kebawa emosi
deh.” Kata Hendra
“ok, kita coba lagi.” Ajak
Ridwan, mereka melangkah bersama menghampiri Post satpam namun tiba tiba 2 orang
pria yang berada di belakang memanggil mereka sehingga ketiganya berbalik
bersamaan.
“kalian, mau kemana? Kan
kelas kita disana…” ujar Dani menunjuk kearah kelas.
“iya nih, mau bolos yah…
ketahuan kalian… ini kan makulnya Bu Maria, sayang loh kalau dilewatin.” Timpal
Dhika menasehati ketiga temannya tadi.
“yeee… sembarangan aja kalau
ngomong. Ngpain bolos kalau ke kampus. Lagian kuliah mulainya jam 9 tau. Ini
kan masih jam 8.” Jawab Hendra
“iya sih, trus kalian pada
mau kemana?” Tanya Dhika lagi
“kalian mau pada ikut ? tuc
ke post satpam. Ada proyek meeen..” jawab Santo asal asalan.
“proyek apa? Labanya berapa?
Ruginya berapa? “ Tanya Dani
“yeee… mentang mentang anak
Ekonomi, duit mulu nih otaknya.” Kata Ridwan
“segalanya itu butuh duet
Wan. Iya enggak Dhik?” seru Dani meminta persetujuan dari sahabatnya itu, Dhika
Mengangguk.
“ya udah deh, jangan pada
banyak Tanya. Kita samperin sekarang… kalian entar kita ceritain. Yuk ikut
aja.” Ajak Hendra. Kemudian ke 5 pemuda itu berjalan menuju post satpam. Disana
sudah ada satpam kemarin dan 2 orang satpam lain yang bertugas hari ini.satpam
itu melihat Santo cs merasa risau dan tidak suka dengan kedatangan mereka, satpam
itu melotot dengan wajah sangarnya membuat Santo cs merasakan firasat buruk.
“ekhem.. permisi pak.” Sapa
Santo ramah
“kalian lagi, mau apa
lagi?!” Tanya satpam itu judes.
“kami enggak bermaksud
mengganggu pak, hanya ingin…”
“kalau kalian mau nanya
masalah kemarin, tidak ada gunanya, karena itu bukan urusan kalian!” bentak
satpam itu dengan tingginya
“yaaah elaaa.. santai aja
kali pak. Kami kan Cuma mau nanya aja.” Sewot Dani.
“pak, mohon maaf banget pak,
kami Cuma mau nanya sebentar aja. Please… ini demi teman kami pak, Futri… dia…
dia “ Ridwan menggantungkan kalimat membuat Dhika Dani dan satpam satpam itu
penasaran.
“dia selalu berteriak
ketakutan setelah melihat ada mayat di ruang 12 lusa kemarin, kami hanya ingin
mengetahui penyebabnya dan ingin membuat Futri kembali seperti semula pak,
kasihan Futri pak.” Jelas Ridwan dengan wajah memelas membuat satpam sangar itu
sedikit luluh.
“udah la pak Don, cerita
aja, kasian tuc mahasiwa mahasiswa disini, biar mereka bisa hati hati.” Salah
satu satpam lain ikut nimbrung, satpam yang di panggil pak Don tadi tampak
berpikir kemudian menatap satu persatu wajah pemuda dihadapannya ini.
“baiklah…” akhirnya Pak Don
luluh juga dan ia pun menceritakan peristiwa yang terjadi di ruang 12 pada
tahun 2005 lalu.
Seelah mendengar cerita itu,
kelima pemuda itu kembali kekelas karena waktu sudah menunjukan pukul 9.15.
kebetulan Bu Maria belum datang.
“kalian dari mana aja sih?”
Tanya Eva sewot.
“aduuuh… enggak usah sewot
juga kali Va, kami dari post satpam.” Jawab Dhika
“trus, apa kata satpamnya?
Mereka mau cerita enggak?” Tanya Siti
“iya, ceritanya serem
banget. Aku sampai merinding,” Hendra ikut ikutan.
“weeeey…. Ada apa nih? Pagi
pagi udah ngegosip. Ckck..” seru Auliya menghampiri kerumunan mereka. Siti
menatap Auliya dengan sinis.
“biasa aja Sit, aku enggak
bermaksud jahat kok. Kan Cuma mau denger cerita aja.” Bela Auliya
“yeee.. siapa juga yang
ngegosip.” Sahut Dani
Sementara itu…
Ifdo memperhatikan Futri
yang bungkam semenjak masuk keruangan 12 ini, ia bisa mendengar suara suara
aneh yang menyebut nama Futri, namun Futri tidak merespon sama sekali karena
Futri memang tidak bisa mendengar apapun, hanya Ifdo yang bisa dan itu yang
membuat Ifdo penasaran dengan ruangan ini. Sebenarnya siapa mereka? Siapa gadis
yang selalu memperhatikan Futri di pojok kelas? Kenapa tatapan gadis itu pegitu
menyeramkan dan seperti menyimpan kemarahan yang begitu besar??
Ifdo tersentak kaget saat Bu
maria masuk kelas, seketika Gadis yang dilihatnya tadi hilang entah kemana.
Hendra yang sedari tadi duduk disebelah Ifdo dan memperhatikannya kini mulai
membuka pembicaraan.
“Do, kamu kenapa diam terus?
Ngelihatin Futri mulu nih.” Bisik Hendra, Ifdo menoleh lalu tersenyum kecil.
“enggak kok, Cuma lagi
mikirin gimana caranya buat Futri kembali normal, kan kasihan dia jadi pendiam
kayak gini.” Jawab Ifdo sekenanya, Hendra mengangguk mengerti
“ekehem…. Dosen udah datang,
enggak usah ngobrol enggak jelas.” Kata Santo yang berada dibelakang Ifdo, ia
tak suka melihat mereka berdua dekat.
“iya, aku tau Kali.” Sahut
Hendra sebal.
2 jam berlalu, tak ada makul
lagi, Futri memilih menyendiri di dalam ruang 12, ia tidak menghiraukan Siti
dan Ifdo yang mengajaknya makan banreng di kantin, namun karena mereka berdua
takut sahabatnya ini histeris lagi hingga membuat mereka mengurungkan niatnya
untuk maka di kantin.
“kalau kamu lapar, kamu
makan aja deh. Aku tahu kamu suka mendadak maag kan?” usul Siti, Ifdo menatap
Siti
“enggak apa apa nih? Terus
hyung gimana?”
“aku jaga Futri disini,
lagian ada Erma cs kan… enggak apa apa kok.”
“aku juga disini, aku jagain
mereka kok.” Kata Dani, Siti tersenyum kecil kemudian mengangguk
“ok deh, kalau ada apa apa
kamu telpon aku yah.” Kata Ifdo
“ok”
“aku ikut yah, aku juga
lapar nih.” Kata Hendra berdiri dibelakang Ifdo di ikuti Santo.
“Santo… aku ikut yah.”
Rengek Auliya, Santo mengangguk pasrah
“ya udah, yang mau makan di
kantin ikut aku sekarang.” ajak ifdo seraya berjalan keluar meninggalkan Siti
dan Futri, Dani serta Ridwan. Sementara Hendra, Santo, Eva, Auliya dan Dhika
pergi kekantin bersama Ifdo.
Pukul 8.30 PM,
Saat ini Futri duduk diatas
tempat tidurnya, sendirian dan pintu pun dikunci. Entah apa yang menyebabkannya
melakukan hal ini, selalu menyendiri dan menjadi bukan Futri yang sebenarnya.
Futri bersandar sembari memeluk kedua lututnya, ia merasakan ada sesuatu di
kamarnya yang membuatnya tidak bisa meninggalkan kamar. Bulu kuduknya berdiri,
dingin menembus kulitnya pun makin terasa.
‘siti… hyung… tolong aku,
aku takut disini.’ Jerit Futri dalam hati, perasaan takut itu semakin besar
ketika sebuah tangan hitam berada di atas pundak kirinya,futri tak mampu
berteriak, ia hanya bisa menangis dan menangis tanpa bersuara. Tangan itu
mencengkram bahunya dengan kuat, membuat darah mengalir dengan mudahnya, Futri
semakin ketakutan.
“Do, Futri mana sih? Kita
makan nih, udah selesai masak juga.” Kata Siti yang sudah selesai menghidangkan
makan malam untuk mereka.
“aku panggil dia dulu yah.”
Kata ifdo seraya berbalik meninggalkan siti sendiri di ruang makan.beberapa
menit Ifdo pergi, tiba tiba angina berhembus membuat gorden melambai lambai dan
memperlihatkan keadaan luar rumah terang karena cahaya lampu, siti jadi
merinding dan mencoba duduk di kursi makan untuk menenangkan dirinya, sementara
itu ifdo tiba didepan kamar Futri.
“Fut….Futri…. makan yuk?
Hyung sudah masak tuc…entar makanannya keburu dingin,” ajak Ifdo yang masih
berada di depan kamar Futri.
“…”
“Futri… kamu tidur??” Tanya
Ifdo lagi
“…”
“Futri… “teriak Ifdo lagi,
ia mencoba membuka pintu kamar yang ternyata terkunci. Ifdo terus mencoba
membuka pinti kamar itu, namun tetap saja tidak bisa.
Sementara itu,
“aduh… ifdo kok lama banget
sih, kan disini seram…” keluh Siti yang sangat ketakutan,
“aaakkkh…” siti menjerit
karena ada yang mencengkram kuat kaki kirinya dari bawah meja makan, tangan itu
menarik kaki siti hingga terjatuh dari kursi membuat kepala siti terbentur
dengan kursi dan pingsan ditempat.
“Futri…”
“…”
“pasti enggak beres nih di
dalam.” Gumam ifdo, ia mencari kunci cadangan di dalam laci lemari yang
terletak di samping kamar Futri dan syukurnya ketemu. Saat ifdo hendak
memasukan kunci itu kelubangnya, pintu itu malah tidak di kunci sama sekali dan
dengan mudah ifdo membukanya, pintu itu dibuka dengan lebar dan disana Futri
tengah menangis ketakutan dengan luka di pundak kanannya.
“futri… kamu kenapa?” Tanya
ifdo khawatir, futri hanya menangis ifdo memeluknya dengan erat, mengelus
rambut panjangnya berusaha menenangkan sahabatnya ini.
“udah jangan nangis, ada aku
disini. Kita keluar kamar yuk.” Ajak Ifdo, futri menggeleng segera semari terus
menangis.
“jangan… jangan jangan
keluar dari kamar, please… kita di kamar aja.” Pinta Futri dengan suara
paraunya.
“tapi hyung sendirian di
sana, kasihan dia menunggu kita. “
“please… aku tidak mau
sendiri disini. Jangan keluar dari kamar ini.” Jerit Futri ketakutan, membuat
Ifdo semakin khawatir.
“iya., tapi aku telpon hyung
dulu yah.” Ifdo akhirnya melepaskan pelukannya dari Futri dan mencoba
menghubungi Siti lewat ponsel.
“aduuuh… kok enggak di
angkat sih, ckck..”gerutu Ifdo karena Siti tidak menjawab telpon darinya.
“kita keluar kamar aja yuk?
Kita makan dulu setelah ini kita ke kamar lagi.” Tawar ifdo, Futri hanya diam.
Akhirnya ifdo memutuskan untuk pergi bersama putri meninggalkan kamar Futri
mereka berjalan menuju ruang makan, disana
mereka tidak melihat Siti.
“loh… hyung kemana?” Tanya
ifdo kebingungan. Sedangkan Futri malah diam tanpa melakukan apa apa, kedaan
ini membuat Ifdo panik dan kebingungan.
“hyung…. Hyung dimana?”
pekik Ifdo memanggil sahabatnya yang hilang entah kemana. Ifdo duduk di kursi
dan kakinya terasa menyentuh sesuatu di lantai, ia menoleh dan melihat kebawah
betapa kagetnya ia melihat siti tergeletak dengan darah yang mengalir dari
kepalanya.
“hyuuung…” pekik ifdo,
kemudian menyingkirkan kursi yang menghalanginya lalu memangku tubuh siti yang
tak berdaya. Futri semakin ketakutan melihat itu, namun ia masih saja bungkam
karena ia merasa sesuatu tengah mengawasi mereka bertiga,
“hyung… hyung kenapa?” Ifdo
menepuk nepuk pipi Siti, mencoba membangunkannya.
“Futri… hyung pingsan nih.”
Kata ifdo, Futri mendekati ifdo namun tiba tiba sebuah tangan mencengkram
bahunya membuat Futri berteriak kesakitan, ifdo menoleh kearah sumber suara, ia
melihat kedua tangan itu mencengkram Futri dengan kuat dan membawa Futri pergi
entah kemana karena detik berikutnya Futri sudah menghilang. Ifdo yang masih
panik dengan keadaan Siti makin tambah panic melihat peristiwa tadi.
“ada apa ini sebenarnya?!!
Futri….! Kamu diamana???” pekik ifdo ketakutan, sementara siti belum juga sadar
dari pingsannya.
“Hendra….. please… angkat
telponnya, aku butuh kamu sekarang.”
“hallo…”
“hen… kamu dimana? Tolong ke
kost kami sekarang.”
“ngapain? Ini sudah jam 9
malam do, kalau mau ngobrol besok aja di kampus.”
“hen… aku takut, tolong kami hen… hiks.. hiks…”
“ok ok, jangan nangis yah,
aku kesana sekarang.” hendra memutuskan sambungan telpon dan segera menelpon
teman temannya yang lain.
“hyung.. sadar dong, “ pinta
ifdo dengan penuh air mata, ia merasa ketakutan dan sedih melihat siti masih
tak sadarkan diri.
15 menit kemudian, hendra,
santo,Ridwan dan Dani tiba dirumah Ifdo. Pintu yang tak terkunci memudahkan
mereka masuk dan betapa kagetnya melihat ifdo memangku Siti yang tengah pingsan
dengan darah di kepalanya.
“do, siti kenapa?” Tanya
Dani panic, dia yang paling panic di antara 3 sahabat lainnya, karena dia
memang memiliki rasa yang lebih kepada siti.
“enggak tau, tolong bawa dia
kerumah sakit dulu.”
“terus kamu?”
“aku mau cari Futri dulu.”
“Futri kemana?” Tanya Ridwan
ikutan panik, Ifdo menggeleng
“udah kita bawa dulu siti
kerumah sakit. Cepat…” ajak Dani mengendong siti menuju mobil santo.
“kalian jaga Hyung yah,
jangan tinggalin dia sedetik pun, aku mau cari Futri dulu.” Kata Ifdo melihat
Siti di bawa masuk kedalam mobil Santo
“terus… kamu mau cari
sendiri?” Tanya santo
“aku ikut cari Futri.” Kata
Ridwan, hendra juga ikut serta.
“ya udah, aku sama Dani ke
rumah sakit dulu.” Pamit santo, setelah
mobil santo pergi mereka bertiga masuk ke rumah dan mulai mencari Futri yang
menghilang secara tiba tiba dari arah lemari , namun seberapa lama mereka
mencari pun, Futri tidak ditemukan karena memang Futri tidak ada di rumah itu
melainkan ditempat yang tidak pernah mereka tahu keberadaannya.
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar