Misteri Ruang 12 [ Part 5, End ]
Author : ifdo
Main cast :
Khifdotul Hidayah : Ifdo
Santo Surya : Santo
Siti Romlah: Siti
Futri Utami:Futri
Ridwansyah : Ridwan
Hendra Syahputa : Hendra
Auliya Fidiyanti: Auliya
Eva wati : Eva
M. Dani :Dani
Dhika Ramadhan : Dhika
Genre : Horror, Friendship and Romance
Di Rumah sakit
Siti sedang ditangani oleh
dokter dan para perawatnya, sedangkan Dani dan santo menungu di depan ruang
UGD, mereka tak berhenti berdoa untuk kesembuhan Siti dan Futri semoga segera
ditemukan. Tak lama kemudian Ifdo, Ridwan beserta Hendra pun datang.
“bagaimana? Futri ketemu?”
Tanya santo
“tidak… kami sudah
mencarinya di rumah, dibelakang rumah, tapi tidak ketemu juga. Aku heran deh,
si Futri tuc dibawa kemana dan sama siapa?” kata Hendra membuat suasana tegang
kembali tegang
“do, kamu enggak lihat orang
yang membawa Futri?” Tanya Ridwan
“aku… hanya melihat kedua
tangan itu mencengkram Futri dengan kuat, di membawa Futri entah kemana dan aku
tidak bisa berbuat apa apa karena hyung sedang di pangkuanku, dia pingsan
dengan luka di kepalanya hiks… hiks…” jelas ifdo di ikuti tangingan pilunya
mengingat keadaan siti yang entah membaik atau tidak dan Futri yang menghilang
tiba tiba di depan matanya.
“sudah… sudah…. Jangan
nangis,” hendra menepuk nepuk bahu ifdo, emcoba menenangkan gadis itu.
“siti kenapa?” pekik seorang gadis yang berlari kecil menghampiri kerumunan itu, Ifdo menoleh seketika.
“siti kenapa? Dan bagaimana
dengan Futri?” Tanya eva lagi. Ifdo tak menjawab ia malah mnangis lagi.
“apa ini ada hubungannya
dengan ruang 12 itu?” celetuk Dhika yang datang bersama Eva.
“bisa jadi, karena kemarin
kata pak Don di ruang 12 itu ada penghuni yang selalu meminta tumbal mahasiswa
disana.”
“apa???!” ifdo kaget
“kenapa enggak cerita dari
kemarin sih?” gerutu ifdo yang
mengkhawatirkan sahabat sahabatnya.
“aku takut kalian ketakutan
dan yaaah… begini jadinya.” Bela dhika
“tapi… kalau kami tahu, kami
bisa saling menjaga” kata Ifdo menatap Dhika dengan tatapan kesalnya.
“udahlah… sekrang kita harus
gimana nih? Futri sama sekali enggak ada kabar. Sedangkan waktu terus berjalan,
malam semakin larut.” Kata Dani.
“kita harus minta bantuan
Pak don, mungkin saja dia tahu penyelesaian ini, aku tidak ingin Futri
menghilang.” Kata Ridwan
“iya iya… aku tau maksud
kamu.” Sahut Hendra, Ridwan menatapnya sebal
“siapa yang mau nemenin aku
ke rumah pak Don?” Tanya Ifdo
“aku mau ikut, aku mau cari
Futri lagi.” Kata Ridwan, Hendra dan santo ikut bersama ifdo, sementara Eva,
Dhika dan Dani menunggu Siti dirumah sakit
Di rumah Pak Don,
“pak tolong sahabat sahabat
saya pak, please…” ifdo memohon dengan wajah memelasnya, air matanya metes
lagi, hendra yang melihat ifdo menangis lagi merasa iba begitu juga dengan
Ridwan dan Santo.
“iya pak, Futri teman kami
dan sekarang siti sedang dirawat dirumah sakit. “ timpal Ridwan
“saya tidak tahu, apakah
saya bisa menolong kalian atau tidak.”
“kenapa begitu pak? Kalau
bapak mau nolong pasti bisa pak.” Kata Santo antusias
“makhluk ingin tumbal,
setiap tahunya pasti ada dan belum pernah ada yang berhasil selamat.” Jelas pak
Don, membuat mereka semakin ketakutan terutama Ifdo
“kalau gitu tukar dengan
saya aja pak, “ kata Ifdo dengan yakinnya, Hendra, Santo dan Ridwan menatap
gadis itu secara bersamaan.
“Ifdo… ini tidak main main,
bukan permainan yang bisa di lakukan dengan mudah dan sembarangan, ini masalah
nyawa Ifdo.” Kata pak Don yang sedikit sebal dengan ifdo
“pak, karena ini menyangkut
nyawa sahabat sahabat saya pak. Kalau pun harus ada korban, saya bersedia.”
Jawab ifdo lagi, matanya berbinar meminta pertolongan dari pak Don.
“do… jangan jadi gadis bodoh
seperti ini. Jangan berpikir seperti itu.” hardik Hendra yang tidak suka dengan
sikap Ifdo yang keras kepala ini.
“lalu harus bagaimana? Kamu
mau bantu aku atau tidak?” Tanya Ifdo, Hendra menatapnya lekat lekat
“aku akan membantumu, aku
akan selalu ada disaat kamu butuh tapi tidak untuk jatuh bersamamu, karena aku…
aku bukan cowok bodoh, aku akan menyelamatkan kamu dan teman temanmu bagaimana
pun caranya.” Jelas Hendra penuh keyakinan, Santo mendekhem..
“yakin banget???” celetuk
Santo
“apaan sih santo, bukan
saatnya kamu kayak gini.” Kata Ridwan, Hendra hanya diam melihat itu.
“ya sudah… sekarang kita ke
kampus, kita keruang 12 malam ini juga sebelum fajar, karena jika terbit fajar
Futri tidak akan di temukan lagi.” Jelas pak Don, Ifdo dan teman temannya
segera bergegas mengikuti Pak Don pergi ke kampus.
@rumah sakit
Dani, Dhika dan Eva masih
menunggu di ruang inap, kamar Khusus dimana siti sedang terbaring di atas
termpat tidur, Dani masih saja memperhatikan Siti dan berharap gadis itu sadar,
ia sangat khawatir dan ingin sekali melihat mata indah gadisnya itu terbuka.
Sementara Eva dan Dhika tidur di Sofa terpisah.
“Futri… kamu mau kemana Fut?
Jangan pergi please…” pekik Siti melihat Futri yang berjalan meninggalkannya
tanpa menoleh sedikitpun.
“Futri…. Tolong berhenti,
jangan pergi Fut… jika kamu punya masalah jangan menghindar seperti ini.” Pinta
Siti sembari menangis, gadis yang di panggil Futri tidak merespon sama sekali
bahkan untuk menoleh pun ia enggan.
“Futri… mau kemana??”
Gadis yang dipanggil Futri
berbalik, siti berteriak ketakutan saat melihat wajah Futri yang tidak karuan,
wajanhnya penuh darah dengan pipi yang berlubang sebelah kiri dan bola matanya
lepas di kiri,ia benar benar mual melihat itu semua, namun gadis itu tertawa
terbahak bahak,
“dia sudah menjadi milikku,
milikku!!!” jerit seseorang yang tidak di ketahui keberadaannya.
“Futriiiiii…!!!” jetir Siti,
Dani yang masih ada di sampingnya menggengga erat tangan Siti, keringat
mengalir deras dari pelipis gadis yang terbangun secara tiba tiba itu, ia
menangis tersedu sedu, Dani memeluk siti mencoba menanangkan Siti yang masih
saja menangis memanggil manggil Futri.
Sementara itu, dikampus
tepatnya di ruang 12, pak Don dan 4 remaja yang ikut serta bersamanya telah
berada di depan ruang 12 yang masih tertutup rapat.
“nanti… setelah pintu ini
teruka, jangan ada yang pergi dari sini sebelum kita berhasil menenangkan
suasana ini.” Kata pak Don di jawab angguka dari mereka, tibalah pintu dibuka
dan disana memperlihatkan seorang gadis tergeletak dengan luka sayatan
disekujur tubuhnya, gadis itu Futri.
“Futri…” pekik ifdo, disana
ia melihat makhluk yang selama ini ia lihat di ruangan ini, makhluk itu hitam
dan bertenduk 3,dia menyeringai, ifdo yang melihat itu sedikit merinding dan
takut.
“ada kami, jadi tidak perlu
takut.” Bisik santo. Ridwan masih Fokus dengan tubuh Futri yang tak berdaya di
lantai itu, saat ia hendak menghampiri futri pak don malah melarangnya.
“jangan mendekat, karena itu
hanya umpan.”
“tapi iu Futri… dia pasti
sangat kesakitan pak.” Sahut Ridwan merasa kashan dan sedih.
“bapak mohon, kalian tetap
disini, dan jangan melangkah keluar dari ruangan.” Pinta pak Don dengan wajah
serius membuat para remaja itu menjadi sangat tegang, sepertinya akan terjadi
sesuatu yang besar di ruangan ini.
“tolong lepaskan gadis itu,
dia tidak bersalah.” Ujar pak Don, ifdo dan 3 pria yang bersamanya menatap
makhluk tersebut yang sedang melayang di atas Kipas angina.
“kalian ingin gadis ini?
Hahaha… tapi dia sudah menjadi milikku,kalian sudah terlambat. Bagaimana pun
dia harus menjadi milikku.” Jawab makhluk itu, dia menggeram kesal
“milikmu??!! Hei! Dia itu
sahabatku, kembalikan dia pada kami! Apa mau mu huh?!” bentak ifdo dengan
ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar, mahkluk itu menatap ifdo dengan penuh
amarah.
“aku mau kau!!!” kata
makhluk itu, membuat ifdo dan yang lain kaget
“kalau kau mau aku, kenapa
kau mengganggu teman temanku?! Kenapa kau malah membawa Futri?” Tanya ifdo
“apa salah kami?! “ Tanya
Ridwan
“apa salah Ifdo?! Kenapa kau
menginginkannya?!” Tanya Santo ikut bersuara
“karena ruangan ini dikutuk
dan aku harus ada manusia yang menjadi budakku!!” jawab makhluk itu lagi,
“kalau begitu lepaskan Futri
dank au boleh bawa aku.” Tantang Ifdo, Hendra dan santo serta pak Don dan
Ridwan menatap kesal Ifdo.
“jangan bodoh do! Pasti ada
cara lain.” Kesal Santo
“ini demi Futri dan hyung.”
Jawab ifdo lemas,sebenarnya ia takut untuk menyerahkan nyawanya, tapi ini demi
sahabat sahabatnya.
“pak Don, bagaimana ini?
Tolong lakukan sesuatu.” Pinta Hendra
“bapak rasa, hanya ifdo yang
bisa menolong dirinya sendiri, dia bisa melihat makhluk itu dan pasti dia bisa
menyelamatkan dirinya.” Jelas pak Don, namun jawaban itu tidak membuatnya
merasa tenang melainkan malah semakin khawatir
“do, please… jangan gila
deh. Aku… aku tidak akan mengorbankanmu demi makhluk itu.” seru Hendra, ifdo
tidak mendengarkannya. Ifdo berjalan perlahan menghampiri makhluk itu dan mulai
melewati tubuh Futri yang tergeletak di lantai.
“do… jangan, please…” kata Ridwan,
Ifdo terus berjalan dengan deraian air mata karena takut.
“setelah aku mengorbankan
diriku, tolong jangan meminta korban lain, ku mohon…” pinta ifdo
“aku iblis dan aku bukan
budak.” Jawab makhluk itu.
Ifdo terdiam dan melihat
sudut ruangan, disana terdapat sebuah lemari besar dan ia berlari kelemari itu,
makhluk itu menatap ifdo dengan mata merah menyala seperti api, kemudian ifdo
membuka lemari tersebut yang isinya mayat mayat busuk, namun hanya ifdo dan pak
Don yang bisa melihatnya, pak Don menatap ifdo, kemudian berlari menghampiri
ifdo. Ia mencaari korek api di saku celananya,
“hendra… korek api, cepat
cari korek api.” Seru pak Don, hendra bergegas merogoh korek api di saku
celanya dan melemparkan korek itu kearah pak Don, makhluk itu menghampiri
hendra dan mencekiknya, melihat itu santo dan Ridwan tidak tinggal diam dan
segera meolong hendra dari serangan makhluk terkutuk itu. sementara ifdo dan
pak Don, mencari sesuatu yang berhubungan dengan makhluk tadi.
“aaaarrrggg….” Jerit hendra
kesakitan, makhluk itu menggigit leher hendra,
“hendra…” pekik Ridwan yang
bangkit karena makhluk tadi berhasil memukulnya hingga jatuh kelantai, Hendra
menahan sakitnya ia terus berusaha memukul makhluk itu minta untuk dilepaskan,
Santo menarik Hendra namun itu malah memperparah keadaan Hendra,kulit leher hendra sobek hingga sang punya tubuh
itu mengerang kesakitan, wajah dan tubuhnya menjadi membiru.
“pak… bagaimana ini?!” ifdo
menjadi panik, beberapa detik kemudian pak Don berhasil menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan makhluk itu. pak don memegangi sebuah Boneka jenglot ia
meletakan boneka itu dibawah lantai dan membakarnya. Makhluk itu mengerang
kepanasan dan melepaskan hendra, ia terbakar bersama boneka itu.
Pak Don menghela napas lega,
Ifdo berbalik menghampiri Hendra yang tengah sekarat dengan tubuh yang membiru,
wajah yang begitu menahan kesakitan dan leher yang hampir putus, ifdo memeluk
tubuh itu sembari menangis.
“hendra… maafkan aku,
maafkan aku. Please… bertahan.”pinta Ifdo dengan tubuh gemetaran.
“tii tiiidaaakk biiissssa…
aaakkkuuuu seenaaang biisaaa meembaantuumuuu do.” Kara Hendra terbata bata
menahan sakitnya,
“please… bertahan, kami akan
membawamu kerumah sakit, hiks… hiks…” pinta ifdo lagi, santo menggendong tubuh
hendra yang sudah sangat lemas.
“Futri… Futri dimana?!”
pekik Ridwan panik.
“dia pasti sudah di
kembalikan, kita cari di di kost.” Jawab pak Don, ridwan dan pak Don segera berlari keluar dari
ruangan itu mengikuti Santo dan ifdo yang membawanya terlebih dahulu untuk
pergi kerumah sakit.
Ridwan dan pak Don pergi ke
kost tempat dimana Futri dan ifdo serta siti tinggal dan benar saja disana ada
Futri yang tergeletak di lantai dekat sebuah lemari, Ridwan segera menghampiri
Futri dan membangunkannya.
“Fut… Futri bangun, please…”
seru Ridwan sembari menepuk nepuk pipi futri.
“eeengghh…” Futri tersadar
“fut.. syukurlah kamu sudah
sadar.” Kata Ridwan, ia memeluk Futri dengan erat, sepertinya ia tak ingin
kehilangn gadis ini lagi, pak Don yang berada didepan pintu melihat itu dengan
senyuman diwajahnya, ia bernyukur kutukan itu bisa dipatahkan oleh ifdo dan
teman temannya.
“Wan… hyung mana? “ Tanya
Futri khawatir.
“dirumah sakit, siti dan
Ifdo dirumah sakit sekarang. ayooo.” Ajak Ridwan, ie melepaskan pelukannya dan
segera menarik Futri keluar dari kost bersama pak Don dan pergi ke rumah sakit.
Rumah sakit
“Hen… bangun, please… tolong
jangan pergi dulu, aku belum berterima kasih padamu. Hiks… hiks… hendra…” ifdo
terisak melihat tubuh kaku hendra yang hendak dibawa ke kamar mayat.
“maaf mbak, mayat ini harus
dibawa ke kamar mayat.” Kata perawat
“jangan… saya ingin
melihatnya sebentar saja.” pinta ifdo
“ini sudah larut malam mbka,
kami takut akan terjadi apa apa disini.”
“aku bilang nanti!!!” bentak
ifdo membuat kedua pria yang bertstatus sebagai perawat itu dan teman temannya
kaget. Santo mencoba menenangkan ifdo
“hendra… terima kasih dan
aku mohon maaf, semoga kamu tenang disana.” Ujar santo, ifdo menatapnya santo
tersenyum kecil
“hendra… terima kasih, aku
tidak akn pernah melupakan jasa baikmu Hen, terima kasih.” Kata ifdo, kemudia
kedua perawat itu membawa mayat Hendra kekamar mayat, setelah itu Santo membawa
Ifdo keruang Rawat siti, disana sudah ada pak Don, Ridwan dan futri .
“Futri…” panggil ifdo, Futri
menoleh dan tersenyum kemudian memeluk Ifdo sembari menangis.
“hyung… kau baik baik saja
kan?”
“iya aku baik baik saja.”
jawab ifdo sembari melepaskan pelukan Futri.
“hyung… terima kasih.” Kata
Futri lagi
“berterima kasihlah kepada
pak Don dan teman teman kita ini, juga… Hendra…” Ifdo kembali meneteskan air
mata mengingat penderitaan Hendra karena makhluk itu. Futri menghapus air mata
ifdo, ia mengusap bahu sahabatnya.
“iya hyung, terima kasih
untuk pak Don dan kalian semua juga Hendra.”
“hyung… kau baik baik saja
kan?” Tanya ifdo, siti tersenyum
“terima kasih Va, terima
kasih Dhika, Dani, Santo, Pak Don dan Ridwan. Kalian benar benar sangat
membantu.
“iya, kalau begitu bapak
permisi dulu, sudah nangat larut malam, bapak harus kembali ke kampus karena
mala mini bapak yang jaga.” Ujar pak Don, mereka mengangguk keudian pak Don pun
pergi.
“Siti.. semoga cepat
sembuh.” Kata Dani sembari tersenyum, Siti jadi salah tingkah membuat ifdo dan
Futri tertawa geli melihat tingkah sahabat nya yang satu ini.
“ekehm…kan aku yang dibawa
sama tu setan,” celetuk Futri
“haha… aka nada Ridwan.”
Mereka melihat Ridwan membuat orang yang di pandangi itu jad salah tingkah
sendiri.
“yeee… enggah usah gitu juga
kali mandangin aku, aku tahu aku ganteng.” Ridwan narsis. Seketika ia meringis
kecil mendapat jitakan dari Santo.
“biasa aja kali…” seru
Santo, mereka tertawa melihat ulah santo dan Ridwan yang sering ribut enggak
jelas.
Pada akhirnya, keadaan pun
kembali semula, Ifdo, Siti dan Futri kembali bersama. Mereka menjalin
persahabatan bersama Eva, Dhika, Dani, Ridwan dan Santo juga Hendra yang sudah
tenang di alam sana, karena itu juga Ridwan dan Futri semakin dekat, Siti dan
Dani pun jadian, Eva dan Dhika memang sudah jadian dan ifdo… dia masih sendiri
walau dia menyukai Santo tapi ia memilih untuk bersahabat, ia menghargai
perasaan Hendra dan santo padanya.
Setahun kemudian,
“maaa… paaa… ini boneka apa
sih?! Kok enggak jelas banget bentuknya!!” pekik seorang gadis di depan pintu
lemari.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar