Winnie The Pooh Bear Shake Sahabat DISMEN: Misteri Ruang 12 [ Part 5, End ]

Kamis, 21 Mei 2015

Misteri Ruang 12 [ Part 5, End ]

Misteri Ruang 12 [ Part 5, End ]

Author : ifdo                                                                                                             
Main cast :
Khifdotul Hidayah : Ifdo
Santo Surya : Santo
Siti Romlah: Siti
Futri Utami:Futri
Ridwansyah : Ridwan
Hendra Syahputa : Hendra
Auliya Fidiyanti: Auliya
Eva wati : Eva
M. Dani :Dani
Dhika Ramadhan : Dhika
Genre : Horror, Friendship and Romance

Di Rumah sakit
Siti sedang ditangani oleh dokter dan para perawatnya, sedangkan Dani dan santo menungu di depan ruang UGD, mereka tak berhenti berdoa untuk kesembuhan Siti dan Futri semoga segera ditemukan. Tak lama kemudian Ifdo, Ridwan beserta Hendra pun datang.
“bagaimana? Futri ketemu?” Tanya santo
“tidak… kami sudah mencarinya di rumah, dibelakang rumah, tapi tidak ketemu juga. Aku heran deh, si Futri tuc dibawa kemana dan sama siapa?” kata Hendra membuat suasana tegang kembali tegang
“do, kamu enggak lihat orang yang membawa Futri?” Tanya Ridwan
“aku… hanya melihat kedua tangan itu mencengkram Futri dengan kuat, di membawa Futri entah kemana dan aku tidak bisa berbuat apa apa karena hyung sedang di pangkuanku, dia pingsan dengan luka di kepalanya hiks… hiks…” jelas ifdo di ikuti tangingan pilunya mengingat keadaan siti yang entah membaik atau tidak dan Futri yang menghilang tiba tiba di depan matanya.
“sudah… sudah…. Jangan nangis,” hendra menepuk nepuk bahu ifdo, emcoba menenangkan gadis itu.

“siti kenapa?” pekik seorang gadis yang berlari kecil menghampiri kerumunan itu, Ifdo menoleh seketika.
“siti kenapa? Dan bagaimana dengan Futri?” Tanya eva lagi. Ifdo tak menjawab ia malah mnangis lagi.
“apa ini ada hubungannya dengan ruang 12 itu?” celetuk Dhika yang datang bersama Eva.
“bisa jadi, karena kemarin kata pak Don di ruang 12 itu ada penghuni yang selalu meminta tumbal mahasiswa disana.”
“apa???!” ifdo kaget
“kenapa enggak cerita dari kemarin sih?” gerutu ifdo  yang mengkhawatirkan sahabat sahabatnya.
“aku takut kalian ketakutan dan yaaah… begini jadinya.” Bela dhika
“tapi… kalau kami tahu, kami bisa saling menjaga” kata Ifdo menatap Dhika dengan tatapan kesalnya.
“udahlah… sekrang kita harus gimana nih? Futri sama sekali enggak ada kabar. Sedangkan waktu terus berjalan, malam semakin larut.” Kata Dani.
“kita harus minta bantuan Pak don, mungkin saja dia tahu penyelesaian ini, aku tidak ingin Futri menghilang.” Kata Ridwan
“iya iya… aku tau maksud kamu.” Sahut Hendra, Ridwan menatapnya sebal
“siapa yang mau nemenin aku ke rumah pak Don?” Tanya Ifdo
“aku mau ikut, aku mau cari Futri lagi.” Kata Ridwan, Hendra dan santo ikut bersama ifdo, sementara Eva, Dhika dan Dani menunggu Siti dirumah sakit
Di rumah Pak Don,
“pak tolong sahabat sahabat saya pak, please…” ifdo memohon dengan wajah memelasnya, air matanya metes lagi, hendra yang melihat ifdo menangis lagi merasa iba begitu juga dengan Ridwan dan Santo.
“iya pak, Futri teman kami dan sekarang siti sedang dirawat dirumah sakit. “ timpal Ridwan
“saya tidak tahu, apakah saya bisa menolong kalian atau tidak.”
“kenapa begitu pak? Kalau bapak mau nolong pasti bisa pak.” Kata Santo antusias
“makhluk ingin tumbal, setiap tahunya pasti ada dan belum pernah ada yang berhasil selamat.” Jelas pak Don, membuat mereka semakin ketakutan terutama Ifdo
“kalau gitu tukar dengan saya aja pak, “ kata Ifdo dengan yakinnya, Hendra, Santo dan Ridwan menatap gadis itu secara bersamaan.
“Ifdo… ini tidak main main, bukan permainan yang bisa di lakukan dengan mudah dan sembarangan, ini masalah nyawa Ifdo.” Kata pak Don yang sedikit sebal dengan ifdo
“pak, karena ini menyangkut nyawa sahabat sahabat saya pak. Kalau pun harus ada korban, saya bersedia.” Jawab ifdo lagi, matanya berbinar meminta pertolongan dari pak Don.
“do… jangan jadi gadis bodoh seperti ini. Jangan berpikir seperti itu.” hardik Hendra yang tidak suka dengan sikap Ifdo yang keras kepala ini.
“lalu harus bagaimana? Kamu mau bantu aku atau tidak?” Tanya Ifdo, Hendra menatapnya lekat lekat
“aku akan membantumu, aku akan selalu ada disaat kamu butuh tapi tidak untuk jatuh bersamamu, karena aku… aku bukan cowok bodoh, aku akan menyelamatkan kamu dan teman temanmu bagaimana pun caranya.” Jelas Hendra penuh keyakinan, Santo mendekhem..
“yakin banget???” celetuk Santo
“apaan sih santo, bukan saatnya kamu kayak gini.” Kata Ridwan, Hendra hanya diam melihat itu.
“ya sudah… sekarang kita ke kampus, kita keruang 12 malam ini juga sebelum fajar, karena jika terbit fajar Futri tidak akan di temukan lagi.” Jelas pak Don, Ifdo dan teman temannya segera bergegas mengikuti Pak Don pergi ke kampus.
@rumah sakit
Dani, Dhika dan Eva masih menunggu di ruang inap, kamar Khusus dimana siti sedang terbaring di atas termpat tidur, Dani masih saja memperhatikan Siti dan berharap gadis itu sadar, ia sangat khawatir dan ingin sekali melihat mata indah gadisnya itu terbuka. Sementara Eva dan Dhika tidur di Sofa terpisah.
“Futri… kamu mau kemana Fut? Jangan pergi please…” pekik Siti melihat Futri yang berjalan meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.
“Futri…. Tolong berhenti, jangan pergi Fut… jika kamu punya masalah jangan menghindar seperti ini.” Pinta Siti sembari menangis, gadis yang di panggil Futri tidak merespon sama sekali bahkan untuk menoleh pun ia enggan.
“Futri… mau kemana??”
Gadis yang dipanggil Futri berbalik, siti berteriak ketakutan saat melihat wajah Futri yang tidak karuan, wajanhnya penuh darah dengan pipi yang berlubang sebelah kiri dan bola matanya lepas di kiri,ia benar benar mual melihat itu semua, namun gadis itu tertawa terbahak bahak,
“dia sudah menjadi milikku, milikku!!!” jerit seseorang yang tidak di ketahui keberadaannya.
“Futriiiiii…!!!” jetir Siti, Dani yang masih ada di sampingnya menggengga erat tangan Siti, keringat mengalir deras dari pelipis gadis yang terbangun secara tiba tiba itu, ia menangis tersedu sedu, Dani memeluk siti mencoba menanangkan Siti yang masih saja menangis memanggil manggil Futri.
Sementara itu, dikampus tepatnya di ruang 12, pak Don dan 4 remaja yang ikut serta bersamanya telah berada di depan ruang 12 yang masih tertutup rapat.
“nanti… setelah pintu ini teruka, jangan ada yang pergi dari sini sebelum kita berhasil menenangkan suasana ini.” Kata pak Don di jawab angguka dari mereka, tibalah pintu dibuka dan disana memperlihatkan seorang gadis tergeletak dengan luka sayatan disekujur tubuhnya, gadis itu Futri.
“Futri…” pekik ifdo, disana ia melihat makhluk yang selama ini ia lihat di ruangan ini, makhluk itu hitam dan bertenduk 3,dia menyeringai, ifdo yang melihat itu sedikit merinding dan takut.
“ada kami, jadi tidak perlu takut.” Bisik santo. Ridwan masih Fokus dengan tubuh Futri yang tak berdaya di lantai itu, saat ia hendak menghampiri futri pak don malah melarangnya.
“jangan mendekat, karena itu hanya umpan.”
“tapi iu Futri… dia pasti sangat kesakitan pak.” Sahut Ridwan merasa kashan dan sedih.
“bapak mohon, kalian tetap disini, dan jangan melangkah keluar dari ruangan.” Pinta pak Don dengan wajah serius membuat para remaja itu menjadi sangat tegang, sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar di ruangan ini.
“tolong lepaskan gadis itu, dia tidak bersalah.” Ujar pak Don, ifdo dan 3 pria yang bersamanya menatap makhluk tersebut yang sedang melayang di atas Kipas angina.
“kalian ingin gadis ini? Hahaha… tapi dia sudah menjadi milikku,kalian sudah terlambat. Bagaimana pun dia harus menjadi milikku.” Jawab makhluk itu, dia menggeram kesal
“milikmu??!! Hei! Dia itu sahabatku, kembalikan dia pada kami! Apa mau mu huh?!” bentak ifdo dengan ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar, mahkluk itu menatap ifdo dengan penuh amarah.
“aku mau kau!!!” kata makhluk itu, membuat ifdo dan yang lain kaget
“kalau kau mau aku, kenapa kau mengganggu teman temanku?! Kenapa kau malah membawa Futri?” Tanya ifdo
“apa salah kami?! “ Tanya Ridwan
“apa salah Ifdo?! Kenapa kau menginginkannya?!” Tanya Santo ikut bersuara
“karena ruangan ini dikutuk dan aku harus ada manusia yang menjadi budakku!!” jawab makhluk itu lagi,
“kalau begitu lepaskan Futri dank au boleh bawa aku.” Tantang Ifdo, Hendra dan santo serta pak Don dan Ridwan menatap kesal Ifdo.
“jangan bodoh do! Pasti ada cara lain.” Kesal Santo
“ini demi Futri dan hyung.” Jawab ifdo lemas,sebenarnya ia takut untuk menyerahkan nyawanya, tapi ini demi sahabat sahabatnya.
“pak Don, bagaimana ini? Tolong lakukan sesuatu.” Pinta Hendra
“bapak rasa, hanya ifdo yang bisa menolong dirinya sendiri, dia bisa melihat makhluk itu dan pasti dia bisa menyelamatkan dirinya.” Jelas pak Don, namun jawaban itu tidak membuatnya merasa tenang melainkan malah semakin khawatir
“do, please… jangan gila deh. Aku… aku tidak akan mengorbankanmu demi makhluk itu.” seru Hendra, ifdo tidak mendengarkannya. Ifdo berjalan perlahan menghampiri makhluk itu dan mulai melewati tubuh Futri yang tergeletak di lantai.
“do… jangan, please…” kata Ridwan, Ifdo terus berjalan dengan deraian air mata karena takut.
“setelah aku mengorbankan diriku, tolong jangan meminta korban lain, ku mohon…” pinta ifdo
“aku iblis dan aku bukan budak.” Jawab makhluk itu.
Ifdo terdiam dan melihat sudut ruangan, disana terdapat sebuah lemari besar dan ia berlari kelemari itu, makhluk itu menatap ifdo dengan mata merah menyala seperti api, kemudian ifdo membuka lemari tersebut yang isinya mayat mayat busuk, namun hanya ifdo dan pak Don yang bisa melihatnya, pak Don menatap ifdo, kemudian berlari menghampiri ifdo. Ia mencaari korek api di saku celananya,
“hendra… korek api, cepat cari korek api.” Seru pak Don, hendra bergegas merogoh korek api di saku celanya dan melemparkan korek itu kearah pak Don, makhluk itu menghampiri hendra dan mencekiknya, melihat itu santo dan Ridwan tidak tinggal diam dan segera meolong hendra dari serangan makhluk terkutuk itu. sementara ifdo dan pak Don, mencari sesuatu yang berhubungan dengan makhluk tadi.

“aaaarrrggg….” Jerit hendra kesakitan, makhluk itu menggigit leher hendra,
“hendra…” pekik Ridwan yang bangkit karena makhluk tadi berhasil memukulnya hingga jatuh kelantai, Hendra menahan sakitnya ia terus berusaha memukul makhluk itu minta untuk dilepaskan, Santo menarik Hendra namun itu malah memperparah keadaan Hendra,kulit  leher hendra sobek hingga sang punya tubuh itu mengerang kesakitan, wajah dan tubuhnya menjadi membiru.
“pak… bagaimana ini?!” ifdo menjadi panik, beberapa detik kemudian pak Don berhasil menemukan sesuatu yang berhubungan dengan makhluk itu. pak don memegangi sebuah Boneka jenglot ia meletakan boneka itu dibawah lantai dan membakarnya. Makhluk itu mengerang kepanasan dan melepaskan hendra, ia terbakar bersama boneka itu.
Pak Don menghela napas lega, Ifdo berbalik menghampiri Hendra yang tengah sekarat dengan tubuh yang membiru, wajah yang begitu menahan kesakitan dan leher yang hampir putus, ifdo memeluk tubuh itu sembari menangis.
“hendra… maafkan aku, maafkan aku. Please… bertahan.”pinta Ifdo dengan tubuh gemetaran.
“tii tiiidaaakk biiissssa… aaakkkuuuu seenaaang biisaaa meembaantuumuuu do.” Kara Hendra terbata bata menahan sakitnya,
“please… bertahan, kami akan membawamu kerumah sakit, hiks… hiks…” pinta ifdo lagi, santo menggendong tubuh hendra yang sudah sangat lemas.
“Futri… Futri dimana?!” pekik Ridwan panik.
“dia pasti sudah di kembalikan, kita cari di di kost.” Jawab pak Don,  ridwan dan pak Don segera berlari keluar dari ruangan itu mengikuti Santo dan ifdo yang membawanya terlebih dahulu untuk pergi kerumah sakit.
Ridwan dan pak Don pergi ke kost tempat dimana Futri dan ifdo serta siti tinggal dan benar saja disana ada Futri yang tergeletak di lantai dekat sebuah lemari, Ridwan segera menghampiri Futri dan membangunkannya.
“Fut… Futri bangun, please…” seru Ridwan sembari menepuk nepuk pipi futri.
“eeengghh…” Futri tersadar
“fut.. syukurlah kamu sudah sadar.” Kata Ridwan, ia memeluk Futri dengan erat, sepertinya ia tak ingin kehilangn gadis ini lagi, pak Don yang berada didepan pintu melihat itu dengan senyuman diwajahnya, ia bernyukur kutukan itu bisa dipatahkan oleh ifdo dan teman temannya.
“Wan… hyung mana? “ Tanya Futri khawatir.
“dirumah sakit, siti dan Ifdo dirumah sakit sekarang. ayooo.” Ajak Ridwan, ie melepaskan pelukannya dan segera menarik Futri keluar dari kost bersama pak Don dan pergi ke rumah sakit.
Rumah sakit
“Hen… bangun, please… tolong jangan pergi dulu, aku belum berterima kasih padamu. Hiks… hiks… hendra…” ifdo terisak melihat tubuh kaku hendra yang hendak dibawa ke kamar mayat.
“maaf mbak, mayat ini harus dibawa ke kamar mayat.” Kata perawat
“jangan… saya ingin melihatnya sebentar saja.” pinta ifdo
“ini sudah larut malam mbka, kami takut akan terjadi apa apa disini.”
“aku bilang nanti!!!” bentak ifdo membuat kedua pria yang bertstatus sebagai perawat itu dan teman temannya kaget. Santo mencoba menenangkan ifdo
“hendra… terima kasih dan aku mohon maaf, semoga kamu tenang disana.” Ujar santo, ifdo menatapnya santo tersenyum kecil
“hendra… terima kasih, aku tidak akn pernah melupakan jasa baikmu Hen, terima kasih.” Kata ifdo, kemudia kedua perawat itu membawa mayat Hendra kekamar mayat, setelah itu Santo membawa Ifdo keruang Rawat siti, disana sudah ada pak Don, Ridwan dan futri .
“Futri…” panggil ifdo, Futri menoleh dan tersenyum kemudian memeluk Ifdo sembari menangis.
“hyung… kau baik baik saja kan?”
“iya aku baik baik saja.” jawab ifdo sembari melepaskan pelukan Futri.
“hyung… terima kasih.” Kata Futri lagi
“berterima kasihlah kepada pak Don dan teman teman kita ini, juga… Hendra…” Ifdo kembali meneteskan air mata mengingat penderitaan Hendra karena makhluk itu. Futri menghapus air mata ifdo, ia mengusap bahu sahabatnya.
“iya hyung, terima kasih untuk pak Don dan kalian semua juga Hendra.”
“hyung… kau baik baik saja kan?” Tanya ifdo, siti tersenyum
“terima kasih Va, terima kasih Dhika, Dani, Santo, Pak Don dan Ridwan. Kalian benar benar sangat membantu.
“iya, kalau begitu bapak permisi dulu, sudah nangat larut malam, bapak harus kembali ke kampus karena mala mini bapak yang jaga.” Ujar pak Don, mereka mengangguk keudian pak Don pun pergi.
“Siti.. semoga cepat sembuh.” Kata Dani sembari tersenyum, Siti jadi salah tingkah membuat ifdo dan Futri tertawa geli melihat tingkah sahabat nya yang satu ini.
“ekehm…kan aku yang dibawa sama tu setan,” celetuk Futri
“haha… aka nada Ridwan.” Mereka melihat Ridwan membuat orang yang di pandangi itu jad salah tingkah sendiri.
“yeee… enggah usah gitu juga kali mandangin aku, aku tahu aku ganteng.” Ridwan narsis. Seketika ia meringis kecil mendapat jitakan dari Santo.
“biasa aja kali…” seru Santo, mereka tertawa melihat ulah santo dan Ridwan yang sering ribut enggak jelas.
Pada akhirnya, keadaan pun kembali semula, Ifdo, Siti dan Futri kembali bersama. Mereka menjalin persahabatan bersama Eva, Dhika, Dani, Ridwan dan Santo juga Hendra yang sudah tenang di alam sana, karena itu juga Ridwan dan Futri semakin dekat, Siti dan Dani pun jadian, Eva dan Dhika memang sudah jadian dan ifdo… dia masih sendiri walau dia menyukai Santo tapi ia memilih untuk bersahabat, ia menghargai perasaan Hendra dan santo padanya.
Setahun kemudian,
“maaa… paaa… ini boneka apa sih?! Kok enggak jelas banget bentuknya!!” pekik seorang gadis di depan pintu lemari.

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Winnie The Pooh Bear Shake